SEJUTA CERITA DARI RUMAH KARYA SEDERHANA (PART 1)


“Aku merindukan hal yang dulu dianggap sederhana, tapi kini menjadi sesuatu yang istimewa.”

Sore itu, hari Jumat (07/01), pukul 16.00 WIB adalah hari terakhir ujian akhir semester. Ah, rasanya hari ini sungguh melelahkan. Entahlah apa penyebabnya. Sebenarnya hanya dua matakuliah saja dan sedikit mengurusi ini-itu. Namun, agaknya tulang ini terasa remuk. Mungkinkah karena aku belum makan siang, atau karena hari ini—ada beberapa hal yang aku sesali.

“Huft, ingin sekali membentak waktu. Rasanya ini tidak adil. Ah, sudahlah. Tidak semestinya aku membahasnya itu lagi, hanya akan menghabiskan energiku saja.”

Dengan langkah gontai, sepasang kakiku meringsut seperti engsel pintu yang telah usang. Sementara, kepala ini terasa seperti batu yang ditikam palu besi. Rasanya menciut-ciut seperti ranting yang hendak lepas dari batang yang kokoh. Tapi seketika, aku terkesima dengan seberkas cahaya yang menembus awan kelabu. Sungguh menakjubkan, seperti ada pesawat ruang angkasa yang turun ke bumi. (Lagi-lagi aku berpikir yang aneh-aneh, mustahil). Kendati sore itu sangat melelahkan, tapi aku menikmati sebuah lukisan alam yang menentramkan.

“Sampai kapan pun, aku akan terus menjadi pengagum sore, senja, bintang, dan pelangi. Bagiku, mereka adalah keindahan yang luar biasa yang dibentangkan Tuhan untuk bisa dinikmati siapa pun,” lirihku dalam hati.

Aku pun berjalan menapaki trotoar yang berwarna hitam dan kuning. Saat itu, suasana kampus sepi sembari memandangi langit sore yang dikawal pasukan burung layang-layang yan beranjak pulang ke sangkarnya. Di sekelilingku, kulihat ada penadah tua masih saja duduk di pinggir jalan seperti pagi tadi, berharap ada yang meronggok receh rupiah untuk mereka. Namun sayang, sore itu sepertinya manusia telah berlalu meninggalkan hiruk pikuk aktivitas yang menegangkan otot syaraf. Angin sore yang tidak bersahabat tidak henti-hentinya mengusap paksa tubuh kurus dan keriput itu. Sungguh menyedihkan.

Langkahku terhenti.

Aku tatap nanar sebuah bangunan di ujung kanan sisiku. Ah, itu rumah karya sederhana yang menyimpan sejuta cerita. Tiga tahun sudah aku lalu-lalang memasukinya. Aku pikir itu bukan waktu yang sebentar, tapi bukan juga waktu yang lama untuk merekonstruksi mimpi-mimpi yang hebat. Sebenarnya, ada hal masih menyesakkan dada. Yaitu ketika aku harus menerima kenyataan, bahwa rumah karya sederhana itu tidak akan intens lagi aku kunjungi. Tidak seperti waktu dulu, menghabiskan sore-sore indah dengan rutinitas rapat, bercengkrama dengan sahabat, menciptakan bualan-bualan baru dan gurih, dan hal yang paling kugemari adalah, mencoba menerka apa yang dipikirkan orang-orang di sana. Haha, rasanya masih banyak hal-hal yang menyenangkan yang mungkin suatu saat sangat aku rindukan.

Di rumah karya sederhana itu, telah banyak orang-orang yang bermetamorfosis menjadi manusia baru. Ada banyak hikmah yang harus pandai-pandai dipetik dengan tidak mudah memetik di sana. Harus dipilah-pilah, jika tidak—yang keluar dari sana hanyalah orang-orang dengan jiwa hampa, seperti zombi yang sudah menghisap darah segar, tapi tetap kaku dan dingin. Aku tidak mengatakan aku telah menjadi kupu-kupu yang sempurna, tidak sama sekali. Tapi, selama tiga tahun hibernasi di sana, aku merasa menjadi manusia baru dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena sampai kapan pun, aku dan kita semua tidak pernah benar-benar menjadi manusia seutuhnya. Begitulah pandanganku tentang konsepsi manusia.

Sore semakin merangkak menuju senja. Kampus telah sepi, tidak ada orang sama sekali. Aku pun berjalan ke pinggir danau, dekat rumah karya sederhana itu. Melirik dedaunan yang menari-nari, menyimak dengan khidmat desiran angin yang bernyanyi sayu, dan memandang kilauan air danau takberiak yang menyibak lembayung senja.

“Aku hendak mendendangkan syair yang tidak puitis dan romantis ini padamu. Tentang nada indah yang mengalun sunyi dan menyayat ketidakmengertian.”

(bersambung…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s