dimensi, sebuah sajak lama


Mengingat kembali sebuah puisi yang pernah kutulis semasa SMA, dan dimuat di salah satu koran harian di Sumatera Barat.

Sebuah puisi sederhana, dari seorang siswa yang memiliki antusias dan rasa ingin tahu yang amat besar saat itu.

Dimensi, sebuah sajak.

Denting jam berbunyi,
Tik.Pertanda detik demi detik berganti;
Malam ini membuatku terjaga dalam susuran arus lamunan.
Pikir terus menerawang, menjangkau waktu;
Bergulir bersama bisikan kelam malam.
Angin, embun, dan kesendirian adalah dimensi yang kutelusuri.
Tapi, ada angka berkata pada jiwa:
“Tanya takbisa dijawab oleh dimensi”.
Sejenak, tabir esok menjelajahi dimensi malam.
Jauh, cukup jauh, sangat jauh.
Tapi di sana tidak ada jawaban.

Coba usik sang gemintang.
Siapa tahu ada kabar dari penerang.

Jatinangor, 5 November 2010

2 thoughts on “dimensi, sebuah sajak lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s