Sepotong Malam di Jakarta


Sayang, malam ini sendiri kulihat wajah Jakarta dihiasi lelampu kota yang menyimpan kemegahan asa. Sesekali redup, tapi cahaya kerlap-kerlip mendominasi, sayang. Aku ingin berkata, itu bukan penerangan sayang. Bagiku, agak ilusi yang dibungkus hawa imajinasi.

Sayang, Jakarta ini sudah kelam. Kulihat wajah ibu kota dipoles kemahsyuran tapi penuh keanggkuhan. Di sana-sini, wajah-wajah lelah menyandarkan kepala tanpa sadar, sayang.
Aku ingin menceritakan itu sedikit saja. Di antara embun malam yang melepaskan kepergian malam. Di antara musik sendu pengantar istirahat malam. Di antara deru mesin bis malam yang dipaksa berteriak. Di antara mimpi dan harapan kita, sayang.

Jakartamu sudah tua.
Tapi aku tidak peduli sayang. Biarkan kutemani kau sejenak melepas rindumu pada kampung halaman. Sayang, aku ingin katakan padamu. Di kota ini, aku tulis sedikit ceritaku malam ini padamu.

Biarkan malam ini abadi. 
Atas cinta dan kebaikan nurani.

Jakarta, 4 Agustus 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s