Renungan Sore Menjelang Ramadan

Alikhwan, penuh cerita di sini. Tidak terasa, tinggal beberapa jam lagi bulan Ramadhan pun hadir menyapa dengan penuh kelembutan.Berjabat salam dengan tangan kebaikan. Mengecup halus dengan kasih sayang tiada terperi. Seperti seorang ibu yang bersuka ria menyambut ketika bayinya hadir ke bumi. Begitu pulalah yang ditawarkan ramadhan padaku.

Sudah sejak lama dia mengetok pintu depan rumahku. Kupikir satu atau dua bulan yang lalu. Tapi tidak kuhiraukan dia. Membiarkan dia seolah-olah bukan tamu yang spesial. Jangankan menyahut, menoleh untuk sekedar mengintip pun aku tidak mau.

Kugumamkan kata dalam hati, “Ah, aku tengah sibuk. Nanti saja kubuka pintu hatiku untukmu. Maaf pintu rumah maksudku.”Cukup lama dia berdiri di sana. Ah, kurasa bukan cukup lama tapi sangat lama. Inginku intip dari kejauhan pandang tamu itu. Tapi agaknya rasa malas memaksa kudiam dan kukatakan aku masih sibuk. “Lah, apa yang dia lakukan? Kenapa tidak marah dan berlalu saja? Sudah tahu aku sibuk.”

Tiba-tiba, kesibukanku terhenti sejenak entah karena apa. Ada yang berbisik padaku, “Ayolah, barangkali kamu harus mempersilakan dia masuk. Kasihan dari tadi dia sudah berada di luar. Cobalah kau amati, bukankah dia amat setia. Bahkan lebih setia dibandingkan kesetiaan Romeo yang rela mati bersama dengan sang terkasih, Juliet? Coba kau pertimbangkan dulu sebelum mengambil keputusan untuk tidak membukakan pintu untuknya. Aku hanya sedikit memberi saran untukmu. Selepas itu, terserah apa yang kau perbuat.”Aku pun terdiam. Bisikan itu seakan begitu nyata. Menggaung di setiap sudut kamarku yang dicat berwarna hijau.

“Naudzubillah,. Aku tersentak kaget. Segera kubangun dari kasur yang empuk dan bergegas keluar untuk membukakan pintu kepada tamuku itu. Dengan wajah sumringah, kubuka pintu dan kukatakan padanya Ahlan wa Sahlan wahai tamu agung. Afwan aku sudah membiarkanmu berdiri lama di luar untuk menungguku membukakan pintu untukmu.”

Segera, kupeluk erat tamu itu. Kurangkul sangat erat. Tidak ingin membiarkannya pergi. Karena jika tidak, mungkin itu pertemuan terakhirku dengannya dan aku harus bersedia untuk pergi dari dunia ini.Dalam eratnya pelukan itu, tamu itu berkata padaku, “Terima kasih kamu telah menyambutku. Aku hadiri di sini, sengaja untukmu. Allah anugrahkan kebaikan melaluiku.”Takterasa air mata pun menetes di sudut pipi. Lirih kuberkata padanya, “Maafkan aku tidak menghiraukan kamu tadi wahai tamuku. Marhaban ya Ramadhan.”

Berarti, sudah tahun ke-4 Ramadhan aku di sini. Di sebuah rumah yang sederhana. Entah kenapa, tiba-tiba kuteringat dengan saudara-saudara yang pernah singgah dan mengisi lembaran catatan harianku dulu. Agak banyak cerita, tidak mungkin kutuliskan pada sebuah renungan di sore ini.

Mereka hadir, dan kemudian pergi. Aku tidak diizinkan mengenal mereka dan menoreh kebaikan yang agak lama bersama mereka. Tidak ada yang salah menurutku. Mungkin itulah sisi yang tidak bisa kupahami pada waktu yang terus saja berlalu tanpa permisi. Ah, itu hanya perasaaan kusaja. InsyaAllah, inilah cara Allah mengajarkanku tentang bagaimana ukhuwah yang dibangun atas dasar benci dan cinta karena Allah. Dan saat ini pun, aku memahami proses betapa aku merindukan mereka atas segala kebaikan itu.

Aku hanya ingin mengenang, bukan untuk mengingat karena itu agak sulit bagiku. Biarkan ini hanya menjadi ceritaku saja. Kurasa itu sudah cukup bagiku. Mm, ternyata benar juga apa yang pernah dikatakan sang pujangga kahlil gibran, “Kebaikan sahabatmu akan terlihat sangat jelas saat mereka tidak ada di dekatmu,” dan aku menyadari bahwa aku mencintai mereka karena Allah.

Suatu saat, aku juga akan mengalami situasi seperti mereka. terpaksa pergi dari rumah ini untuk berjuang di ruang yang berbeda. hingga aku pun berkata, “Aku merindukan tempat ini”.

Teruntukmu yang kurindu, Ramadhan dan saudara-saudaraku.Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga Ramadhan tahun ini Ramadhan terbaik kita. Amiiin.

Jatinangor, 10 Agustus 2010.

Advertisements

Sepotong Malam di Jakarta

Sayang, malam ini sendiri kulihat wajah Jakarta dihiasi lelampu kota yang menyimpan kemegahan asa. Sesekali redup, tapi cahaya kerlap-kerlip mendominasi, sayang. Aku ingin berkata, itu bukan penerangan sayang. Bagiku, agak ilusi yang dibungkus hawa imajinasi.

Sayang, Jakarta ini sudah kelam. Kulihat wajah ibu kota dipoles kemahsyuran tapi penuh keanggkuhan. Di sana-sini, wajah-wajah lelah menyandarkan kepala tanpa sadar, sayang.
Aku ingin menceritakan itu sedikit saja. Di antara embun malam yang melepaskan kepergian malam. Di antara musik sendu pengantar istirahat malam. Di antara deru mesin bis malam yang dipaksa berteriak. Di antara mimpi dan harapan kita, sayang.

Jakartamu sudah tua.
Tapi aku tidak peduli sayang. Biarkan kutemani kau sejenak melepas rindumu pada kampung halaman. Sayang, aku ingin katakan padamu. Di kota ini, aku tulis sedikit ceritaku malam ini padamu.

Biarkan malam ini abadi. 
Atas cinta dan kebaikan nurani.

Jakarta, 4 Agustus 2010

Makasi Ya, De!

Tanjungjaya, 24 Juli 2010

Sore ini, sinar mentari bersinar cukup terang. Padahal sudah pukul 17.30 WIB, semestinya warna langit berwarna jingga dan sedikit oranye. Entahlah, agaknya perubahan waktu tidak bisa ditebak seperti dulu.

Huff,tubuh penat ini kusandarkan di kursi kuning depan rumah kami. Ada semacam perasaan lega dan haru membalut jiwa. Lega karena hari adalah hari perpisahan kami (baca: mahasiswa KKNM) dengan siswa madrasah dusun Desa, Tanjungjaya. Tidak terasa, hampir satu bulan kami memberikan additional education di sana. Mungkin tidak banyak yang bisa kami berikan kepada mereka. Hanya sedikit ilmu saja.

Di madrasah itu, siswanya tidaklah banyak. Mungkin sekitar 40an. Tapi mereka sungguh lucu-lucu dan pintar. Pada hari pertama mengajar bahasa Inggris, salah satu siswa madrasah yang bernama Yuda menangis lantaran dibecandain oleh Cahyo.

Pun demikian, sejak kejadian itu Yuda-lah sebagai salah siswa madrasah yang sangat aktif dan sangat dekat dengan kami. Bisa dibilang, Yuda adalah favorit kami selain Vina, Kiki,dan semua adik-adik di madrasah.

***
Kami katakan, kami sangat senang bisa mengajar di sini. Itulah prolog yang saya sampaikan saat perpisahan kami dengan mereka.

“Adek-adek, kami (Kakak-kakak KKNM) seneng banget bisa mengajar adek-adek selama satu bulan ini. Tapi karena kakak-kakak cuma satu bulan di sini, mungkin hari ini adalah pertemuan terakhir kita sekalian perpisahan. Maaf banget ya, kalau selama ini kakak-kakak banyak salah sama adek-adek. Kalian anak pintar, suatu saat nanti kalian pasti menjadi orang yang sukses. Amin,”

Setelah kata ‘amin’ yang kuucapkan, tiba-tiba suasana hening. Aku berpikir, mungkinkah aku salah berucap. Wajah mereka pun tertunduk dan diam. Kulihat, teman-temanku Zakia, Lia, Pipit, Anit, Dewi, Dini, dan Nurida pun juga turut diam. Mungkinkah mereka larut dalam perasaan haru?

Sebenarnya, aku lega karena program additional education kami telah kelar. Namun, aku takkuasa mengingkari bahwa aku terharu dan mungkin sedih karena takbisa lagi mengajar dan melihat wajah riang dan mendengar tawa mereka. Itu saja. Karena bagiku ini adalah pengalaman pertamaku. Dan mungkin, aku tidak akan bisa lagi merasakan hangatnya berbagi ilmu diiringi tawa canda penuh semangat bersama mereka.

Aku pun hanya bisa diam dan menatap lurus ke depan. Kupandang, dua buah majalah dinding hasil karya kami, mahasiswa KKNM dengan adek-adek tercinta. Dua buah mading yang didesain oleh teman-teman perempuan. Bentuknya lucu. Satu mading besar berbentuk kepompong. Dan satu lagi yang berukuran tidak terlalu berbentuk awan dan langit.

Kata Nurida, dua desain itu memiliki makna yang filosofis yang dalam. Desain kepompong ditempeli karya-karya adek-adek madrasah berupa puisi, pantun, gambar, dan pesan kesan. “Mudah-mudahan karya-karya mereka yang tersimpan dalam kepompong itu, kelak akan menjadi kupu-kupu yang indah, lahir dari proses yang sungguh mengagumkan,” kupikir itu filosofisnya.

Sementara satu lagi, berbentuk awan. Kata Nurida, “Aku pengen mereka menuliskan cita-cita mereka di dreams wall awan itu. Biarkan cita-cita mereka tinggi hingga mencapai langit yang jauh. Dan kelak akan terwujud. Amiin.”

Begitu percakapan singkat kami, saat kutanya mengapa memilih desain awan kepada Nurida.

***
Agak cukup lama hening, tidak bersuara. Aku bingung mesti bicara apa lagi. Kutawarkan agar teman-temanku turut bicara. Namun hanya Lia dan Nurida yang bertutur. Mereka pun menyampaikan hal yang hampir senada dengan apa yang kuutarakan.
“Terima kasih, maaf, dan senang”.

Tiba-tiba, dua orang di antara adek-adek kami menangis yaitu Nia (baca: Kurnia) dan lilis. Kami pun tidak berbuat apa-apa. Hanya membiarkan dan sedikit memberikan ketenangan kepada mereka. Entahlah, apa yang kami rasakan di ruangan itu. Mungkin perasaan masing-masinglah yang mampu menjabarkan. Akhirnya, dengan suara terbata-bata menahan tangis, Nia pun menyampaikan apa yang ia rasakan kepada kami.

“Saya senang bisa diajar sama kakak-kakak. Tapi saya sedih karena kakak-kakak akan pergi.”

Sontak, perasaan haru makin memuncak. Mungkin itulah bahasa kalbu saat itu. Semacam perasaan lega yang dibingkai dalam haru.
***

“Ya, Mungkin hanya sedikit ilmu yang bisa kami berikan pada mereka. Semoga bisa bermanfaat bagi mereka. Jujur, saya senang bisa mendapatkan pengalaman ini. Begitu luar biasa dan membekas. Saya berdoa, suatu saat saya akan curahkan rasa sayang yang saya miliki kepada anak-anak saya. Amiin. Rabb, jagalah kelembutan hati kami dan berikanlah kami ilmu yang bermanfaat. Amiin.”

in memorian song: pondok kecil

Tanjungjaya, Minggu (18|07) sore selepas hujan mengguyur.

Entalah, tiba-tiba aku terigat sebuah lagu yang sering kami (aku & teman2ku) sewaktu belajar di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Muhammadiyah. Kata guru kami, itu lagu nasyid. Hingga detik ini pun aku tidak tahu siapa pencipta dan yang menyanyikan lagu itu. Seingatku, lagu tersebut sangat familiar di kalangan siswa-siswa MDA. Bahkan kakak-kakakku juga hapal lagu itu.

Dan aku tidak habis pikir hingga sekarang masih hapal lagu itu. Mungkin secara tidak sadar, lagu tersebut sudah membekas di otak dan alam bawah sadarku.

Mungkinkah karena dulu, kami sering menyanyikan. Sesekali, selepas Maghrib aku dan kakakku bernyanyi bersama-sama. Kami pun larut dalam selimut sendu. Saat itu, aku juga tidak tahu mengapa kami menyanyikan lagu itu. Bagi kami, lagu tersebut sangat fenomenal dan membekas.

Dulu, takjarang tanpa disadari air mata menetes saat menyanyikan lagu itu. Makna lagu itu sangat dalam dan menyentuh. Mungkin karena dulu kami masih kecil. Jadi masih sangat perasa dan gampang menangis. Apalagi sesuatu yang berkaitan dengan orang tua. Karena bagi kami, orang tua berharga.

Di usiaku yang ke-21 tahun, tiba-tiba saja aku teringat lagu itu. Lagu yang secara sadar, aku pahami sebagai lagu yang bermakna.

Pondoknya tidak seindah ini (sumber: http://www.lostateminor.com/wp-content/uploads/2008/04/meow-cottage.jpg)

In memorian song:

Di pondok kecil
Berlampu remang
Terdengar suara
Rintih merintih

Lambai melambai
Ibu memanggil
Wahai anakku, si jantung hati

“Jagalah adikmu,
Sepeninggal ibu..
Ibu akan pergi
ke alam baka”..

Kuambil kain putih,
Ku tutup muka ibu..
Lalu kumenangis
Menatap wajah ibu..

Itulah kehendaknya,
Yang Mahakuasa
Malaikat maut, datang menjelma..

Malaikat maut,
Datang menjemput ibu..

Hanya Ingin Diam

Di depanku, di sampingku, disekitarku, dan di sekelilingku. Banyak orang senang dan sibuk berbincang menggunakan telepon. Mereka berbicara dengan durasi yang cukup lama. Sesekali, terdengar ringkihan tawa. Tapi takjarang suara lantang bernada kesal keluar dari mulut mereka.

Entahlah, apa yang mereka bicarakan. Mengapa begitu betah berlama-lama memeluk paksa benda komunikasi itu di telinga mereka. Kata mereka, itu romantis. Mengumbar kata manis tapi ironis. Sekilas, kuperhatikan mereka tampak bingung atas apa yang mereka bicarakan. Pikirku, mereka sudah tidak ada bahan obrolan. Tapi mulut masih berbusa. Mengucap kata ‘sayang’ dan kemudian tersipu. Aku tak habis pikir, mengapa begitu senang bicara sendiri.

Malam ini, aku bukan cemburu karena tidak bisa berbuat seperti mereka. Entahlah, rasanya melankolisku kambuh lagi. Tidak cukup bisa menerjemahkan rasa dalam kata. Yang bisa hanya merangkai asa.

Aku hanya ingin diam. Berdebat dalam sukma. Kata orang itu komunikasi intrapersonal. Aku tak perduli. Aku hanya ingin diam. Bicara pada hati yang masih bisa diajak berkompromi. Setidaknya aku lega. Karena hati masih bicara tentang kebenaran yang puitis. Aku berbeda, tidak sama dengan mereka yang doyan bercerita. Cukuplah kisah ini kubagi pada-Nya. Kurasa, malam ini yang semakin larut itulah yang kumau. Aku hanya ingin diam. Dengan begitu aku cukup sentosa.

Tentang Rajaban dan Kebencian Terhadap Kepulan Asap Rokok

Tanjungjaya (13|07)
Sore ini sama seperti biasanya. Langit sore seakan takjemu menyeruakkan kemesraan alam. Sore ini, hampir sama dengan sore2 sebelumnya. Bedanya, takada aktivitas yang cukup berarti yg kami lakukan. Teman2 saya tengah bermain ke Situ di belakang penginapan kami. Kurasa takjauh. Sekitar 10menit. Entahlah,kenapa mereka tiba2 terpikir untuk ke sana. Saya katakan padamu kawan, Situ itu sebenarnya tidak menarik hati. Bahkan airnya pun tidak jernih. Tapi karna takada pilihan lagi, mungkin tempat itu tujuan favorit kami.

Kawan, saya ingin bercerita padamu tentang tradisi di sini. Bagi saya, ini terlalu ganjil. Mungkin karena saya tidak pernah mengalami kondisi seperti ini sebelumnya. Ya, saya pikir begitu.

Bulan Juli tahun ini bertepatan dengan bulan Rajab (salah satu bulan Islam yang menjadi waktu lahirnya perintah sholat bagi umat Muslim). Namun kawan, pada catatan ini saya tidak akan membahas sejarah lahirnya sholat. Tidak, sama sekali.
Tiga hari yang lalu, ibu Lurah yang rumahnya ditempati teman2 perempuan berkata kepada kami, “Tadi acara Rajaban terakhir. Bapak sedang di sana. Apakah kalian tidak ke sana?,” tanya ibu.

Saya pun menjawab polos, “Gak Bu.. Saya sudah bosan dan malas”

Heu. Kawan, kau bisa bayangkan! Sejak pertama datang ke sini (sekitar tanggal 2 Juli) kami telah disuguhi dengan rangkaian acara rajaban yang sangat banyak dan padat. Untuk satu hari saja, kami bisa datang ke acara Rajaban dua kali. Bayangkan? Bagi saya itu terlalu sering. Awalnya, saya berpikir bahwa kegiatan ini sangat positif. Tapi belakangan ini, saya hanya bisa mengelus dada. Sebenarnya, dengan acara rajaban ini saya bisa bertatap muka dengan warga di sini dan saling berkenalan. Selain itu, tentunya akan menambah pengetahuan keislaman saya. Tapi, agaknya ekspektasi saya tidak terpenuhi. Untuk alasan pertama, mungkin bisa terpenuhi. Selain itu? Saya rasa tidak.

Satu hal yang mengganjal bagi saya adalah kebanyakan warga di sini (semoga tidak melanggar undang ITE, Heu) adalah tentang kebiasan merokok di masjid. Jujur, bagi saya itu aneh. Ya, lagi-lagi kita harus memaklumi bahwa kondisi di lapangan kadang berseberangan dengan kondisi ideal (atau semestinya).
Saya kesal dan marah. Mengapa rumah Allah (tempat ibadah) harus dikotori oleh kepulan asap rokok yang mengandung racun nikotin. Padahal jelas, rokok itu tidak baik bagi kesehatan. (Mm, nampaknya mereka sudah mengetahui akan hal itu. Tapi tidak mempraktekannya).

TOLONG, HARGAI KAMI YANG TIDAK MEROKOK!!! kami butuh menghirup O2 dengan bebas. Tolong, TOLONG SEKALI!!

Oiya, saya mau bercerita. Pernah, waktu Pangaosan di masjid depan rumah kami, saya menyembunyikan 5 batang rokok yang diberikan kepada orang-orang saat itu. Hahaha…
saya puas sekali!

Mereka bukan Laskar Pelangi, tapi Laskar Pemberani

Tanjungjaya, Ciamis (07|07)

Akhirnya, obsesiku mengajar anak-anak kecil pun tersampaikan. Kami (KKN crew) diminta mengajar di salah satu madrasah di dusun Desa, Tanjungjaya.

Lokasi madrasahnya tidak begitu jauh dari tempat kami tinggal, sekitar 7 menit pasti sudah sampai di sana. Letak madrasah pun berada dalam satu lokasi Masjid Jami’ di sana. Setiap dusun di sini memiliki madrasah. Begitu kata salah satu tokoh penting di desa ini. Sebanarnya, untuk hari ini dibagi menjadi dua kelas yaitu kelas bahasa Inggris dan aksara Sunda.

Saya, dan teman-teman lain seperti: Indah,Zaki, Janakan, Dini, Lia, Nurida, dan Jason diminta mengajar bahasa Inggris. Sedangkan Cahyo dan Ryan mengajar aksara Sunda.

we are family

“Akhirnya, saya bisa berbagi sedikit ilmu pada adek-adek di sini. Rasanya, sudah lama sekali saya ingin mengajar anak kecil. Tapi belum terwujud. Alhamdulillah, kini kami pun bisa berbagi sedikit ilmu pada adek-adek di sini”

Senang, bahagia mungkin dua kelas kata ajektiva itulah yang menggambarkan rasa hati saat itu. Apalagi, saat melihat semangat dan antusias mereka belajar. Kami senang, mereka begitu bersemangat.
Sesekali, saya perhatikan raut wajah adek-adek di depan saya. Dengan wajah polos tampak mengguratkan kebingungan. “Ah, mungkin dia belum mengerti”
Dan kami pun mencari cara agar belajar siang itu (sekitar pukul 14.00 WIB) terasa menyenangkan. Alhamdulillah, kami pun menjadi tim yang solid.

Bingung dan susah melafalkan. Mungkin itu yang mereka alami saat itu. Tapi pun begitu, tidak lantas membuat mereka jenuh dan bosan.

Sangat jelas, betapa raut wajah mereka berkata, “aku pasti bisa. Dan aku pun bisa”

Teman, saya katakan padamu, mereka anak2 Indonesia yang cerdas. Dan saya yakin suatu saat mereka akan menjadi orang sukses. Bayangkan, mereka mampu mengeja dan menghafal kosa kata bahasa Inggris dalam kurun waktu beberapa menit saja.

“Woo!! Wunderbar”
Mereka bukan laskar pelangi, kawan! Tapi mereka pemberani. Mereka berani untuk mencoba dan bersemangat untuk menimba ilmu.
Berarti jelas hipotesis saya. Anak Indonesia tidak bodoh. Mereka cerdas. Hanya saja, sistem pendidikan Indonesia masih berantakan. Satu lagi, banyak dari tenaga pengajar Indonesia yang tidak mengetahui bagaimana mengajar dengan hati.

(Note ini ditulis pukul 01.30 saat pertandingan piala dunia Nederland vs Uruguay tapi kami tidak menonton. Dan saya pun menulis note ini diiringi lagu India yang diputar olah Janakan, heu =])