I Luv Linguistics


“Pilihan yang Tepat untuk Hidup yang Bermartabat”

Memilih jurusan dan perguruan tinggi setelah lulus SMA adalah pilihan yang cukup sulit. Pasalnya, kita harus betul-betul memilih pilihan yang tepat, karena jika salah pilih tentunya akan mengundang resiko yang cukup berat.

Demikan juga dengan saya. Itulah dilema yang saya alami pasca lulus dari SMA. Saya dihadapkan dengan berbagai pilihan yang cukup sulit. Yaitu memilih jurusan ketika ujian SPMB. Pilihan pun hadir dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada waktu itu, banyak pihak yang memberikan rekomendasi kepada saya, jurusan apa yang seharusnya saya pilih. Paman saya merekomendasikan agar saya memilih kedokteran. Kakak saya mengusulkan jurusan Hubungan Internasional dan Psikologi.

Sementara itu, orang tua saya menyerahkan dan mempercayai sepenuhnya kepada saya pilihan apa yang sesuai dengan minat saya. Saya pun semakin bingung. Apalagi formulir SPMB harus segera dikembalikan. Dan pada akhirnya, saya memilih jurusan Ilmu Komunikasi dan Sastra Indonesia Unpad. Tentunya, banyak orang bertanya. Mengapa saya memilih jurusan sosial? Padahal waktu di SMA saya jurusan IPA. Saya pun menjelaskan bahwa saya lebih tertarik mendalami ilmu sosial ketimbang ilmu eksak. Menjelang ujian SPMB, saya pun belajar ilmu sosial dalam kurun waktu satu bulan.

Alhamdulillah, saya diterima jurusan Sastra Indonesia Unpad. Awalnya, saya kecewa kerena hanya lulus di pilihan kedua. Namun, saya pun berpikir mungkin inilah jodoh saya. Saya berpikiran positif bahwa nantinya di jurusan Sastra Indonesia-lah saya akan menjadi orang yang sukses.

Ya, manusia hanya bisa berencana dan Tuhan-lah yang pada akhirnya menentukan jalan hidup saya. Sebetulnya, saya memilih jurusan Sastra Indonesia sebagai cadangan kalau-kalau tidak lulus SPMB. Namun, bukan berarti saya memilih jurusan ini hanya sebatas takut tidak lulus SPMB saja. Banyak alasan yang melatarbelakangi kenapa saya memilih jurusan ini.

Hal ini bermula karena ketertarikan saya belajar Sastra dan Bahasa Indonesia di bangku SMA. Dulu, saya pikir cakupan ilmu Sastra Indonesia sangat sempit—hanya sebatas kalimat dan aktif pasif, dan sebagainya. Namun, ketika saya belajar lebih dalam lagi, ternyata garapan Sastra Indonesia itu sangat luas. Sastra Indonesia tidak hanya bicara masalah sastra dan kebahasaan. Namun juga bicara tentang komunikasi, jurnalistik, dan aspek ilmu lainnya yang memerlukan bahasa (dalam hal ini bahasa Indonesia).
Selain itu, alasan utama saya memilih jurusan Sastra Indonesia karena saya menyukainya. Sejak di bangku SD hingga SMA saya selalu mendapatkan nilai terbaik untuk mata pelajaran bahasa Indonesia. Bahkan, pada nilai Ujian Nasional (UN) SMA saya mendapatkan nilai bahasa Indonesia tertinggi di sekolah yaitu 9.60.

Tujuan saya memilih jurusan ini karena saya ingin menjadi seorang linguis yaitu orang yang pakar dalam hal bahasa. Kelak, saya bermimpi akan menjadi pengajar, peneliti, dan konsultan bahasa di luar negeri. Saya bercita-cita suatu saat nanti bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional. Mimpi saya pun semakin mantap dan saya pun merasa semakin optimis. Pasalnya, perkembangan bahasa Indonesia di luar negeri cukup membanggakan. Banyak negara maju dunia seperti Belanda, Australia, China dan yang lainnya membuka kelas bahasa Indonesia di institusi pendidikannya. Dan saya berharap suatu saat bisa menjadi salah satu pengajar di negara-negara tersebut.

Satu hal lagi alasan saya mengapa saya memilih jurusan Sastra Indonesia karena saya ingin mematahkan stigma masyarakat pada umumnya yang menilai bahwa lulusan jurusan Sastra Indonesia nantinya akan memiliki masa depan yang suram. Saya akan katakan itu salah. Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia saya tahu betul bagaimana kualitas mahasiswa di kelas saya. Walaupun kami jurusan Sastra Indonesia, bukan berarti soft skill (seperti bahasa asing, dsb) kami lebih rendah dibandingkan jurusan lain. Kami belajar banyak hal. Bukan hanya belajar Sastra, Linguistik, Budaya, Filologi, dan sebagainya. Namun yang lebih terpenting adalah, kami belajar dan diajari bagaimana memanusiakan manusia dan memahami etika humaniora.

Sekarang merupakan tahun ketiga saya di Jurusan Sastra Indonesia Unpad. Itu artinya, hanya tersisa waktu satu tahun lagi saya belajar di Fakultas Sastra Unpad. Berbagai target dan mimpi-mimpi pun telah saya susun secara cermat. Baik itu yang sifatnya jangka pendek maupun jangka panjang. Setelah lulus dari Unpad dengan predikat cumlaude, saya bercita-cita melanjutkan S2 di Jerman, tepatnya di Univesity Munich jurusan Master’s in Humanitarian Action (NoHa) yang berlokasi di Bochum.

Bekal belajar bahasa Jerman selama tiga tahun di SMA memantapkan saya melanjutkan S2 di Jerman. Saya pun kembali mereview pelajaran bahasa Jerman yang telah saya dapatkan di bangku kuliah sembari mencari informasi beasiswa untuk kuliah S2. Selain berkuliah saya pun akan bekerja sebagai pengajar, peneliti, dan konsultan linguistic dan humaniora di sana. amiin
Viva linguistics^_^

2 thoughts on “I Luv Linguistics

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s