Makasi Ya, De!


Tanjungjaya, 24 Juli 2010

Sore ini, sinar mentari bersinar cukup terang. Padahal sudah pukul 17.30 WIB, semestinya warna langit berwarna jingga dan sedikit oranye. Entahlah, agaknya perubahan waktu tidak bisa ditebak seperti dulu.

Huff,tubuh penat ini kusandarkan di kursi kuning depan rumah kami. Ada semacam perasaan lega dan haru membalut jiwa. Lega karena hari adalah hari perpisahan kami (baca: mahasiswa KKNM) dengan siswa madrasah dusun Desa, Tanjungjaya. Tidak terasa, hampir satu bulan kami memberikan additional education di sana. Mungkin tidak banyak yang bisa kami berikan kepada mereka. Hanya sedikit ilmu saja.

Di madrasah itu, siswanya tidaklah banyak. Mungkin sekitar 40an. Tapi mereka sungguh lucu-lucu dan pintar. Pada hari pertama mengajar bahasa Inggris, salah satu siswa madrasah yang bernama Yuda menangis lantaran dibecandain oleh Cahyo.

Pun demikian, sejak kejadian itu Yuda-lah sebagai salah siswa madrasah yang sangat aktif dan sangat dekat dengan kami. Bisa dibilang, Yuda adalah favorit kami selain Vina, Kiki,dan semua adik-adik di madrasah.

***
Kami katakan, kami sangat senang bisa mengajar di sini. Itulah prolog yang saya sampaikan saat perpisahan kami dengan mereka.

“Adek-adek, kami (Kakak-kakak KKNM) seneng banget bisa mengajar adek-adek selama satu bulan ini. Tapi karena kakak-kakak cuma satu bulan di sini, mungkin hari ini adalah pertemuan terakhir kita sekalian perpisahan. Maaf banget ya, kalau selama ini kakak-kakak banyak salah sama adek-adek. Kalian anak pintar, suatu saat nanti kalian pasti menjadi orang yang sukses. Amin,”

Setelah kata ‘amin’ yang kuucapkan, tiba-tiba suasana hening. Aku berpikir, mungkinkah aku salah berucap. Wajah mereka pun tertunduk dan diam. Kulihat, teman-temanku Zakia, Lia, Pipit, Anit, Dewi, Dini, dan Nurida pun juga turut diam. Mungkinkah mereka larut dalam perasaan haru?

Sebenarnya, aku lega karena program additional education kami telah kelar. Namun, aku takkuasa mengingkari bahwa aku terharu dan mungkin sedih karena takbisa lagi mengajar dan melihat wajah riang dan mendengar tawa mereka. Itu saja. Karena bagiku ini adalah pengalaman pertamaku. Dan mungkin, aku tidak akan bisa lagi merasakan hangatnya berbagi ilmu diiringi tawa canda penuh semangat bersama mereka.

Aku pun hanya bisa diam dan menatap lurus ke depan. Kupandang, dua buah majalah dinding hasil karya kami, mahasiswa KKNM dengan adek-adek tercinta. Dua buah mading yang didesain oleh teman-teman perempuan. Bentuknya lucu. Satu mading besar berbentuk kepompong. Dan satu lagi yang berukuran tidak terlalu berbentuk awan dan langit.

Kata Nurida, dua desain itu memiliki makna yang filosofis yang dalam. Desain kepompong ditempeli karya-karya adek-adek madrasah berupa puisi, pantun, gambar, dan pesan kesan. “Mudah-mudahan karya-karya mereka yang tersimpan dalam kepompong itu, kelak akan menjadi kupu-kupu yang indah, lahir dari proses yang sungguh mengagumkan,” kupikir itu filosofisnya.

Sementara satu lagi, berbentuk awan. Kata Nurida, “Aku pengen mereka menuliskan cita-cita mereka di dreams wall awan itu. Biarkan cita-cita mereka tinggi hingga mencapai langit yang jauh. Dan kelak akan terwujud. Amiin.”

Begitu percakapan singkat kami, saat kutanya mengapa memilih desain awan kepada Nurida.

***
Agak cukup lama hening, tidak bersuara. Aku bingung mesti bicara apa lagi. Kutawarkan agar teman-temanku turut bicara. Namun hanya Lia dan Nurida yang bertutur. Mereka pun menyampaikan hal yang hampir senada dengan apa yang kuutarakan.
“Terima kasih, maaf, dan senang”.

Tiba-tiba, dua orang di antara adek-adek kami menangis yaitu Nia (baca: Kurnia) dan lilis. Kami pun tidak berbuat apa-apa. Hanya membiarkan dan sedikit memberikan ketenangan kepada mereka. Entahlah, apa yang kami rasakan di ruangan itu. Mungkin perasaan masing-masinglah yang mampu menjabarkan. Akhirnya, dengan suara terbata-bata menahan tangis, Nia pun menyampaikan apa yang ia rasakan kepada kami.

“Saya senang bisa diajar sama kakak-kakak. Tapi saya sedih karena kakak-kakak akan pergi.”

Sontak, perasaan haru makin memuncak. Mungkin itulah bahasa kalbu saat itu. Semacam perasaan lega yang dibingkai dalam haru.
***

“Ya, Mungkin hanya sedikit ilmu yang bisa kami berikan pada mereka. Semoga bisa bermanfaat bagi mereka. Jujur, saya senang bisa mendapatkan pengalaman ini. Begitu luar biasa dan membekas. Saya berdoa, suatu saat saya akan curahkan rasa sayang yang saya miliki kepada anak-anak saya. Amiin. Rabb, jagalah kelembutan hati kami dan berikanlah kami ilmu yang bermanfaat. Amiin.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s