Rasa Syukur


Selasa, 7 september 2010. Hari ini ke-28 di bulan Ramadhan. Itu artinya, tersisa dua hari lagi puasa di bulan Ramadhan kali ini. Tahun ini, tahun keempat aku puasa di Bandung sejak tahun 2007 silam.

Tahun ini, hampir sama dengan empat tahun yang lalu, aku tidak berlebaran di kota kelahiranku. Sebenarnya, tidak ada alasan khusus yang memaksaku berlebaran di sini, jauh dari orang tua. Alasannya, lantaran berbagai pertimbangan; aku akan pulang ba’da lebaran karena abangku akan nikah bulan November. Kupikir untuk apa pulang sekarang, toh nanti juga akan pulang.

Pikiran senada pun juga terlintas di benak dua kakakku. Hingga pada akhirnya, kami bertiga memutuskan untuk menunda kepulangan di waktu yang tepat. Pun begitu, di hari lebaran nanti rasanya kami juga tidak berkumpul bersama-sama. Ada alasan khusus yang menyebabkan semua ini mesti terjadi.

Kakakku yang pertama berlebaran di rumah suaminya di Subang. Abangku di Surabaya, dan tetehku di Jakarta. Sedangkan aku sendiri, memutuskan untuk berlebaran di rumah om, di Dago Bandung. Agaknya, sudah lama kami tidak berkumpul bersama-sama di rumah seperti dulu. Sampai kapan, sampai pada waktu yang tidak bisa kuprediksi.

Huhhhf, kuhela napas ini cukup panjang dan dalam. Aku pun menyadari, ini memang pilihan yang sulit karena mau bagaimana lagi. Kita semua sadar telah memilih jalan masing-masing. Dan tidak ada yang salah.

Setelah pikiran ini berkelabat cukup hebat, kuputuskan untuk melanjutkan membaca Al-Qur’an. Di sini, di masjid yang megah ini aku sendirian. Alhamdulillah, senang rasanya karena aku bisa i’tiqaf di masjid BI. Dulu, hanya sebatas rencana. Sekarang bisa terealisasi.

Sebenarnya, rencana I’tiqaf di sini, sudah jauh-jauh hari kurencanakan. Sudah banyak orang kuajak untuk bisa beri’tiqaf di sini, termasuk malam ini. Rencananya–aku, k’hassan, dan k’gena akan I’tiqah bersama pada malam 29 ini. Namun nyatanya, keadaan bicara lain. Tidak apa, justru kesendirian seperti inilah yang kurindukan. Lama, lama sekali tidak merasakan getaran seperti ini. Getaran yang cukup kuat namun menenangkan.

“Rabb, terima kasih karena Engkau masih memberikan rasa ini pada hamba. Rasa keimanan yang memuncak saat kalam-Mu dibacakan oleh mulut-mulut perindu syurga. Rasa dimana kudengar isakan tangis menghamba dari hati terdalam. Rasa dimana ketika darah ini mengalir begitu cepat saat lafadz nama-Mu berulang kali disebut. Rasa ini ya Rabb, yang sudah lama kunantikan. Rasa mahabbahku kepada-Mu, ya Rabb”

Dari sekian banyak lakon yang telah kuperani, menjadi lakon seperti inilah yang kuinginkan. Aku ingin selalu seperti ini. Hingga suatu saat aku bisa memberikan senyuman terbaikku pada saat waktu yang tidak kutentu. Kapan waktu itu akan datang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s