Belajar dari Tegar dan Sinar


i’ve finished my post.
Now i’m writing a short summary.🙂


Hari ini, sebuah potret kehidupan anak manusia kembali saya saksikan. Sungguh menggugah dan inspiratif. Sehingga saya pun hanya bisa terdiam. Mungkin ini begitu rumit untuk dijelaskan. Tapi saya coba untuk pahami.

Sebelum saya memulai tulisan ini, saya ingin menanyakan kabar teman-teman hari ini? Baikkah? Atau kondisi teman-teman sedang tidak sehat? Tapi saya yakin, teman-teman masih bisa beraktifikatas normal dengan anggota tubuh yang lengkap, bukan? Atau teman-teman masih bisa kuliah tanpa harus menempuh jarak berpuluh-puluh kilo? Ya, saya yakin kita masih lebih baik. Bukan begitu, kawan?

Namun teman, pagi ini (8/01) saya menyaksikan sebuah kisah yang berbeda di tempat lain. Seorang anak kecil yang harus menerima kenyataan bahwa salah satu kakinya harus diamputasi karena dilindas kereta api. Ia mugkin tidak habis pikir jika ayah tirinya yang telah menyebabkan itu semua. Ia masih kecil, teman. Bahkan mungkin, anak itu tidak pernah bermimpi bahwa di usianya yang masih kecil, ia harus kehilangan salah satu anatomi yang begitu penting bagi manusia. Anak itu bernama Tegar teman. Entahlah, apakah namanya itu memang representasi Tegar hari ini? Dengan ketidakberdayaannya, dia masih bisa menyunggingkan senyuman dan bersemangat menjalani hari-harinya.

Alhamdulillah, ternyata masih ada yang peduli dengan kondisi Tegar. Sekarang Tegar sudah memiliki kaki baru. Ia sangat senang. Hari-harinya dijalani dengan penuh ketegaran. Tegar sangat senang sepak bola. Walaupun dengan kondisi yang sebenarnya sulit, tapi Tegar mampu buktikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan yang berarti baginya. Ia masih optimis dengan mimpi dan cita-citanya. Ia tetap menjadi Tegar yang selau tegar.

Sementara itu, potret lain juga terkisah di Sulawesi. Seorang anak kecil yang berusia enam tahun harus menghidupi, menjaga, merawat, dan mencintai ibunya dengan sepenuh hati. Ibu anak itu takberdaya karena ia menderita lumpuh. Sedangkan ayahnya tidak ada kabar beritanya. Anak itu bernama Sinar, kawan. Awalnya, saya tidak mengira anak sekecil itu mampu melakukan hal itu semua. Saya terbayang akan kondisi saya ketika masih kecil. Manja dan hanya bisa merepotkan orang tua. Sedangkan Sinar? Ia masih terlalu kecil untuk memahami cobaan hidup ini. Sinar sungguh luar biasa. Di tengah kondisi yang sangat sulit, Sinar masih bersekolah (walaupun jarak sekolah dari rumahnya jauh). Ia berharap suatu saat kelak bisa menjadi seorang dokter. Ia ingin mengobati kaki ibunya, kawan. Cita-cita Sinar begitu mulia.

Pertanyaan pun kemudian terbesik dalam benak saya. Masihkah saya tegar seperti pohon kurma dan bersinar seperti mentari?

Di usia yang sudah tidak kecil lagi, saya belum mampu memahami makna hidup dan kehidupan dengan bijak. Sedangkan Tegar dan Sinar, di usianya yang masih kecil sudah mempraktikan kedewasan dan kebijaksanaan dalam hidup. Saya tersadarkan bahwa selama ini saya sering mengeluh. Mengeluh atas berbagai hal yang tidak sesuai dengan kehenda saya. Dan mungkin ini juga pernah teman-teman alami. Betapa seringnya kita melontarkan kata, “Ah, gw gak pede pake baju ini. Ah, gw bosen ama film-film di bioskop. Ah, gw males kuliah (padahal jaraknya sangat dekat). Ah, gw kenapa kayak gini ya? Coba kayak gini.”

Teman, mungkin kita terlalu sering melihat ke atas. Sehingga kita lupa untuk menengok ke bawah. Mungkin kita terlalu egois dengan kehidupan kita. Tanpa melihat di sekitar kita. Teman, dua potret itu nyata terjadi. Bukan sebuah fiksi dengan bumbu diksi yang menggugah atau setting cerita yang dirancang mengharu biru. Tidak kawan! Itulah sekelumit kisah kehidupan anak manusia yang semestinya menjadi pembelajaran untuk kita.

Indah ya jika selalu berbahagia dan tidak mengeluh. Dan kita bisa melihat segalanya lebih dekat lebih bijaksana.Semoga bisa menginspirasi kita semua.

Jatinangor, 08/01. Pukul 11:09 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s