dialogue I: abstract


Di sini serasa membeku.
Bukan karena hujan yang setiap sore mengguyur bumi.
Juga bukan karena kulit ari ini semakin tipis.

Namun, langit miris melihat takjub tangis.
“Ada isakan di sudut sebelah sana,” kata langit padaku.
Aku pun bertanya kembali pada langit yang kian menyendu. “Dimana, dimana kau lihat itu hai langit? Katakan padaku. Biar kuseka tangis itu”.

Tanya pada hatimu hai bumi. Mengapa kautak tumpahkan saja segala rupa isi perutmu agar mereka berhenti menangis.

“Untuk apa? Justru itu akan membuat tangis mereka semakin menjadi-jadi. Aku, masih sayang pada mereka. Walau kutahu, takada isyarat cintaku yang berbalas. Aku tidak ingin menerka maksudmu, langit. Biarkan aku seperti ini, sampai waktu itu menghampiri kita.”

“Oh, kau jangan melankolis seperti itu bumi. Dari dulu sudah kubilang padamu. Tapi tetap saja kau tidak hiraukan omonganku. Masih saja kau keras kepala seperti dulu. Sudahlah, aku tidak akan menasehatimu lagi.”

“Terima kasih langit atas perhatian dan juga nasehatmu. Doakan saja, semoga aku baik-baik saja di sini. Pun juga dirimu. Semoga kau kian indah setiap harinya. Itu saja pintaku.

One thought on “dialogue I: abstract

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s