Motivasi Diri: Siapa Aku?


 

img_9204

Pertanyaan mendasar yang mungkin dihiraukan oleh manusia adalah siapa aku? Lantas, apa definisi yang mampu mengurai pertanyaan tersebut? Pada dasarnya, siapa pun mampu menerjemahkannya dengan menggunakan paradigmanya masing-masing.

Bagi saya sendiri, pertanyaan tersebut begitu krusial karena merupakan sebuah titik awal untuk memaknai kehidupan ini dengan lebih bijak. Menurut agama yang saya yakini, Aku (baca: manusia) adalah kumpulan materi yang berasal dari setetes air mani lalu segumpal darah, segumpal daging, dan kemudian ditiupkan ruh sebagai bukti bahwa manusia bukan hanya bersifat materi. Ruh merupakan sebuah pernyataan sikap yang nantinya akan menentukan bagaimana kita memahami kehidupan ini sesungguhnya.

Aku makhluk Tuhan

Saya adalah makhluk Rabbani, tiupan yang suci, ruh yang termasuk urusan Allah, Dia menciptakannya dengan tangan-Nya, Dia meniupkan ke dalam tubuh saya dari ruh ciptaan-Nya, dia memerintahkan malaikat untuk sujud kepada saya, yang mengajari saya semua nama, membebenani saya amanah yang saya sanggupi, menganugrahkan nikmat pada saya baik lahir maupun batin, yang menundukkan untuk saya semua yang ada di langit dan di bumi, yang memuliakan saya dengan pemuliaan yang besar. Dia menciptakan saya dalam bentuk yang sesempurnanya, menganugrahi pendengaran, penglihatan dan hati, menjelaskan kepada saya dua jalan menunjuki saya kepada kedua arah, yang memudahkan jalan bagimu. Dengan izin-Nya, saya dapat menyelam di air, menembus ruang angkasa, dan Ia menanugrahkan saya kemampuan akal dan pikiran untuk menyimak kebesaran-Nya.

Kata orang bijak, “Jika seseorang sudah mengenal jelas siapa dirinya, maka ia akan ia telah mengenal Tuhannya. Jika sudah mengenal Tuhannya, berarti ia sudah mampu memosisikan dirinya sebagai manusia berakal yang senantiasa memberikan kebermanfaatan. Ketika kita sudah mengenal siapa diri kita, lantas kita harus tahu untuk apa kita di bumi ini?

Dalam surat Adz-Dzariyat: 56-57 Allah berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.”

Tujuan kita hidup di bumi ini untuk beribadah kepada-Nya, kawan! Lantas, bagaimanakah kontekstual ibadah itu sendiri? ibadah takhanya melingkupi kegiatan-kegiatan yang sifatnya rohani saja. Tapi pengertian ibadah itu luas, tergantung pada niat, tujuan, dan manfaatnya. Misalnya seperti ini, jika Anda berkunjung ke rumah teman Anda dengan niat silaturahim itu termasuk ibadah, kawan! Pada dasarnya, ibadah itu bersifat veritikal (hubungan dengan Tuhan) dan horisontal (hubungan dengan sesama makhluk hidup).

Berbicara tentang siapa aku, banyak kajian untuk mengungkapnya. Menurut Aristoteles, (yang dikenal sebagai bapak ilmu pengetahuan dan ahli filsafat), setidaknya ada empat aspek untuk mengetahui aku. Salah satunya agama. Bagi saya sendiri, agama mampu mengintegralkan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak saya. In my humble opinion.

4 thoughts on “Motivasi Diri: Siapa Aku?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s