Secuil Pengalaman Menjadi Public Relations Kampus


Bandung, Senin 10 Mei 2010. 

Tidak adil jika kesuksesan distandarkan berdasarkan kemapanan finansial. Setiap orang berhak menentukan standar kesuksesan masing-masing.

Sudah lama rasanya, saya tidak mendapatkan pesan singkat dari teh Marlia, Humas Unpad. Biasanya, beliau mengabari saya jika ada event Unpad yang mesti saya liput. Tapi belakangan ini, saya takmendapat kabar sama sekali. Mm, mungkinkah karena memang takada berita yang harus diliput. Atau jangan-jangan, saya sudah dibebastugaskan dari Humas Unpad?

Beberapa minggu yang lalu, teh Marlia memang pernah meminta saya agar meliput berita di Fkep. Namun, waktu itu saya tidak bisa. Karena sudah ada agenda yang tidak bisa diganggu gugat. Alhamdulillah, teh Marlia pun berlapang dada dan mengizinkan saya tidak meliput. Namun sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mendapat instruksi dari teh Marlia lagi untuk meliput berita. Saya pun bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi. 

Ok, Walaupun tidak ada instruksi meliput berita oleh teh Marlia ataupun Pa Erman, saya pun berinisiatif untuk mencari dan menulis berita sendiri. Saya pun kemudian meliput seminar kebahasaan yang diselenggarakan oleh himpunan jurusan saya, yaitu Gelanggang. Setelah meliput berita, saya mengirim tulisan ke email Pa Erman. Namun apa yang terjadi, ternyata berita saya tidak dimuat di website.

Saya pun semakin bingung. Hingga saat kemudian, saya pun mendapat email dari Pa Erman. Kurang lebih pesannya seperti ini, “Maaf, berita ini telah ditulis. Saya akan pertimbangkan posisi Achyar sebagai reporter freelance dengan Bu Weny. Soalnya, seringkali jadwal liputan bentrok dengan jadwal kuliah Achyar.”

Hah? Ternyata ini jawabannya. Hft. Dengan berat hati, saya pun membalas email Pa Erman. “Oh gpp pa. Maaf saya gak bisa optimal. Terima kasih atas kepercayaannya selama ini. saya senang, banyak pembelajaran saya dapat ketika bergabung di Humas Unpad.”

Ok, secara tidak langsung saya telah mengundurkan diri sebagai reporter. Tapi takmasalah. Yang jelas, saya sudah memiliki bekal pengalaman di sana. Sebenarnya, tujuan saya bergabung di UPT Humas Unpad bukan karena membutuhkan finansial. Tapi, saya ingin merasakan pengalaman kerja. Walaupun kerjaannya tidak terlalu berat. At least, banyak sekali hikmah yang saya dapati ketika bekerja sebagai reporter. Selain itu, pengalaman sebagai reporter bisa menambah daftar curriculum vitae hehe.

Oh ya, saya ingin mencerita sedikit pengalaman saya sebagai reporter. Mm, menjadi reporter adalah tugas yang cukup berat. Kenapa? Karena kita harus selalu menjaga mood kita. Yap, itulah yang rasakan selama kurun waktu tiga bulan dari bulan Januari-Maret. Karena jika mood kita gak baik ato lagi bad mood, nulis berita seakan susah banget. Padahal cuma dua halaman aja. Tapi sumpah, kalo moodnya gak bener kita bakal males banget nulis berita.

Selain menjaga mood, beban lain yang harus kita hilangkan adalah MENGHAPUS KATA DEADLINE. Bagi journalist, kata DEADLINE sangat menyebalkan. Pasalnya, kata tersebut sakti beut. Kalo udah deadline maka tulisan kita akan HANGUS. Ugh.. saya pernah mengalami hal itu. Ketika menulis kuliah umum tentang Museologi di FASA, saya telat menulisnya karena saya bingung harus menulis apa. Kenapa? Karena saya waktu itu lagi BETE. Mm, soalnya kuliah umum itu menggunakan BAHASA PERANCIS. Arg, gila aja mana ngarti ogud. Kalo bahasa Jerman ato Inggris ya, insyaAllah ngerti. Lah ini? 

Ya, saya benci DEADLINE karena DEADLINE menyita jatah tidur saya. Hikss T_T harus menulis, menulis, dan menulis hingga larut malam. But, it’s okey. It’s so nice experience for me. (Gak boleh mengeluh, nikmatin aja). Ok sippo, saya akan nikmatin proses ini. Walau dihujani katakutan akan DEADLINE. Namun, rasa kantuk karena menulis hingga larut malam pun terbayar ketika esoknya saya melihat tulisan saya dimuat.. wah, keren.. banyak orang yang baca pastinya.. Mm.. Alhamdulillah ya Rabb, hamba diberikan kemampun menulis. Yak, saya senang!

Dan semua itu terasa indah jika kita mengerjakannya dengan sepenuh hati. Alhamdulillah saya bisa melewati semua itu dengan cukup baik. oy teman, jadi reporter atau journalist itu gak buruk kok. Banyak keuntungannya lo! Pertama, kita bisa kenal banyak orang sukses. Selain itu kita juga dikenal (haha.. I’m so famous^^). Nah, di samping itu, kita juga bisa makan enak dan tentunya bisa ikut acara2 tanpa harus bayar alias GRETONGAN.

Ok, now i wanna thanks to bu Wenny (Kepala Humas Unpad), pa Erman, teh Marlia, Nafielah (rekan kerja gue yang paling solid) dan buat semuanya yang udah mensupport saya. Thanks a lot!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s