Konser Sore di Jejalanan Kota


sumber:  google

Sore ini jejalanan kota ditetesi hujan; sspal dan tanah pun, tempat kendaraan bertapak jadi tidak kering lagi seperti siang tadi.Kini yang ada hanya paduan suara nan penuh harmonisasi. Langit bertugas meniup terompet bernada tinggi. Sementara air, dari tadi tampak asyik memetik gitar, dan manusia-karena takbisa memainkan alat musik hanya bisa mengambil peran sebagai paduan suara.

Konser sore ini diterangi lelampu pijar dari si katak berkaki empat. Pertunjukan ini digelar di kaki keserasian. Ada dedaunan hanya bisa menonton. Sekali mereka menari tanpa sadar tubuh hijau, kering, kuning, layu, dan hitam mereka pun basah.

Ada yang menari jaipongan, ada juga yang menari balet. Di depan panggung sana, kulihat ada satu wajah yang tampak heran. Menengadah ke muka langit, menyaksikan konser agung.

Ah sial, langit sepertinya sudah kecapaian. Dia pun memutuskan untuk tidak memainkan terompet lagi, air pun meninggalkan alat musik petik itu, dan manusia kembali kepada kebisuan seperti siang tadi.

Hanya dedaun yang setia, menjadi penonton hingga benar-benar konser sore ini telah usai. Dan wajah tadi, tampak sumringah. Tidak lagi menengadah; yang ada hanya guratan senyuman kepuasan.

Jejelan kota, konser sore ini sangat singkat. Tapi begitu semarak.

Bandung, 17 Oktober 2010
11 Zulhijjah, 1431 H (Idul Adha)

2 thoughts on “Konser Sore di Jejalanan Kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s