dialogue II: tentang seseorang di ruang, dimensi, dan waktu yang berbeda.

sahabatku, maafkan aku. Semenjak aku tinggal di sini, sedikit demi sedikit memori masa dulu sirna di benakku. Memang tidak semuanya, tapi aku agak malas untuk mengingat masa-masa manis dulu•

Sungguh, bukan karenaku bermaksud melupakan kenangan kita dulu dan menguburnya dalam-dalam. Tidak sama sekali. Aku hanya butuh sedikit fokus dan konsentrasi untuk merancang puzle masa depanku sendiri; tidak lagi dibayang-bayangi tentang episode yang dulu pernah beberapa kali kita lakoni. Itu saja, kawan.

Dulu sempat, ketika baru-baru aku menetap di sini, sering sekali aku dikuasai nostalgia. Dan itu cukup membuatku tidak bisa menerima kenyataan bahwa sekarang aku hidup di masa ini, masa sekarang–bukan masa dulu. Hingga akhirnya kuputuskan saja untuk tidak menoleh lagi padamu. Kupikir, kita telah sama-sama dewasa. Mengerti dan paham dengan jalan kita masing-masing•

•benar, nyatanya memang aku tidak menoleh lagi. Membiarkan diri berkhidmat dalam egosentris yang teramat tinggi. Hingga aku pun lupa menanya kabarmu, atau sekadar meminta nomer teleponmu•

“Haha,, padahal kita sudah saling mengenal sejak di bangku SD. Walah-walah, bagaimana mungkin aku tidak tahu sama sekali nomor teleponmu. Sana, minta sama orang lain! Susah sekali jadi orang!”•

Oh iya, sempat aku berniat menanyakan kabarmu sewaktu kamu kirim pesan singkat di friendsterku. Ya, kira-kira dua atau tiga tahun yang lalu sejak kepergian itu. Tapi lagi-lagi aku malas dan asyik dengan kekhidmatanku tadi•

“Dan malam itu, sungguh aku menyadari segala kesalahanku padamu, kawan! Terlambat semua dan berlalu; aku pun hanya bisa diam tanpa kata.”

•Satu tahun,
•dua tahun,
•Tiga tahun,
•empat tahun sejak kelulusan SMA itu, aku sudah tidak pernah lagi bersua secara nyata lagi denganmu. Ya, kurasa begitu.

Waktu, yang menyuguhkan episode baru untuk lakon kita sekarang, sobat! Oh ya, tidak hanya waktu saja. Juga ruang dan dimensi yang sudah kujegelagahi namun takbisa kupahami.

•aku pun berniat mengganti kesalahanku padamu dengan mengintip dari kejauhan cahaya kota. Maaf teman, hanya bisa mengintip. Aku tidak kuasa tatap nanar lama-lama tempatmu dan membiarkan kau dengar serta rasa kehadiranku. Barangkali aku ingin berbincang sedikit padamu.

Mengenang masa kecil yang lucu, haru, dan kadang menyebalkan. Aku ingin mengulang kisah tentang sepeda bututmu yang sering kupinjam dan pernah jatuh saat pulang dari temaram senja pantai. Kita pun hanya bisa saling tertawa dan diam. Tidak yang berani dan memulai untuk saling menyalahkan, hanya berusaha untuk saling mengerti•

Hhhff, kurasa obrolan yang kurencanakan ini tidak sedikit, teman. Tapi rupanya masih sangat panjang. Mana mungkin waktu 17 tahun kuringkas dalam pertemuan lima menit saja? Aku pikir itu mustahil. Menurutmu bagaimana?

•teman, mengapa kau hanya diam. Saat secara sadar, kita sama-sama duduk memunggungi; berhadapan layaknya seorang sahabat. Lagi-lagi kulihat kau masih saja seperti dulu. Hah dasar! Siswa yang pintar. Selalu saja asyik dengan buku dan pulpen itu. Hingga aku pun tidak terdesak mengganggumu dan mengajakmu bercanda. Aneh! Ini benar-benar tidak kumengerti. Terlalu sering kau tampilkan cuplikan gambar kita dulu. Pada mimpi-mimpi yang sama-sama kita pahami bahwa hanyalah abstraksi dari imagine yang kelu dan mengharu. Dan itu pun terus berulang entah sampai kapan.

•maaf teman, tahun ini pun aku tidak bisa mengintipmu. Dari kejauhan waktu, dimensi, dan ruang; aku hanya bisa berdoa kepada Sang Penyayang, agar dirimu selalu bahagia di sana dan tersenyum :)•

••apakah kau tahu, apa yang paling berharga dalam hidup kita?
Adalah detik yang telah berlalu, teman••

•=teruntuk di sana]•]>

Advertisements

dialogue I: abstract

Di sini serasa membeku.
Bukan karena hujan yang setiap sore mengguyur bumi.
Juga bukan karena kulit ari ini semakin tipis.

Namun, langit miris melihat takjub tangis.
“Ada isakan di sudut sebelah sana,” kata langit padaku.
Aku pun bertanya kembali pada langit yang kian menyendu. “Dimana, dimana kau lihat itu hai langit? Katakan padaku. Biar kuseka tangis itu”.

Tanya pada hatimu hai bumi. Mengapa kautak tumpahkan saja segala rupa isi perutmu agar mereka berhenti menangis.

“Untuk apa? Justru itu akan membuat tangis mereka semakin menjadi-jadi. Aku, masih sayang pada mereka. Walau kutahu, takada isyarat cintaku yang berbalas. Aku tidak ingin menerka maksudmu, langit. Biarkan aku seperti ini, sampai waktu itu menghampiri kita.”

“Oh, kau jangan melankolis seperti itu bumi. Dari dulu sudah kubilang padamu. Tapi tetap saja kau tidak hiraukan omonganku. Masih saja kau keras kepala seperti dulu. Sudahlah, aku tidak akan menasehatimu lagi.”

“Terima kasih langit atas perhatian dan juga nasehatmu. Doakan saja, semoga aku baik-baik saja di sini. Pun juga dirimu. Semoga kau kian indah setiap harinya. Itu saja pintaku.

Rasa Syukur

Selasa, 7 september 2010. Hari ini ke-28 di bulan Ramadhan. Itu artinya, tersisa dua hari lagi puasa di bulan Ramadhan kali ini. Tahun ini, tahun keempat aku puasa di Bandung sejak tahun 2007 silam.

Tahun ini, hampir sama dengan empat tahun yang lalu, aku tidak berlebaran di kota kelahiranku. Sebenarnya, tidak ada alasan khusus yang memaksaku berlebaran di sini, jauh dari orang tua. Alasannya, lantaran berbagai pertimbangan; aku akan pulang ba’da lebaran karena abangku akan nikah bulan November. Kupikir untuk apa pulang sekarang, toh nanti juga akan pulang.

Pikiran senada pun juga terlintas di benak dua kakakku. Hingga pada akhirnya, kami bertiga memutuskan untuk menunda kepulangan di waktu yang tepat. Pun begitu, di hari lebaran nanti rasanya kami juga tidak berkumpul bersama-sama. Ada alasan khusus yang menyebabkan semua ini mesti terjadi.

Kakakku yang pertama berlebaran di rumah suaminya di Subang. Abangku di Surabaya, dan tetehku di Jakarta. Sedangkan aku sendiri, memutuskan untuk berlebaran di rumah om, di Dago Bandung. Agaknya, sudah lama kami tidak berkumpul bersama-sama di rumah seperti dulu. Sampai kapan, sampai pada waktu yang tidak bisa kuprediksi.

Huhhhf, kuhela napas ini cukup panjang dan dalam. Aku pun menyadari, ini memang pilihan yang sulit karena mau bagaimana lagi. Kita semua sadar telah memilih jalan masing-masing. Dan tidak ada yang salah.

Setelah pikiran ini berkelabat cukup hebat, kuputuskan untuk melanjutkan membaca Al-Qur’an. Di sini, di masjid yang megah ini aku sendirian. Alhamdulillah, senang rasanya karena aku bisa i’tiqaf di masjid BI. Dulu, hanya sebatas rencana. Sekarang bisa terealisasi.

Sebenarnya, rencana I’tiqaf di sini, sudah jauh-jauh hari kurencanakan. Sudah banyak orang kuajak untuk bisa beri’tiqaf di sini, termasuk malam ini. Rencananya–aku, k’hassan, dan k’gena akan I’tiqah bersama pada malam 29 ini. Namun nyatanya, keadaan bicara lain. Tidak apa, justru kesendirian seperti inilah yang kurindukan. Lama, lama sekali tidak merasakan getaran seperti ini. Getaran yang cukup kuat namun menenangkan.

“Rabb, terima kasih karena Engkau masih memberikan rasa ini pada hamba. Rasa keimanan yang memuncak saat kalam-Mu dibacakan oleh mulut-mulut perindu syurga. Rasa dimana kudengar isakan tangis menghamba dari hati terdalam. Rasa dimana ketika darah ini mengalir begitu cepat saat lafadz nama-Mu berulang kali disebut. Rasa ini ya Rabb, yang sudah lama kunantikan. Rasa mahabbahku kepada-Mu, ya Rabb”

Dari sekian banyak lakon yang telah kuperani, menjadi lakon seperti inilah yang kuinginkan. Aku ingin selalu seperti ini. Hingga suatu saat aku bisa memberikan senyuman terbaikku pada saat waktu yang tidak kutentu. Kapan waktu itu akan datang?

Suara Kemanusiaan

Dalam teori Culture Studies, kita mengenal teori stereotip. Sebuah pandangan yang keliru dalam menilai suatu hal. Saya tidak ingin teori ini yang berkembang di bangsa ini. Pun bangsa lain. Rasanya, tidak bijak jika kita men-GENERALISASI semua orang seperti itu. Lantaran setitik nila, rusak susu sewajan.

Saya katakan bahwa saya adalah bagian yang masih menginginkan perdamaian. Masih ada cara yang tepat dan bijak utk menyelesaikan masalah ini. Karena di sana, banyak saudara-saudara kita yang memiliki cara pandang yang sama dengan saya.

Universitas Padjadajaran: To be Recognized as World Class University

MAMPUKAH MENJADI WORLD CLASS UNIVERSITY?

Salah satu indikasi suatu negara dikatakan memiliki sumber daya manusia yang kompeten yang mampu bersaing di tingkat dunia adalah dilihat dari pendidikannya. Diakui atau tidak, globalisasi memaksa Indonesia sebagai salah satu aktor dunia dituntut menjadi negara yang memiliki daya saing di tingkat dunia. Tapi yang jadi pertanyaan adalah, apakah bangsa yang dikatakan bangsa besar ini mampu menjawab tantangan dunia? Mungkin bisa, jika bangsa Indonesia melakukan restrukturisasi pendidikan. Tapi jika tidak, bersiaplah bangsa Indonesia sebagai follower yang hanya menjadi negara yang tak di perhitungkan.

Sejak awal kemerdekaan sampai sekarang, belum adanya tanda kekonsistenan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Pemerintah Indonesia lebih memprioritaskan pada pendidikan dasar. Walaupun diakui pendidikan dasar bisa mewujudkan pendidikan secara universal. Tapi tak kalah lebih penting adalah perlunya pemerataan prioritas untuk semua jenjang pendidikan termasuk perguruan tinggi. Perguruan tinggi akan melahirkan sumber daya manusia yang nantinya menjadi sumber daya manusia yang bisa angkat bicara di tingkat internasional.

Sejak akhir Januari 2006, Departemen Pendidikan Nasional telah membentuk tim gugus penetapan sepuluh perguruan tinggi di Indonesia yang akan di persiapakan menjadi universitas kelas dunia (world class university). Indonesia memang lebih lambat dalam pengembangan universitasnya menjadi world class university. Terbukti negara – negara di Asia telah dulu mengembangkan universitas – universitasnya menjadi world class university. Sebut saja sebagai contoh Korea selatan, Cina, Singapura, dan bahkan Thailand. Negara – negara tersebut sangat serius untuk mengembangkan universitas – universitasnya mencapai standar internasional. Alasannya karena globalisasi menuntut adanya upaya setiap negara untuk meningkatkan taraf kehidupan negaranya dari berbagai aspek, dan pendidikan adalah salah satu aspek penting yang patut di tingkatkan.

Kemauan kuat dari negara – negara tersebut berbalik arah dengan kondisi bangsa Indonesia. Indonesia masih senang berpangku tangan tanpa adanya indikasi untuk melakukan perubahan. Sebenarnya permasalahan mengapa perguruan tinggi di Indonesia masih stagnan dengan statusnya yang bisa dikatakan kurang “bermutu” adalah kurang adanya itikad baik dari bangsa Indonesia untuk meningkatkan perguruan tingginya menuju taraf internasional.

Sebagai tolak ukur suatu perguruan tinggi bisa layak dikatakan sebagai world class university adalah keunggulan dalam berbagai bidang yang mencakup keunggulan dalam riset yang diakui masyarakat akademis internasional melalui publikasi internasional; keunggulan dari tenaga pengajar (profesor) yang mampu memberikan perubahan berarti bagi dunia pendidikan. Para pengajar diharapkan benar – benar memberikan konstribusi besar yang memiliki kualifikasi yang tinggi dan terbaik dibidangnya; adanya kebebasan akademik dan kegairahan intelektual; keunggulan manajemen dan governance. Tidak hanya sebatas itu, tetapi perlunya pemerataan sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan akademik seperti perpustakaan yang lengkap, laboraturium yang canggih, dan manajemen dana yang baik untuk kelancaran kegiatan akademik.

Standar perguruan tinggi kelas dunia memang cukup tinggi dan sulit jika tidak ada kemauan yang kuat untuk mencapai standar tersebut. Indonesia tak harus gamang melihat parameter standar tersebut dan berfikir apakah mampu menjadikan perguruan tingginya sebagai universitas kelas dunia? Solusinya mudah, Indonesia bisa melakukan hal yang sama seperti negara – negara di Asia untuk menjadi world class university. Caranya dengan komitmen yang kuat untuk mengantarkan perguruan tinggi di Indonesia mencapai standar internasional.

Indonesia perlu berkaca pada Malaysia yang telah menunjukkan eksistensinya di tingkat internasional. Sebagai bukti keseriusan Malaysia menjadikan perguruan tingginya sebagai world class university adalah di Malaysia standar biaya permahasiswa sudah mencapai delapan kali lebih dari standar biaya universitas terkemuka di Indonesia. Ini jelas suatu kontradiksi yang membedakan antara Indonesia dan Malaysia.

Indonesia bisa saja melakukan hal serupa yang dilakukan Malaysia dengan cara mengubah mindset dari bangsa itu sendiri dan mengubah paradigma pendidikan pasca dari proses pembelajaran yang lebih menekankan pada teaching menjadi student learning yang merupakan ciri dari universitas penelitian.

Patutlah Indonesia optimis untuk mengembangkan perguruan tingginya menjadi world class university secara Indonesia memiliki beberapa universitas yang bisa dibanggakan. Sebut saja Universitas Padjadjaran. Universitas yang berdiri pada tahun 1957 ini telah dikenal sebagai salah satu universitas terbaik bangsa. Secara geografis letak Unpad berada di kawasan pendidikan Jawa Barat yang memiliki banyak perguruan tinggi. Unpad menunjukkan dedikasinya sebagai salah satu universitas yang berpotensi diantara universitas yang ada di Jawa Barat untuk dikembangkan menjadi universitas kelas dunia.

Impian Unpad menuju kelas dunia taksekadar khayalan tapi sebuah pengharapan yang pasti terwujud jika mau berusaha dan menanamkan pola pikir pasti bisa. Yakinlah bahwa Unpad mampu menjawab tantangan dunia sebagai world class university dan suatu keniscayaan bahwa Unpad nantinya “mengancam” hegemoni perguruan tinggi di Eropa dan Amerika yang selama ini sangat dominan, tapi dengan syarat Unpad melakukan pembenahan dalam berbagai hal. Mulai dari perbaikan sistem pendidikan maupun dari birokrasi Unpad itu sendiri. Oleh karena itu, perlunya restrukturisasi pendidikan yang dilakukan Unpad yaitu akuntabel terhadap publik, efisiensinya tinggi, kualitas dan relevansi outpun, manajemen internal yang transparan dan sesuai standar mutu serta adanya responsif dari civitas akademika.

Tentunya keinginan Unpad menjadi universitas kelas dunia akan terasa mustahil jika pembenahan dan perubahan hanya diharapkan oleh sebagian orang saja. Jadi, perlu adanya kesinambungan dan dukungan dari semua pihak dan Unpad menjadi world class university yang tak akan lama lagi. Unpad bisa memulai pembenahan dengan melihat parameter standar untuk menjadi universitas kelas dunia dan pastilah civitas akademika memiliki tanggung jawab untuk mendukung impian menuju universitas kelas dunia. Civitas akademika diharapkan benar – benar memiliki karakter seorang akademik yang ideal yaitu memiliki sifat kritis, analitis, curiosity yaitu terus menerus mempunyai keinginan untuk mengetahui hal – hal yang baru dalam perkembangan ilmu pengetahuan, berwawasan, memberikan konstribusi terbaik bagi bangsa serta memiliki mindset sebagai agent of change.

Pengalaman banyak perguruan tinggi world-class ternyata tidak seluruh program akademis mereka dapat dikatakan sepenuhnya berkelas internasional; mungkin hanya beberapa program tertentu saja. Karena itu, Unpad dapat mengembangkan berberapa program akademis tertentu yang dapat dikembangkan mencapai standar internasional. Tapi jika Unpad mau menantang untuk mengembangkan semua program akademisnya kenapa tidak? Kata pepatah “where there is a will there is a way” dan bukan hal yang mustahil suatu saat dunia akan terperanjak kaget melihat Unpad sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kualitatif dan berkonstribusi di tingkat internasional.

(dari berbagai sumber)