Menjadi Egois

Bandung, 12 Juni 2010.

Entahlah, apa yang tengah saya pikirkan. Di otak ini, berkelabat sekulimit permasalahan dan beberapa momen yang agak susah dienyahkan. Barangkali perlu beberapa treatment agar beberapa files yang ada di otak saya bisa diremove untuk selamanya. Rasanya takada satu pun manusia yang betah berlama-lama menyimpan beberapa memori yang tidak ingin disimpan. Cukuplah kejadian di masa lalu itu menjadi pelajaran bagi saya untuk lebih baik lagi dalam melangkah kedepannya.

Ah, setiap hari ada saja berita yang tidak mengenakkan ditayangkan di televisi. Ya, dalih-dalih statment good news is bad news membuat segala rupa pemberitaan hanya hitam, jarang sekali putihnya. Aneh, di bangsa ini banyak sekali polemik yang menyita energi dan membutuhkan perhatian yang besar.

Belakangan ini, wajah dunia pertelevisian di negara saya dihiasi dengan kabar buruk tentang video aneh. Mm, rasanya pengen komentar. Tapi ya sudahlah. Sudah terlalu banyak orang di negeri ini mengomentari hal itu. Mungkin cukup saya jadi penonton saja, saya pikir itu lebih baik. Ada poin penting dari setiap permasalahan yang disajikan oleh kotak ajaib yang bernama televisi yaitu PEMBELAJARAN.

Ada berita baik, dan seringkali berita buruk. Agaknya itu seperti dua keping mata uang yang takbisa dipisahkan. Ok, memang penting. Tapi hello? Kenapa ya, lagi-lagi energi kita harus tersita oleh permasalahan yang itu-itu lagi? Kadang, saya ingin menjadi manusia yang egois. Ingin sekali menutup telinga dari berita yang tidak baik. bukan karena apa-apa. Taklain karena saya sudah jenuh.

Ok, Dari pada hanya bisa mendumel di dalam hati, sebaiknya saya mencari makan.

Advertisements