Hanya Ingin Diam


Di depanku, di sampingku, disekitarku, dan di sekelilingku. Banyak orang senang dan sibuk berbincang menggunakan telepon. Mereka berbicara dengan durasi yang cukup lama. Sesekali, terdengar ringkihan tawa. Tapi takjarang suara lantang bernada kesal keluar dari mulut mereka.

Entahlah, apa yang mereka bicarakan. Mengapa begitu betah berlama-lama memeluk paksa benda komunikasi itu di telinga mereka. Kata mereka, itu romantis. Mengumbar kata manis tapi ironis. Sekilas, kuperhatikan mereka tampak bingung atas apa yang mereka bicarakan. Pikirku, mereka sudah tidak ada bahan obrolan. Tapi mulut masih berbusa. Mengucap kata ‘sayang’ dan kemudian tersipu. Aku tak habis pikir, mengapa begitu senang bicara sendiri.

Malam ini, aku bukan cemburu karena tidak bisa berbuat seperti mereka. Entahlah, rasanya melankolisku kambuh lagi. Tidak cukup bisa menerjemahkan rasa dalam kata. Yang bisa hanya merangkai asa.

Aku hanya ingin diam. Berdebat dalam sukma. Kata orang itu komunikasi intrapersonal. Aku tak perduli. Aku hanya ingin diam. Bicara pada hati yang masih bisa diajak berkompromi. Setidaknya aku lega. Karena hati masih bicara tentang kebenaran yang puitis. Aku berbeda, tidak sama dengan mereka yang doyan bercerita. Cukuplah kisah ini kubagi pada-Nya. Kurasa, malam ini yang semakin larut itulah yang kumau. Aku hanya ingin diam. Dengan begitu aku cukup sentosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s