Kotaku; Mengeja Jaman, Menjejal Harapan


Oleh: Mahfud Achyar 

Kotaku adalah ruang dan dimensi yang sesekali sangat kurindukan. Bahkan tanpa izin, kantung air matapun lambat laun tumpah. Memungut beberapa episode cinta yang pernah direkam dan simpan dalam chip memori keabadian. Kadang perasaan agung begitu mengaharu biru. Kadang perasaan jemu bersemayam dalam qalbu. Dan takjarang perasaan ingin melupakan lebih mendominasi, menguasai relung hati.

Kotaku adalah sepanjang pesisir pantai yang tersimpan mahakarya ciptaan Ilahi yang memesona. Menjulang tinggi lembayung merona dalam dekapan pesona. Di sana, ada petani siang-malam bersemangat menggarap harapan di tanah subur, meskipun hanya secuil. Atau para pegawai sipil yang pagi buta telah berbenah diri menyiapkan materi guna keperfeksionisan.

Tapi kini kotaku hanyalah hamparan hutan yang suram, membentang sawah yang kelam, dan bibir pantai yang menjadi seram. Detik menjadi angkara murka bagi kotaku. Kegelisahan, ketakutan, kengerian adalah hantu-hantu yang berkuasa. Kotaku telah ditinggalkan investor asing, penduduk asli, dan pendatangpun enggan menetap atau sekadar berkunjung. Petani dan sipil kerap ditakuti dengan sihir pesan singkat dari pemerintah dan tukang kaleng tentang kematian. Kotaku seperti tidak berTuhan. Gagap dalam keimanan, taklagi mengerti bagaimana kuasa Tuhan dalam semesta alam.

Kotaku adalah tempat kehidupan, kasih sayang, kebencian, kekhawatiran, kesunyian, kebisingan, permusuhan, kemunafikan, keserakahan, ketaatan, primitif, dan kerumitan. Kemarin semuanya telah kucatat pada sebuah kertas kuning yang usang. Aku pun takkuasa menaha tawa, menyimpul senyum, dan tertegun dalam rasa suram.

Kotaku menyimpan sejuta harapan dalam kotak ketidakpastian. Menjelma menjadi buih yang hilang saat hempasan gelombang. Merangkak karena tuntutan peran dan semakin lama meringsut mengubah ketidakberdayaan.

Kotaku belum sempat disihir menjadi kota yang megah. Dihiasi lelampu jalanan yang terbentang dari utara hingga selatan. Belum ada gapura besar selamat datang. Pun juga monorel yang tangguh dan canggih. Kotaku masih sangat belia. Seingatku baru 9 tahun sejak masa di atas keingintahuan.Belum sempat bersolek, perlengkapan kosmetik kotaku sudah rusak.

Yang bisa kupandangi sekarang hanya bangunan tua yang telah runtuh karena usia. Tidak cukup kuat dan perkasa ketika seismic mengguncang. Jangankan yang sudah tua, yang masih muda dan kuatpun dibuat lumpuh olehnya.

Satu tahun belum cukup membuat kotaku berbenah. Masih amburadul seperti 2009 lalu. Ada orang yang terpaksa senang menghabiskan hari di gubuk pemberian sang derma. Ada orang yang masih optimis; mengumpulkan puing-puing sisa yang tua dan muda untuk dijadikan kembali tempat berteduh.

Miris dan prihatin.

Tidak ada yang salah dengan semua ini. Sudah menjadi suratan pada buku yang Kuasa. Kata lelaki tua yang bijak, akan selalu ada hikmah di balik peristiwa. Syukur, itu terpenting.

Kotaku, begitu kaku karena sistem budaya yang rumit. Segala sesuatu selalu dibenturkan dengan adat. Kata mereka, tidak boleh ini-itu. Nanti dibilang takberadat. Aku taksuka dengan aturan macam itu. Kukatakan pada mereka bahwa sistem; dibuat manusia untuk mempermudah aktivitas, bukan mempersulit. Ingat hai kotaku, aturan yang utama adalah aturan dari Hakim semesta.

Kotaku, bagaimanapun juga kotaku. Di sana, ada banyak asa yang mengangkasa. Aku ingin kau tetap bermakna dalam hatiku yang merasa.

Lima hari, kuselami kembali lautan biru dan hijau di kotaku.

Tuhan, kutitip kotaku pada-Mu. Agar tetap menyimpan sejuta damai dalam kebersahajaan cinta.

Kotaku, mungkin hanya itu pendapatku untukmu.

Jatinangor, 6 Desember 2010.

 

2 thoughts on “Kotaku; Mengeja Jaman, Menjejal Harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s