Stereotipe


Kata bijak hari ini: Janganlah lihat siapa yang memberikan nasehat kepadmu. Tapi lihatlah apa yang diberikannya untukmu. (Anonim)

Kawan, siapa pun bisa memberikan inspirasi untuk Anda. Tak terkecuali; tukang sapu jalan, satpam, dosen, teman karib Anda, dsb. Namun terkadang, kita seakan enggan untuk sedikit memetik ilmu dari lingkungan sekitar kita. Seolah kitalah yang paling cerdas dan tahu akan segala hal. Mungkin, kita menganggap orang yang memberi nasehat kepada kita lebih rendah wawasannya dibandingkan kita. Nah, inilah yang dimaksudkan hadits sebagai salah satu sifat orang sombong. Orang sombong adalah orang yang tidak mau menerima kebenaran dan merendahkan orang lain. Naudzubillah. Semoga kita bukan termasuk ciri-ciri tersebut. Amin.

Indonesia People (Sumber: http://google.com)

Kali ini saya akan bercerita tentang sedikit ilmu yang saya timba dari seorang dosen Fakultas Hukum yaitu bapak Indra Perwira ketika memberikan kuliah Century di Bale Rumawat , Unpad (21/01).

Saya akan mengulas sedikit sebuah teori Culture Studies yaitu Stereotipe. Teori ini menjelaskan konspesi mengenai sifat atau golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Nah, tanpa disadari atau tidakternyata teori ini begitu lekat dengan pandangan manusia dari belahan manapun. Misalnya seperti ini, Orang Eropa mungkin menganggap manusia Indonesia sebagai pribadi yang vandalism, tidak teratur, dan memiliki budaya disiplin yang buruk. Hal ini dibuktikan dengan aliran teori Filsafat empirisme yang memandang segala hal yang terjadi dari pengalaman (yang ditangkap indera) manusia.

Sekarang jadi pertanyaan, kenapa orang Eropa bisa berpandangan seperti itu terhadap orang Indonesia yang jelas-jelas itu bersifat subjektif dan mengeneralisasi semua orang Indonesia. Kawan, itulah yang disebut stereotipe.

Mungkin stereotipe itu juga berkembang hingga saat ini di dalam setiap pribadi kita. Adakah yang salah dengan stereotipe? Hingga saat ini tidak ada yang menyatakan bahwa itu kata sifat yang salah. Namun, jika kita stereotip semakin dikembangbiakkan bisa saja menjadi virus yang bernama buruk sangka.
Ok, kembali ke topik awal tentang perbincangan saya dan teman-teman bersama pak Indra Perwira. Ini akan menjawab bagaimana korelasi stereotipe dengan kepribadian suatu bangsa.

Indra Perwira: Suatu ketika pada tahun 1978, saya berbincang dengan teman saya dari Korea. Saat itu saya berada di Korea. Teman saya itu berkata kepada saya.

Mr. Korea: Kenapa orang Indonesia meminum kopi dengan perlahan (saat kopi panas). Berbeda dengan kami (bangsa Korea) yang menunggu hingga kopi itu agak dingin, dan langsung meneguk kopi itu dengan satu tegukan saja.

Indra Perwira: Ya, karena pada dasarnya kami berasumsi biar lambat asalkan pasti

Mr. Korea: Nah, itulah yang membedakan kami bangsa Korea dan Indonesia. Kalian mengerjakan sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan selama dua jam, tapi dilakukan selama empat jam!

Indra Perwira: (Saya sebenarnya merasa tersinggung sebagai orang Indonesia. Tapi mungkin benar, bahwa filosofi suatu bangsa sedikit banyaknya berpangaruh terhadap kepribadian suatu bangsa).

Kawan, mungkin anda akan berpikir betapa sotoynya Mr. Korea itu. Dengan gampangnya menjudge suatu bangsa tanpa beralasan. Karena faktanya, tidak semua orang Indonesia yang seperti itu. Saya yakin, masih banyak orang di luar sana (kalau kata teman saya invisible hands) yang mungkin berpikir lebih maju dibandingkan orang Korea atau bahkan bangsa Eropa. Alih-alih stereotipelah yang berperan saat itu.

Sebagai orang yang terlahir di bumi Indonesia, saya pikir kita tidak akan terima dengan tudingan yang berkonotasi negatif seperti itu. i am proud to be a Indonesian. And we will try to change our habbits to be a better. Lets start, guys.Memang tidak dipungkiri itu stereotipe itu benar adanya karena kata orang bijak, Kebiasaan akan menjadi karakter, karakter akan menjadi tabiat. Terlepas dari itu semua, saya dan kita akan buktikan bahwa karakter kami dibentuk dari ajaran suci Islam sebagai Rahmatan lil alamiin. Itu akan cukup membantah stigma-stigma tentang generalisasi. Every body is different with others. So, dont judge someone by the country, culture, skin, etc.

Jatinangor, 22 Januari 2010. Pukul 0:19 WIB. Ketika lagu Whitney Houston- I’ll always love you menemani malam yang semakin merangkak pagi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s