Menanti Lembaga Pers Mahasiswa Independen Tingkat Universitas


FOKUS

berani bicara fakta

Oleh: Mahfud Achyar
“Pers diyakini merupakan kekuatan keempat dalam demokrasi selain tiga kekuatan lain, yakni kekuasaan eksekutif, legislatif, dan judikatif. Sebagai pilar demokrasi, keempatnya bekerja dalam satu sistem yang memiliki hubungan saling mengawasi. Keempatnya secara normatif bekerja untuk kepentingan rakyat sebagai dasar dari eksistensi demokrasi”.

Hal tersebut dijelaskan aktivis pers, Rum Aly saat mengisi seminar jurnalistik yang digelar BEM Kema Unpad periode 2008-2009 di Aula PSBJ, Fakultas Sastra Unpad beberapa waktu lalu. Pada seminar jurnalistik tersebut, Rum juga menjelaskan bahwa peran pers yakni sebagai media untuk menyampaikan gagasan dan kontribusi pemikiran untuk dilontarkan ke tengah publik sebagai bagian dari upaya menekan dan mengontrol kebijakan pemangku kekuasaan, termasuk pers mahasiswa.

Sementara itu, eksistensi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) merupakan salah satu indikator apakah demokrasi di tataran mahasiswa berlangsung dinamis. Di Unpad sendiri, model dengan skala lebih luas adalah penerbitan yang dilakukan di tingkat universitas. Menurut Rum, sebenarnya Unpad dulunya pernah memiliki LPM di tingkat universitas. “Kampus Universitas Padjadjaran pernah memiliki Gema Padjadjaran pada akhir tahun 1960 hingga awal 1970-an sampai menjelang meletusnya peristiwa 15 Januari 1974. Kemudian, setelah peristiwa itu lahirlah Aspirasi. Keduanya diterbitkan di bawah naungan Dewan Mahasiswa (Dema,red) atau lembaga mahasiswa internal kampus dengan supportasi otoritas kampus.

Namun jika berkaca dengan melihat kondisi saat ini, LPM tingkat universitas di Unpad nyatanya turut hilang sejalan dibubarkannya Dewan Mahasiswa. Kendati demikian, menurut Wakil Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Kema Unpad, Pratiwi menyatakan bahwa Kema Unpad mencoba merintis kembali agar terbentuknya LPM independen di tingkat universitas.

“Inisiasi pembentukan LPM tingat universitas sebenarnya telah tercetus sejak tahun 2006 pada masa kepengurusan BEM Kema Unpad yang dipimpin oleh Tubagus Ridwan. Hal tersebut merupakan rekomendasi kongres jangka panjang yang semestinya telah terwujud pada kepengurusan Gena Bijaksana. Sebenarnya, pembentukan LPM tersebut bukanlah semata tugas BEM semata, melainkan juga tugas BPM. Akan tetapi, hingga saat ini tugas tersebut belum terwujud karena beberapa kendala,” ungkap Pratiwi.

Departemen Komunikasi dan Informasi, BEM Kema Unpad yang berperan sebagai fasilitator pembentukan LPM dalam praktiknya ternyata mengalami kesulitan untuk menghimpun minat mahasiswa Unpad yang tertarik menggeluti kegiatan jurnalistik. “Beberapa upaya telah kami lakukan untuk memfasilitasi terbentuk LPM tingkat universitas dengan cara; mengadakan forum komunikasi, penyebaran opini publik melalui propaganda, dan mencoba merumuskan konsep LPM bersama rekan-rekan yang telah bergiat di LPM di tingkat fakultas. Namun hasilnya, pada tahun kemarin kami belum mampu untuk mewujudkan LPM tingkat universitas,” ujar Menteri Komunikasi dan Informasi BEM Kema Unpad, Aisha Shaidra.

Menanggapi pernyataan yang disampaikan Aisha, Pratiwi menilai bahwa belum terbentuknya LPM universitas lantaran kurang optimal dan intensnya forum komunikasi yang dilakukan BEM terhadap mahasiswa Unpad yang tertarik menggeluti pers. “Sebenarnya, jika dikomunikasikan dengan lebih intens dan tidak sekadar mengkaji saja, saya pikir hal tersebut akan terwujud,” kandas Pratiwi. Akan tetapi, Pratiwi juga menyadari bahwa pembentukan LPM universitas bukanlah pekerjaan yang mudah. Perlu tahap-tahapan yang lebih matang agar nantinya LPM universitas yang dibentuk merupakan LPM yang benar-benar independen. Oleh karena itu, BEM dan BPM hingga saat ini terus berupaya agar LPM universitas bisa terwujud pada tahun ini.

LPM haruslah independen

Wacana pembentukan LPM tingkat universitas ternyata mendapat perhatian khusus di kalangan mahasiswa Unpad sendiri. Dani Ferdian misalnya, mahasiswa FK Unpad 2007 ini menuturkan bahwa ia mengetahui adanya wacana pembentukan LPM tingkat universitas. Ia juga menilai bahwa LPM tingkat universitas dirasa perlu keberadaannya karena LPM bisa dijadikan wadah mahasiswa beropini dan menyampaikan gagasannya yang tertuang dalam tulisan terkait isu-isu yang tengah berkembang, baik isu internal maupun eksternal kampus. Akan tetapi menurut Dani, LPM haruslah menjunjung nilai-nilai jurnalistik dan bersifat independen. “Karena jika LPM, apalagi di tingkat universitas tidak independen, LPM tersebut bisa saja ditunggangi oleh berbagai kepentingan yang dampaknya, pemberitaan dalam media LPM tersebut bertendensi kepada pihak yang berkepentingan,” ujar Dani.

Lebih lanjut, Dani juga menjelaskan bahwa kehadiran LPM merupakan sarana baru pergerakan mahasiswa selain gerakan kultural ke arah gerakan intelektual yang berbasis intelektualitas sebagai mahasiswa.

Setali tiga uang dengan apa yang dikatakan Dani, Pratiwi pun memandang kehadiran LPM sebagai kebutuhan mahasiswa untuk mendapatkan informasi dan wawasan. “Universitas lain punya LPM tingkat universitas. Sebut saja UI dengan medianya Suara Mahasiswa, UGM yang terkenal dengan Balairung, dan Universitas Negeri Padang dengan Ganto. Kendati demikian, sebenarnya kita memiliki LPM di tingkat fakultas seperti; Djatinangor (Fikom), Polar (Fisip), Medicinus (FK), dan yang lainnya. Tapi menurut saya, perlu adanya LPM tingkat universitas agar bisa membawa nama Unpad di kancah pers mahasiswa se-Indonesia,” papar Pratiwi.

LPM tingkat fakultas yaitu Djatinangor ketika dimintai keterangan terkait tawaran beberapa pihak agar Djatinangor naik menjadi LPM tingkat universitas menyampaikan bahwa ketika LPM fakultas sudah mampu mencakup pemberitaan untuk tingkat universitas, keberadaan LPM tingkat universitas tidak begitu perlu. Karena tidak melulu LPM tingkat fakultas mengangkat berita tentang fakultasnya saja.

“Menjadi LPM universitas? Sudah sering kali hal itu ditawarkan kepada kami. Namun, kami sebagai catatan bebas mahasiswa merasa hal itu belum perlu. Karena kami selalu berusaha untuk tetap menjaga ke-independen-an kami dalam menyampaikan berita secara jujur tanpa ada intervensi dari pihak manapun,” ujar Pemimpin Umum Djatinangor, Rini yang dilansir via surat elektronik.

Sementara itu, BEM Kema Unpad terus berupaya agar pembentukan LPM tingkat universitas di Unpad terwujud tahun ini. “Alhamdulillah, sudah ada beberapa orang yang menawarkan diri untuk menjadi insiator pembentukan LPM tingkat universitas. Harapan kami merekalah nantinya yang akan menjadi founding father LPM universitas dan mendekrasikan diri ketika kongres Kema Unpad mendatang,” ungkap Aisha. (dimuat di media Interval21)

4 thoughts on “Menanti Lembaga Pers Mahasiswa Independen Tingkat Universitas

  1. Kak, mohon doanya, sekarang Unpad mau membuat Warta Kema Unpad, tahun ini masih di bawah naungan BEM Kema, inshaAllah mohon doa untuk tahun depan semoga sudah bisa berkembang dan berdiri sendiri🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s