Perlu Inovasi Baru dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah


Laporan oleh: Mahfud Achyar

Kami Cinta Bahasa Indonesia (Sumber: google)

Banyak orang yang beranggapan bahwa pelajaran bahasa dan sastra Indonesia merupakan mata pelajaran yang gampang. Bahkan, tidak jarang banyak siswa-siswa yang menganggap remeh bahasa dan sastra Indonesia sehingga kerap kali tidak terlalu antusias untuk memahami betul bagaimana bahasa dan sastra Indonesia.

Padahal sebenarnya, jika dipelajari lebih dalam, pelajaran bahasa dan sastra Indonesia cukup sulit. Buktinya, masih banyak siswa yang mendapatkan nilai yang tidak bagus pada mata pelajaran ini. Bahkan, banyak siswa yang tidak lulus ujian nasional lantaran gagal pada ujian bahasa dan sastra Indonesia.

Fenomena tersebutlah yang diangkat pada Seminar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang merupakan acara pembuka pada kegiatan Pekan Chairil yang diselenggarakan Gelanggang Himpunan Sastra Indonesia di aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Fakultas Sastra, Jl. Raya Bandung-Sumedang KM 21 Jatinangor, Senin (19/04).
Pada seminar tersebut yang menjadi narusumber yaitu penulis buku dan guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Santa Maria 1 Cirebon, JS. Kamdhi, editor buku dan alumnus Sastra Indonesia Unpad, Aminudin, dan dimoderatori oleh Ryan yang juga merupakan alumnus Sastra Indonesia Unpad.

Di samping itu, seminar yang dibuka dengan persembahan musikaliasi puisi oleh mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2009 ini turut dihadiri oleh Pembantu Dekan III Fakultas Sastra, Budi Rukhyana, Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Baban Banita, M.Hum, tamu undangan dari berbagai sekolah, mahasiswa Unpad serta peserta umum.

Dalam sambutannya, Baban Banita menyampaikan rasa bangga kepada panitia penyelenggara kegiatan Pekan Chairil. Menurutnya, acara ini sebagai wujud kepedulian mahasiswa terhadap perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. “Pada bulan April ini, sebenarnya ada dua tokoh yang berpangaruh di Indonesia yaitu R.A Kartini dan Chairil Anwar. Namun, tidak banyak orang memperingati hari berpulangnya tokoh sastrawan yang menjadi tokoh pembaharu dalam perkembangan sastra di Indonesia yaitu Chairil Anwar”, ungkap Baban.

Ditambahkan Baban, melalui berbagai acara pada Pekan Chairil terutama seminar ini mampu memberikan sebuah solusi kepada guru-guru bahasa dan sastra Indonesia agar senantiasa melakukan inovasi-inovasi untuk mengembangkan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah.

Aminudin menilai pengajaran bahasa dan sastra Indonesia kurang berkembang di sekolah lantaran penyampaian materi pelajaran yang monoton dan hanya bersifat satu arah. Sehingga, indikator keberhasilan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia hanya dilihat dari segi nilai ujian. Padahal, ada dua aspek yang penting dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yaitu aspek hiburan dan kebermanfaatan.

“Sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah sangat kurang memperkenalkan sastrawan dan ahli bahasa kepada siswa. Tidak heran jika kemudian wajar jika banyak siswa tidak mengenal sastrawan dan ahli bahasa. Padahal, informasi berkaitan dengan sastra dan bahasa merupakan pengetahuan yang harus dimiliki siswa di setiap jenjang pendidikan di sekolah.

Sementara itu, JS Kamdhi memaparkan inovasi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang bisa diterapkan guru-guru di sekolah. “Pengalaman 28 tahun menjadi guru membuat saya yakin bahwa internalisasi merupakan strategi pemberdayaan murid sangat efektif. Hal ini karena strategi internalisasi sejalan dengan konsep belajar kontekstual yaitu sinkronisasi antara mata pelajaran (dunia ideal) dengan situasi kehidupan para murid (dunia nyata)”, papar Kamdhi.

Lebih lanjut, Kamdhi juga menjelaskan bahwa pada proses internalisasi akan terjadi proses pempribadian dan pembudayaan karena murid termotivasi untuk menghubungkan pengetahuan dan terapannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka media yang merupakan strategi pembelajaran yang efektif dan komprehensif adalah diktat, buku, serta lembaran kerja siswa.

Hampir senada dengan Kamdhi, Aminudin pun memberikan beberapa inovasi dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia yaitu dengan cara memperkenalkan siswa-siswa kepada kegiatan-kegiatan komunitas kebahasaan dan kesastraan yang ada di daerah masing-masing. Dengan begitu, diharapkan siswa mendapatkan input lain yang berbeda dengan yang mereka serap selama di sekolah.

2 thoughts on “Perlu Inovasi Baru dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s