Tentang Rajaban dan Kebencian Terhadap Kepulan Asap Rokok


Tanjungjaya (13|07)
Sore ini sama seperti biasanya. Langit sore seakan takjemu menyeruakkan kemesraan alam. Sore ini, hampir sama dengan sore2 sebelumnya. Bedanya, takada aktivitas yang cukup berarti yg kami lakukan. Teman2 saya tengah bermain ke Situ di belakang penginapan kami. Kurasa takjauh. Sekitar 10menit. Entahlah,kenapa mereka tiba2 terpikir untuk ke sana. Saya katakan padamu kawan, Situ itu sebenarnya tidak menarik hati. Bahkan airnya pun tidak jernih. Tapi karna takada pilihan lagi, mungkin tempat itu tujuan favorit kami.

Kawan, saya ingin bercerita padamu tentang tradisi di sini. Bagi saya, ini terlalu ganjil. Mungkin karena saya tidak pernah mengalami kondisi seperti ini sebelumnya. Ya, saya pikir begitu.

Bulan Juli tahun ini bertepatan dengan bulan Rajab (salah satu bulan Islam yang menjadi waktu lahirnya perintah sholat bagi umat Muslim). Namun kawan, pada catatan ini saya tidak akan membahas sejarah lahirnya sholat. Tidak, sama sekali.
Tiga hari yang lalu, ibu Lurah yang rumahnya ditempati teman2 perempuan berkata kepada kami, “Tadi acara Rajaban terakhir. Bapak sedang di sana. Apakah kalian tidak ke sana?,” tanya ibu.

Saya pun menjawab polos, “Gak Bu.. Saya sudah bosan dan malas”

Heu. Kawan, kau bisa bayangkan! Sejak pertama datang ke sini (sekitar tanggal 2 Juli) kami telah disuguhi dengan rangkaian acara rajaban yang sangat banyak dan padat. Untuk satu hari saja, kami bisa datang ke acara Rajaban dua kali. Bayangkan? Bagi saya itu terlalu sering. Awalnya, saya berpikir bahwa kegiatan ini sangat positif. Tapi belakangan ini, saya hanya bisa mengelus dada. Sebenarnya, dengan acara rajaban ini saya bisa bertatap muka dengan warga di sini dan saling berkenalan. Selain itu, tentunya akan menambah pengetahuan keislaman saya. Tapi, agaknya ekspektasi saya tidak terpenuhi. Untuk alasan pertama, mungkin bisa terpenuhi. Selain itu? Saya rasa tidak.

Satu hal yang mengganjal bagi saya adalah kebanyakan warga di sini (semoga tidak melanggar undang ITE, Heu) adalah tentang kebiasan merokok di masjid. Jujur, bagi saya itu aneh. Ya, lagi-lagi kita harus memaklumi bahwa kondisi di lapangan kadang berseberangan dengan kondisi ideal (atau semestinya).
Saya kesal dan marah. Mengapa rumah Allah (tempat ibadah) harus dikotori oleh kepulan asap rokok yang mengandung racun nikotin. Padahal jelas, rokok itu tidak baik bagi kesehatan. (Mm, nampaknya mereka sudah mengetahui akan hal itu. Tapi tidak mempraktekannya).

TOLONG, HARGAI KAMI YANG TIDAK MEROKOK!!! kami butuh menghirup O2 dengan bebas. Tolong, TOLONG SEKALI!!

Oiya, saya mau bercerita. Pernah, waktu Pangaosan di masjid depan rumah kami, saya menyembunyikan 5 batang rokok yang diberikan kepada orang-orang saat itu. Hahaha…
saya puas sekali!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s