Semesta Bertasbih


Jatinangor, 04:25 wib tahun 2009

Sayup-sayup suara adzan terdengar dari Mushola Al-Islam. Mushola itu tidak terlalu jauh dari kostanku. Hanya beberapa langkah, aku pasti tiba di Mushola. Biasanya, suara adzan yang berkumandang terdengar sangat jelas. Tapi sekarang, sejak bapak yang jadi muadzin sedang sakit, maka suaranya yang lantang pun takterdengar lagi.

Aku tersadar dari dimensi mimpi yang dari tadi kujelajahi. Walau agak berat, kucoba perlahan-lahan membuka mata ini. Susah sekali membukanya. Agaknya, setan-setan masih bergelantungan di mataku. Atau mungkin, mataku telah dikencingi oleh mereka. Sudahlah. Nanti saja bangunnya. Tidur saja dulu! Bisikan itu jelas terdengar di kedua telingaku. Astaghfirulah. Aku berusaha bangkit dari kasur yang dari tadi memaksaku untuk tidur kembali. Selimut tebal berwarna merah itu pun kubuang jauh-jauh. Aku bergegas ke kamar mandi. Langkah kaki berjalan gontai. Aku mulai mengambil air wudhu.

Pertama, kucuci tanganku yang kotor ini. Selanjutnya, air dingin di bak mandi itu membasahkan mukaku. Aku merasakan kesegaran, dan sungguh ini adalah nikmat yang sulit untuk aku ungkapkan. Beruntunglah orang-orang yang bisa bangun dan mengerjakan sholat subuh. Suara iqomat terdengar dari mushola. Itu artinya, sholat akan segera dilaksanakan. Semua jamaah bergegas menuju mushola. Alhamdulillah, aku telah selesai menunaikan sholat subuh berjamaah. Kawan, tahukan kamu keistemewaan sholat subuh? Sholat subuh adalah pembeda antara orang yang benar beriman dan orang munfik. Bahkan, dikatakan dalam sebuah hadits, “Jika kalian tahu bagaimana istemewanya sholat subuh berjamaah, maka kalian akan sholat walau dengan merangkak.”

Subhanallah sekali, Allah hanya menganugrahkan nikmat subuh yang hanya dirasakan oleh umat Islam.

Setelah selesai sholat, aku memandang langit yang tampak masih gelap. Udara pagi Jatinangor masih menusuk tulangku. Bahkan angin berhembus membelai seluruh tubuhku ini. seolah ada seseuatu yang ingin ia bisikan kepadaku. Kutatap nanar langit subuh. Di atas sana, sebuah lukisan terpampang dengan begitu indahnya. Maha Karya Allah yang telah melukisnya. Pantaslah dalam surat Al-Imran, Allah berfirman, “Sesungguhnya diantara penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir.” Allah telah memperlihatkan kekuasaan-Nya padaku. Aku takbisa berkata-kata lagi. Semua terlukis begitu sempurna. Langit-langit bertaburan bintang yang gemintang. Indah dan sungguh memesona. Lihatlah, bintang-bintang itu berkelip bersamaan. Jika disatukan, aku tak dapat membayangkan betapa indahnya alam semesta ini. Aku yakin, seorang penyair sekaliber Kahlil Gibran pun takakan mampu untuk menarasikannya.

Labih dari itu, aku melihat bintang-bintang itu bertasbih kepada Allah. Bintang-bintang itu membentuk gugusan yang sangat indah. Ada yang berupa gugusan layang-layang, dan bahkan ada yang menyerupai gugusan lafaz Allah. Sungguh ini menakjubkan, kawan! Sang rembulan tampak anggun dikelilingi bintang-bintang. Ia seakan menjadi ratu di tengah cahaya. Di ufuk timur sana, sang fajar mulai menyeruak membiaskan cahayanya. Langit yang tadi gelap, perlahan ditutupi cahaya yang kemilau. Cahayanya berwarna kuning oranye. Dan satu persatu, bintang-bintang itu mengilang. Entahlah, aku taktahu bintang-bintang itu hilang kemana. Semuanya hilang tanpa bekas.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s