Bersahabat dengan Waktu; sebuah catatan di awal tahun.


turn off time, sumber: google

SELAMAT DATANG TAHUN 2011

Amazing!! sekarang jam di laptop Cahyo sudah menunjukkan pukul 0:01 WIB. Yeah, saya begadang satu tahun lamanya. Haha, dari tahun 2010 ke tahun 2011. Tentu waktu yang lama bukan? (haha, garing sekali. Padahal cuma beda beberapa jam saja). Well, selamat datang tahun yang baru—tahun 2011 yang akan mengisi banyak cerita kebaikan. Amiin.

Duarrrrrrr, duarrrrrr! Saya kaget, sejenak saya hentikan mp3 yang dari tadi menemani saya melakukan pekerjaan iseng-iseng. Hoho, beres mengerjakan tugas UAS, terus ngedit beberapa foto untuk diunggah di facebook. Hehe, saya senang melakukan hal itu.

Ups lupa, saya pun kemudian bergegas membuka pintu kontrakan—di ruang tengah, ada Ali dan Sugih telah terlelap. Entahlah, apa yang sedang mereka kerjakan di alam mimpi sana. Sementara yang lainnya; Dea, Syihab, Detto, dan Yandri juga sudah berada di dimensi dan ruang yang sulit ditembus oleh waktu. Kalau saya begadang setahun, mereka tidur setahun. Haha😀

“Yah, hanya mendengar bunyi kembang api saja. Mana kembang apinya? Tidak terlihat sama sekali. Huh, saya balik ke kamar saja untuk menulis,” gumam saya dalam hati.

Ok, sekarang kita bicara tahun baru!
Tahun ini adalah tahun ke-4 saya tahun baru di sini. Tahun pertama di kostan, menulis refleksi tahun 2007. Tahun 2008 juga di kostan (Mm, ngapain ya? Lupa). Tahun 2009 juga. Tahun 2010 saya di rumah Luthfan bersama K Opik dan K Mei bermain play station selepas bersilaturahim di rumah teh Ira. Tapi saya tidak ikut main PS kok! Cuma tidur, huaaaaaa…

“dugh, tahun baru mesti kemana ya? Ngapain ya? Ah, sial! Tahun baru ga kemana2?”

Nah, kira-kira begitu celetukan teman-teman saya yang tergopoh-gopoh menyambut tahun baru. Kalau saya? Mm, rencananya malam pergantian tahun baru ini mau mabit (a.k.a malam bina iman dan taqwa atau malam bina tidur, hehe) sama Dea di Masjid Daruut Tauhid, Geger Kalong Bandung. Siapa tahu yang jadi pembicara tabligh di sana Aa Gym. “Udah lama ga ke sana. Mudah-mudahan dapat charge.”
Tapi akhirnya rencana mulia itu gagal! Pada akhirnya, genk Al-Ikhwan pun mengisi pergantian tahun dengan makan malam di Food Court, Jatos. Ramai sekali di sana. Tapi enjoy it!

Ups, ceritanya keluar konteks ya? Baiklah, kembali ke jalan yang lurus. Intinya, pada malam ini saya tidak ingin tidur. Walaupun mata ini daritadi sudah memaksa untuk diketupkan. Tapi hati ini menolak, katanya “Lakukanlah kebaikan malam ini, muhasabahlah pada Tuhanmu.”
Teramat dalam pesan yang disampaikan hati ini kepada akal. Sehingga rasionalisasi pun jadi terbantahkan dengan perasaan yang dalam. Heu, rasanya bahasa saya jadi kaku karena mengguna pronomina persona—saya—huh lebih baik diganti dengan persona—aku saja.

Bercermin pada tahun 2010

friendship with the time

Teman, entah mengapa tiba-tiba saja malam ini perasaanku menjadi melankolis. Padahal, baru beberapa detik aku merasa menjadi sanguinis. Namun, dengan begitu mudahnya berganti. Seolah tidak bisa berkompromi dengan pemilik perasaan itu, yaitu aku. Baiklah, tidak apa. Mungkin memang sebaiknya seperti ini rasa dalam hati ini. Ah, apakah ini berarti aku cengeng. Dengan mudahnya terenyuh apabila memikirkan suatu hal—tentang suatu episode yang beberapa waktu lalu aku lewati—apalagi lagu memory (Original Soundtrack Winter Sonata) membuat suasana malam ini teramat renyuh, tetapi menentramkan.

Malam, akankah aku selalu menjadi orang yang menyesal setiap detik? Hingga kapan aku harus seperti ini? Menjadi seorang pecundang yang tidak bisa berkompromi dengan waktu. Padahal, aku telah paham—detik yang telah berlalu adalah hal yang paling berharga dalam hidupku. Namun sayang, kepahamanku tentang konsepsi detik tidak mengintegrasi dalam jiwaku. Sehingga hanya sebatas pengetahuan semu.

Aku tidak dapat menahan waktu yang telah berlalu. Memaksanya dengan sihir yang jahat untuk berjalan mundur. Tidak, itu hal yang konyol dan tidak masuk akal. Sudah berapa kali aku membaca surah tentang waktu di dalam shalatku? Kupikir terlalu sering. Surat Al-Ashr 1—3 yang berbunyi, “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” Lagi-lagi, aku hanya memahami sebatas teksnya saja. Tidak memahami sungguh-sungguh secara mendalam bagaimana pesan cinta dari Maha Rahman untuk manusia. Seharusnya aku malu, sebagai manusia—yang berakal tapi kejahiliyahanku agaknya lebih besar daripada rasa malu ini.

“Ya Rabb, ampunin aku ya Rabb.”

TAHUN 2010, telah banyak adegan yang telah aku lakoni. Mulai menjadi anak yang baik yang begitu bersemangat menebar kebaikan hingga peran antagonis yang sangat keterlaluan. Awalnya aku berkeyakinan mampu menjadi sosok yang baik dalam drama kehidupan ini. Namun, seiring berganti-gantinya episode, aku pun tergerus pada tokoh yang memakai topeng. Kadang aku berusaha memakai topeng yang teramat bagus. Dihias oleh seniman ulung dari Eropa. Namun, kadang aku sendiri yang menghias dengan tangan kehinaan. Ah, sungguh memalukan. Rabb, satu pintaku yang belum terwujud hingga detik ini adalah, aku ingin menjadi orang baik. Tapi susah sekali mewujudkannya. Aku tahu ini bukan karena siapa-siapa. Hanya saja aku yang tidak sungguh-sungguh menjadi orang baik.

Dalam drama 2010 kemaren, tidak semua episode yang aku ingat. Beberapa cuplikan saja. Ada cuplikan yang mengundang tawa, mengulum senyum, dan mendecak kagum. Ada juga cuplikan yang membuat marah, kesal, dan ingin berteriak, “Ini tidak adil!” Dari sekian cuplikan tersebut, ada cuplikan yang sangat kusesali terus menggelantung di benakku. Seakan tidak mau enyah dan hilang dari memoriku.

Pada bayangan itu, aku temukan diri ini tengah dilumuri lumpur dosa. Mulai dari dosa pikiran, mata, telinga, hidung, tangan, kaki, hati, dan dosa seluruh anggota tubuhku. Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk keluar dari lumpur itu. Namun susah sekali. Sepertinya, tarikannya cukup kuat. “Tidak, aku harus berusaha keras untuk keluar dari lumpur hina. Aku tidak ingin tenggelam hingga kemudian meringsut—bercampur menjadi lumpur.

Akhirnya, aku pun terlepas dari cengkraman lumpur itu. Di ujung gurun sana—aku lihat oase menganga. Memancarkan kilauan air suci yang mampu membasahi kerongkongan yang dari tadi kering. Aku pun berlari sangat kencang. Kuteguk air oase itu sejadi-jadinya. Setelah cukup membuat kembung perut, aku pun membersihkan tubuh yang dilumuri lumpur dosa dengan tanganku. Sayang, bekas lumpur ini tidak hilang sepenuhnya. Masih saja ada bekas bercak di sana-sini. Membuatku geram dan jengkel.

“aku membutuhkan gayung.” Agar air yang kuambil dari oase ini banyak dan bisa membuyur seluruh tubuhku.” Tapi mana? Aku tidak melihatnya. Aku pun terus mencari-cari hingga detik 2011 ini. Namun, belum kutemukan. Sayang sekali.”

Ya, itulah cuplikan yang aku benci dalam hidupku. Betapa banyak detik yang telah terlewat dalam hidupku yang tidak aku optimalkan dengan sebaik-baiknya. Aku harus berubah. Tidak bisa terus-terusan dibayangi dengan ketakutan dan penyesalan cuplikan episode itu.

“Ya Rabb, di malam yang sunyi, tenang, damai, tentram, kelam, dan melankolis ini aku kembali mengeluh pada-Mu. Atas ketidakberdayaanku sebagai manusia yang tidak tahu terima kasih. Aku ingin menjadi baik, baik, baik. Berilah keberkahan dalam hidupku ya Allah. Sampai akhir kata menutup mata. Banyak impian yang ingin kuraih. Aku ingin menjadi mulia di hadapan-Mu ya Allah. Menjadi hamba yang sadar betul bagaimana itu penghambaan. Terus berbenah menjadi lebih baik. Tidak kenal lelah, dan terus berjuang untuk mendapatkan kebaikan-Mu.”
“Teruntukmu 2010, terimakasih karena telah memberikanku banyak cerita yang menjadi pembelajaran luar biasa untukku. Terima kasih teman-teman, sahabat, orang tua, kampus, semua yang mengenalku; terima kasih senja, pelangi, langit, bulan, bintang, matahari; terima kasih atas nama cinta untuk Maha Cinta.

Salam Hangat,
Yang tidak pernah lelah.
Al-ikhwan, pukul 1: 22 WIB :O

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s