Ranking Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia

Universitas Indonesia, Depok
Gadjah Mada University, Yogyakarta
ITB, Bandung
Padjadjaran University, Bandung
IPB, Bogor

Temen-temen, tentunya pernah buka KASKUS kan? Nah, di Kaskus banyak dimuat hal-hal unik seperti 10 tokoh terkejam di dunia dsb. Terinspirasi dari itu, gw juga bikin klasifikasi PTN Favorit versi gue. Landasannya apa ya? Landasan atas observasi gw selama ini. Menanyakan PTN-PTN yang terkenal kepada siswa SMA yang mau masuk PTN.

Rata-rata mereka menjawab; UI, UGM, ITB, UNPAD, DAN IPB. Bahkan, salah satu Bimbingan BelajaR (Nurul Fikri) setau gw menamai kelas bimbelnya dengan lima PTN tersebut. Ya, pada dasarnya 5 PTN inilah jagoan gw. Dan yang keren tentunya PTN yang ada di Bandung yaitu ITB dan Unpad. Bandung memang menyimpan keeksotikan tersendiri.

Gw bangga menjadi salah satu dari lima PTN itu. U-EN-PE-A-DE BRAVO!!!

Any way, walo kita beda-beda PT tapi it’s okay. Asalakan kita memberikan yang terbaik untuk Almamater dan bangsa kita. Demi Indonesia yang lebih baik. Ok? Ayo kita berkontribusi sebanyak-banyaknya.
^,^d

Peringatan Hari Ibu, Mahasiswa Bagikan Mahasiswa Kepada Masyarakat

Laporan oleh: Mahfud Achyar

http://www.detik.com

[interval21, 22/12] Bandung- Sekitar 13 orang anggota BEM Kema Unpad melakukan aksi simpatik dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-81 di depan Gedung Sate. Dalam aksinya, massa membawa spanduk ‘Ibu, Kau pahlawanku. Kau selalu di hatiku’ seraya menyanyikan lagu ‘Kasih Ibu’.

Aksi yang dimulai pukul 10.35 WIB itu mendapatkan respon positif dari salah seorang anggota dewan komisi C DPRD Jabar, Ine Purwadwi. “Saya sangat berterima kasih atas perhatian teman-teman mahasiswa terhadap kaum ibu. Permasalahan tentang kaum ibu masih banyak. Semua itu tanggung jawab kita bersama. masih ada PR-PR yang harus diselesaikan,” tutur Ine.

Sementara itu, Kantry Maharani, kordinator aksi menjelaskan bahwa pembagian bunga ini sebagai simbol betapa ibu begitu berharga dan sangat berjasa.Kami membagikan pita hitam putih sebagai simbol atas kondisi yang terjadi pada kaum ibu. Pita putih menunjukkan kemulian ibu, sedangkan pita hitam adalah sisi gelap kematian ibu yang angkanya masih tingi.

“Kami sangat menyayangkan terhadap kondisi kaum ibu di Indonesia. Seharusnya masalah ini teratasi. Saya berharap adanya pemerataan fasilitas kesehatan di Indonesia dan pemerintah seharusnya lebih concern menuntaskan masalah ini. Karena kaum ibu adalah salah tonggak pembangun peradaban untuk Indonesia yang lebih baik,” jelas Kantry.

Aksi berakhir tertib pada pukul 11.05 WIB. Setelah melakukan aksi simpatik, massa bergerak ke BIP sembari membagikan bunga, puisi, dan pita sepanjang perjalanan.

Sang Pemimpi: Sebuah Film AYAHKU JUARA SATU SEDUNIA

Sang Pemimpi the Movie

(Senin, 21/12)

Aku bersama Danu, Kang Hassan, dan satu lagi teman Kang Hassan (yang tidak saya kenal) menonton film Sang Pemimpiť garapan Sutradara ternama Riri Riza dan Produser, Mira Lesmana. Film yang diangkat dari novel karangan Andrea Hirata, ini tentunya ditunggu-tunggu oleh penonton. Pasalnya, film ini juga menghadirkan Ariel (Vocalis Peterpan) yang berperan sebagai Arai, saudaranya Ikal.

Sang Pemimpiť tak jauh berbeda dengan film Laskar Pelangiť jika dilihat dari setting, tokoh, dan pesan moralnya. Namun, satu hal yang saya kagumi pada film ini adalah KEKUATAN CINTA, yang saya pikir film ini begitu memesona.

Mathias Muchus, ayah Ikal merupakan salah satu tokoh sentra dalam film ini. Dari segi penokohan, tokoh beliau terasa begitu tepat memainkan peran sebagai ayah yang bijaksana, pendiam, dan begitu menyayangi Ikal. Selanjutnya, tokoh-tokoh dalam film terasa begitu kuat dan saling melengkapi.

“Bermimpilah. Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu. Sungguh, saya merinding ketika mendengar kata-kata itu mengucur dari mulut seorang anak muda Melayu yang tak punya siapa-siapa, yaitu Arai. Luar biasa! Walaupun dengan ketidakberdayaan yang menghimpitnya, tapi Arai yakin pasti mimpi-mimpinya akan terwujud. Ia yakin. Bahkan sangat yakin bahwa mimpi-mimpinya bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.

Secara ringkas, film ini bertemakan “JANGAN TAKUT UNTUK BERMIMPIť. Karena KETIKA kita kita yakin dan sungguh-sungguh akan mimpi-mimpi itu, InsyaAllah Tuhan akan menjawabnya. Arai dan Ikal adalah representasi anak manusia yang tak lelah untuk bermimpi.

Aku Cinta Papa Karena Allah

Mathias Muchus dalam satu scene Film Sang Pemimpi

Mata ini tiba-tiba berkaca. Ketika salah satu scene yang begitu mengharu biru. Ayah Ikal, dengan baju safari empat kantongnya, datang ke sekolah Ikal untuk menerima raport Ikal dan Arai. Tapi berbeda dengan penerimaan raport sebelumnya, kali ini Ayah Ikal harus menelan kekecewaan karena nilai RAPORT IKAL ANJLOK. Ia hanya bisa mengulum senyuman. Seakan ketegaran dan kebijaksanaan begitu nyata dari air wajahnya.

Aku tertegun diam. Tiba-tiba bayangan masa lalu, ketika masa kecil bersama Papa melintas dalam benakku. Aku terus berjegelah akan memori-memori itu. Masa ketika aku diberi mainan yang sangat banyak oleh papa, digendong di atas pundaknya, diajak jalan-jalan, dibelikan baju lebaran, dan banyak hal. Semuanya seakan terasa nyata. Wajah Mathias Muchus begitu mirip dengan papa, gumamku. Papa, aku cinta papa karena Allah.

Ah, dulu aku pernah tidak HARMONIS dalam kurun waktu yang agak lama. Ada alasan yang cukup krusial yang membuatku seperti itu. Aku takcukup dewasa memandang setiap hal yang terjadi dalam hidupku. Selalu ingin dituruti kemauanku. Begitu manja dan tak pernah memikirkan bagaimana perjuangan papa UNTUKKU.

Papa adalah orang yang tidak terlalu banyak bicara. Ia hanya bicara ketika ada momentum yang penting saja. Seringkali, dulu aku berdebat dengan Papa—lantaran aku tak sepaham dengan papa. Kami begitu berbeda dalam semua hal kecuali dalam cinta.

Mungkin papa orang yang keras. Mungkin papa orang pendiam dan jarang sekali memberi pujian. Mungkin papa orang kupikir perhatiannya padaku tidak terlalu besar. Mungkin dan mungkin lagi.

I luv Papa.. (gak punya soft copy foto papa)

Sekarang aku menyadari betapa PAPA MENYAYANGI AKU. Ketika aku sekarang sudah dewasa, papa bilang, Papa takmembutuhkan harta achyar. Papa hanya ingin melihat anak-anaknya sukses dan menjadi anak yang ingat pada Tuhannya.” Lalu, ketika aku pulang Lebaran, papa memberikan aku nasihat tentang pendamping hidup. Papa menyerahkan semua pilihan pendamping hidup padaku. Asalkan kamu bahagia, nak. Papa begitu peduli padaku. Lantas, apa yang telah kuberikan untuk papa? BELUM ADA. Maafkan aku papa.
Aku menyayangi PAPA KARENA ALLAH…

Sang Penangkap Cahaya

Sebagai salah seorang pribadi Sanguinis-Melankolis, ada satu hobi yang sangat saya senangi. Mmm, mungkin bagi kebanyakan ini adalah suatu hal yang biasa. Takada istimewanya. Tapi bagi saya, hobby ini begitu menyenangkan.

Take a picture. Ya, itulah kesenangan saya. Saya pikir, segala hal yang ada di dunia ini sangat menarik untuk diabadikan. Bahkan, sesuatu yang luar biasa tidak menjadi LUAR BIASA ketika tidak terdokumentasikan. Tapi, tentunya, bukan foto-foto narsisan ataus sejenisnya.

Saya senang mengabadikan fenomena alam. Entahlah, apakah itu; Human Interest, Pemandangan alam, atau hal yang membuat rasa penasaran saya memuncak. Memoto adalah hal yang paling menyenangkan. Walau saya tidak menggunakan kamera SLR, tapi saya pikir kamera handphone atau digital, sudah cukup.

Satu hal, saya hanya ingin mensyukuri nikmat Maha Karya dari Sang Pencipta. Berdecak kagum atas indahnya dunia ini, dan kembali bermuhajaah atas Hidup dan kehidupan yang tengah saya Jalani.

Saya hanya ingin menjadi orang berakal. Seperti yang telah Allah swt tuliskan dalam surat Al-Imran ayat 190-191

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang meningingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

16648_1212708995726_1168810285_30576318_3282472_n
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
16648_1212712355810_1168810285_30576332_5198141_n
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
16648_1212719715994_1168810285_30576359_5915569_n
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_1212
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_1627
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_1629
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_1873
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_1886
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_2092
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_3043
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.

Mentari Terbit di Ufuk Lembang

IMG_3059
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_3068
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_3093
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_3320
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_3438
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_3455
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_3464
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.
IMG_3484
Gunung Merapi, Solo, Jawa Tengah.

 

Untold Story

I have been disappointed with the fate that does not side with me. never sorry and regret this happened. however, I realized that this is the best of the gods. I will always be grateful. Thank god, you said it all with your love. This article will tell you how I feel when indirectly been a part of the SOL II. For some reason, I was disappointed with the results of the committee stating I can not come quarantine SOL II. I’m sad, I was disappointed, and perhaps regret for what had happened. I tried to be patient. and accept the existing reality. but no! This heart could not invited compromise. on the one hand, I blurted out my sincerity. but, I can not lie to myself that I was disappointed.

I was disappointed because they can not fight with my beloved friends at SOL II. so, I invite anyone to come to enliven the event SOL II on the valley, Bandung. ah, no! Where might I can. however, I returned trying to be wise and seemed to entertain himself. “ah, come on this issue of destiny. maybe my presence is important. I want to see them learn, laugh, and struggle. God willing, I’ll be there.

Friday (3 / 12), I, rijal, nuni, and visited the valley melz. and I am very pleased. I tried to cover up regret that controls the soul. or whatever his name. I wanted to show my strength. and they know it. How happy I am to meet again with Nesha, Dika, Dhinda, Tina, and others. we smiled at each other and took a picture together.

The next day, (4 / 12) I returned to Lembang. the difference, now I am left with the trio, nuni, Ozone, and Ahmad. along the way so much fun. full competition. I really enjoyed and was grateful to follow series of SOL. I was not the difference may be participants.
I say clear, I am very happy. I believe this is destiny that God promised it to me. I’m glad to see them again. for some reason, they were so quick to steal my heart. I feel comfortable being among them. they are a fun person. I am proud to be met and became acquainted with them.

Oya, there are things I could not forget at this event. when I was not able to distinguish between illusion, drama, conspiracy, and the reality.

Saturday night: Camp Fire
after displaying the inauguration. such as Saman dance, drama, poetry musikalisasi, and so on. Well, the show has been waiting for a bonfire.
because at this event, anyone can excite the emotions of their souls. the night was over quite melancholy.
but, suddenly there was a military man who stopped our show that night. I got surprised. I thought it was just a mere drama. because on that day Dwi birthday. agh, I’m still confused, is this real or not. And you know, it was only a mere conspiracy. was a trick to make Dwi Nur feel guilty as a committee chairman. when in fact, that’s one scene in the drama.

I thought hard, whether it plays or not. I muttered to myself, “this may just a sham. ah, how the day tomorrow”

then, around 11 o’clock that night, going dispute between Ayoedha and Dita. they argued. berate and yell at each other. ah, is this real? Furthermore, the drama continues. Asrul lost some where. I thought, if he was kidnapped. I tried to contact him. but could not. always rejected. ah, what’s happening. suddenly, there was cheering from the barracks.

ah, stupid! I was fooled. it was just Camouflage. They deceived us. and why I can trust? ah, only this time I was really fooled. they’re good acting. turns out, it just engineering. happy birthday to Dwi Nur, S.Si.

The next day, the day that awaited. Outbound and inauguration. exclaimed one. I can work on SOL friends. I crossed out their faces. using charcoal. hahaha, I’m satisfied.

Finally, they are constituted. sense of sadness and pride over my heart. although I was not part of them. but I feel a part of them. I was really touched. they were incredible. Thank you, my friend! I am very happy to know you. This wisdom and destiny. when we are able to see it wisely. Amen.

We are the real leaders. we will change the world. we believe, we are able. our great people. guys, thanks for the jokes, laughter, and friendship that you offer.

student life! people live Indonesia!
rose the youth! Indonesia for the better! thank you all.

School of Leader II, Demi Indonesia yang Lebih Baik

Laporan oleh: Mahfud Achyar (BEM Kema Unpad)

1916070_1257498607856_3744664_n
Peserta SOL II

[Unpad.ac.id, 8/12] Mahasiswa diidentik sebagai kalangan yang memiliki idealisme tinggi. Namun, pada kenyataannya, ketika mahasiswa telah bergulat di tataran praktis dunia kerja, idealisme seakan menjadi barang yang sangat mahal. Ada yang mengatakan idealisme hanya berlaku di bangku kuliah saja.

Pernyatan tersebut disampaikan Dwi Nur Afandi, Direktur School of Leader II (SOL II), saat penyelenggaraan SOL II. Program yang digagas oleh BEM Kema Unpad kali ini mengusung tema “Youth, a Golden for Nation” dan mendapat antusias yang tinggi dari mahasiswa Unpad. Terbukti, peserta yang mendaftar SOL II ini berjumlah sekira 90 orang mahasiswa dari berbagai fakultas. Namun, yang lolos untuk mengikuti masa karantina yang diadakan di Rindam III Siliwangi, Lembang, pada 3-6 Desember 2009 lalu, hanya 40 orang.

Ketika ditanya tujuan acara SOL II ini, Dwi yang lulusan FMIPA Unpad angkatan 2005 ini menuturkan bahwa SOL II dirancang khusus untuk mencetak pemimpin masa depan yang mampu berkontribusi untuk negara dan almamater. Output dari kegiatan SOL II ini adalah, mahasiswa Unpad paham akan jati diri dan perannya sebagai mahasiswa. “Saya berharap lulusan SOL II mampu memberikan manfaat secara mikro, untuk Unpad dan makro, untuk bangsa dan negara,” jelas Dwi.

Sementara itu, Dita Juwitasari, mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan angkatan 2007 yang bertugas sebagai kordinator acara menjelaskan bahwa SOL II ini berbeda dengan SOL tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya, siswa SOL wajib hadir tiap pekan selama 10 minggu, namun pada SOL II ini panitia memadatkan kegiatannya menjadi empat hari. Mereka dikarantina dan diberi materi tentang leadership, ke-Unpad-an, nasionalisme, entreperneurship, pergerakan mahasiswa, advokasi, lobbying, dan sebagainya. Selain materi, siswa SOL II juga diberi simulasi berdasarkan materi yang mereka peroleh.

IMG_3208
Muhammad Ridwan Randika, FE 2007

Para peserta sendiri mengaku cukup puas mengikuti kegiatan ini. “Saya sangat senang dan bangga bisa mengikuti SOL II ini. Saya bisa belajar banyak hal, misalnya advokasi. Dulu, yang saya pahami tentang advokasi adalah bagaimana tujuan agar advokasi itu tercapai. Namun ternyata, advokasi itu hanya pendampingan. Sedangkan tujuannya hanya outcome saja,” tutur salah seorang peserta, M. Ridwan Randika, dari Fakultas Ekonomi angkatan 2007.

Selain itu, ia mengaku lebih mengerti apa itu nasionalisme dan kontribusi yang sesungguhnya. Ia ingin mengubah paradigma mahasiswa yang selama ini berpikir pragmatis. Mereka menilai bahwa hidup itu bicara untung dan rugi. “Nah, di SOL ini saya didik untuk rela berkorban dan menjadi pemimpin yang sesungguhnya,” ujar Ridwan.

Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia yang hadir pada kegiatan tersebut, menyambut baik kegiatan SOL II ini. Beliau berharap BEM Kema Unpad dan rektorat berkoordinasi dengan baik agar SOL menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya. Pada hari terakhir (6/12) seluruh siswa SOL II tersebut dilantik langsung Direktur School of Leader II dan disaksikan oleh beberapa perwakilan BEM Kema Unpad. (mar) *

Tips Agar Organisasi Mahasiswa Hebat!

Suatu ketika, saya pernah berdiskusi dengan seorang sahabat saya dari Fakultas Psikologi tentang pemimpin. Beliau berkata, “Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa melihat masa depan dengan sangat jelas, ketika orang lain belum mampu untuk melihatnya.”

Memulai tulisan ini, saya mencoba untuk mengelaborasi bagaimana sesungguhnya deskripsi pemimpin yang dimaksud. Bagi saya, salah satu ciri pemimpin itu harus visioner. Artinya, ia (baca:sang pemimpin) setidaknya sudah mengetahui dengan jalas tantangan yang akan ia hadapi, memahami tujuan yang akan ia capai, dan mempersiapkan bekal untuk menghadapi tantangan tersebut. Karena jika tidak, dikhawatirkan ia menjadi gagap ketika memimpin.

Selanjutnya, saya juga pernah berdiskusi dengan salah satu teman saya dari Fakultas Pertanian. Saya menanyakan bagaimana perasaan beliau ketika menjabat sebagai presiden di fakultasnya. Menjadi presiden berarti mau tidak mau kita harus mengubah mainstream berpikir kita. Jika selama ini kita hanya berada di posisi staf dalam organisasi, tentunya beban moral yang kita rasakan tidak sebanding dengan beban moral yang dihadapi menteri, ketua panitia sebuah kegiatan, atau sebagainya. Karena mau tidak mau ketika kita menjabat posisi strategis, kita dituntut menjadi pusat keberhasilan yang menentukan apakah yang kita mampu mengayomi rekan-rekan yang kita pimpin.

Ya, berbicara konteks pemimpin untuk Kema Unpad, tentunya berbicara sebuah narasi besar untuk menjadikan Kema Unpad yang lebih baik. Karena tantangan yang dihadapi lebih besar dibandingkan di tingkat fakultas atau jurusan. Oleh karena itu, sebagai seorang presiden Kema Unpad haruslah orang yang berpikiran besar dan visioner. Lantas, apa yang harus dipersiapkan ketika suatu saat saya menjadi presiden Kema Unpad?

Optimalkan Peran Mahasiswa

Sebagaimana kita ketahui, bahwa ada empat peran kita sebagai mahasiswa. Yaitu peran sosial, peran moral, peran intelektual, dan peran politik. Sebagai seorang mahasiswa, sudah seyogyanya kita mengoptimalkan keempat peran tersebut. Nah, organisasi merupakan salah satu wadah untuk kita mengaktualisasikan peran-peran kita tersebut. Sebagai presiden (yang berkecimpung di eksekutif), tentunya saya memliki peran yang besar untuk mengejawantahkan tantangan tersebut. Caranya bagaimana dan seperti apa? Menurut saya, cara yang tepat adalah mengakomodir semua minat dan bakat mahasiswa untuk terlibat dan berpartisipasi dalam menunaikan perananya. Dan semuanya itu, mampu diwujdkan dalam bentuk proker yang mendayaguna.

Sinergitas

Belakangan ini, seringkali kita mendengar ungkapan Unpad SATU. Namun ternyata, tidak semua mahasiswa menanggapai jargon tersebut dengan respon yang positif. Mereka menilai jika Unpad satu, berarti seakan memaksakan kekompleksan masing-masing fakultas. Padahal sebenarnya, jargon tersebut bukanlah seperti itu yang dimaksud. Unpad, diibaratkan seperti pelangi. Banyak warna (terdiri dari berbagai fakultas). Lantas, apakah warna itu disatupadankan? Tidak! Biarkan warna-warna tersebut muncul sesuai dengan warnanya masing-masing. Akan tetapi, perlu sebuah sinergitas dari masing-masing fakultas agar mimpi kita untuk Unpad lebih baik semakin nyata.

Harmonisasi Gerakan

Sebagai mahasiswa, kita paham betul bahwa kita adalah agent of change. Tentunya, predikat tersebut bukan sebuah predikat yang biasa. Lalu, bagaimana mentransofmasi predikat tersebut agar menjadi luar biasa? Ya, salah satunya adalah dengan mengharmoniskan gerakan mahasiswa. Kita mengenal gerakan intelektual, gerakan struktural, dan gerakan kultural. Lantas, apa tujuan gerakan-gerakan tersebut? Tujuannya untuk menjadi agen pengontrol kebijakan pemerintah. Saya yakin, tidak semua mahasiswa sepakat bahwa kita harus mendikotomi gerakan-gerakan tersebut. Tapi nyatanya, kita tak bisa menutup telinga bahwa saat ini, ada mahasiswa yang mungkin hanya bergerak di tataran intelektual saja. Atau mungkin, ada sebagian mahasiswa yang bergerak di tataran struktural dan kultural. Saya pikir, tak ada yang salah dengan jalan gerakan masing-masing. Asalkan, gerakan mahasiswa lebih harmonis dan saya percaya jika telah harmonis, maka gerakan mahasiswa akan masif.

Ketiga poin-poin narasi tersebut, saya pikir sudah cukup mewakili bagaimana kita merekonstruksi impian Unpad lebih baik ketika saya suatu saat terpilih menjadi presiden Kema Unpad. Walaupun sifatnya masih makro, tetapi tidak melupakan saya untuk memikirkan mikronya juga.

Visi dan Misi yang Sesuai dengan Kebutuhan

Terkadang, sebagai pemimpin (dalam hal ini presiden Kema Unpad), kita terlalu banyak ide yang hebat di benak kita. Apalagi ketika merancang visi dan misi. Kita seakan terlalu idealias tanpa melihat apakah idealis kita cukup realistis diterapkan. Oleh karena itu, sebagai seorang presiden Kema Unpad saya harus merancang visi dan misi yang sesuai dengan kebutuhan seluruh sivitas akademika Unpad. Misalnya berkaitan dengan tri darma perguruan tinggi serta pengakselerasian visi Unpad menuju universitas kelas dunia.

Tim yang Handal

Dalam organisasi, apalagi di BEM Kema Unpad, kita berkarya tidak sendiri. kita membutuhkan orang-orang hebat untuk menyokong mimpi-mimpi besar.

Akselerasi

Menyikapi problematika yang terjadi di kampus dan luar kampus, saatnya kita butuh percepatan untuk menyelesaikan dan memberikan solusi untuk setiap masalah yang ada. Karena jika kita masih lambat, kita akan menjadi orang-orang yang tertinggal. Dan satu lagi, sudah saatnya kita mengakselarasikan mind set kita aar berpikir lebih global.