Q and A, Novel yang Menginspirasi Film Slumdog Millionaire


slumdogposter
Sumber: Google

Dalam dunia seni atau sastra, sering kali terjadi transformasi dari satu bentuk karya ke bentuk karya lainnya. Bentuk karya tersebut bisa berupa novel menjadi puisi, puisi menjadi lukisan, lagu menjadi novel, novel menjadi film, dan sebagainya. Perubahan atau transformasi tersebut dikenal dengan istilah alih wahana.

Alih wahana sama artinya dengan perubahan. Banyak hal yang menyebabkan perubahan harus dilakukan jika sebuah karya sastra diubah menjadi media lain, seperti film. Perbedaan mendasar antara film dan karya sastra misalnya adalah pengembangan imajinasi pembaca dan penonton.
Dewasa ini, banyak sekali film-film yang diadopsi atau terinspirasi dari novel-novel. Namun yang menjadi catatan adalah, tidak semua film yang diadopsi dari novel sukses seperti yang diharapkan (dalam hal pembuat film). Oleh karena itu, belakang film-film yang sukses dipasaran diangkat dari novel yang berlabel “best seller”.

Fenomena ekranisasi hampir terjadi di semua negara. Di Indonesia, film seperti Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Perempuan Berkalung Sorban, dan Ketika Cinta Bertasbih adalah film sukses yang diangkat dari novel terkenal. Fakta selanjutnya, film Harry Potter adalah salah satu mega film Hollywood yang menyedot perhatian dunia. Film tersebut diangkat dari novel karangan J.K Rowling. Siapa yang tak mengenal Harry Potter, sang penyihir? Ternyata benar adanya bahwa film yang diangkat dari novel terkenal (tentu saja penggarapan yang baik) menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.
Bukti lain datang dari film Bollywood yang berjudul Slumdog Millionaire. Seperti diramalkan oleh banyak insan film di dunia, Film Slumdug Millionaire akhirnya menjadi jawara juga untuk kategori Film Terbaik di Ajang Penghargaan Film Oscar, Minggu (22/2) di Los Angeles waktu setempat. Tidak hanya itu, film ini merebut enam kategori sekaligus pada piala Oscar yang beberapa waktu lalu diselenggarakan di Amerika. Selain itu, film ini mendapatkan penghargaan Golden Globe 2009, sebagai Film Terbaik.

Apa sebenarnya kelebihan film tersebut sehingga dinobatkan sebagai film terbaik? Ternyata, Film Slumdog Millionaire merupakan film yang diangkat dari novel terkenal Q and A karangan Vikas Swarup. Pada makalah ini, penulis akan menganalisis film Slumdog Millionaire yang sukses pada ajang bergengsi piala Oscar. Selain itu, hal yang menarik dan menjadi catatan penulis, ternyata ada banyak perbedaan antara film Slumdog Millionaire dan novel Q and A.

Q and A atau Question and Answers adalah judul novel yang ditulis oleh diplomat bernama Vikas Swarup tersebut. Bersetting di India, Q and A bercerita tentang Ram Mohammad Thomas, seorang waiter muda yang mencatat sejarah dengan memenangkan kuis berhadiah jutaan rupee namun malah dipenjara oleh pihak berwajib dengan tuduhan melakukan kecurangan.

Menggunakan sudut pandang orang pertama, novel ini lantas mengikuti perjalanan hidup Ram yang diceritakannya kepada pengacara baik hati, Smita Shah. Sebuah pengalaman hidup menegangkan dan penuh petualangan yang memberinya jawaban untuk kedua belas pertanyaan dalam kuis tersebut. “Bukankah aku beruntung mereka hanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang aku sudah ketahui jawabannya?” begitu komentar Ram polos.

Sepanjang buku ini pembaca akan dibawa mengikuti kisah hidup Ram yang pilu, keras, dan penuh cobaan, tapi berhasil membawanya memenangkan jackpot di kuis bergengsi tersebut.

Sebuah novel tentang seorang pelayan restoran yang menang kuis satu miliar rupee. Ram Mohammad Thomas, seorang pramusaji bar yang menyandang tiga nama agama, seolah merangkum pancarona nestapa realitas bangsa semiliar perkara dalam riwayat hidupnya yang asin-masam-pahit-manis, karau. Dia menjejak ke jagat raya ini tanpa tahu siapa ibu siapa ayahnya. Nasibnya dipelanting-lanting dari satu kota neraka ke kota-kota neraka lain, Delhi, Mumbai, Dharavi, Agra. Tapi ia juga dihibur film-film Bollywood, ditenteramkan keindahan Taj Mahal, dibuai kenikmatan lokalisasi.

Buku ini telah diterjemahkan dalam 32 bahasa, termasuk Perancis, Jerman, Italia, Belanda, Denmark, Finlandia, Turki, Eslandia, Rusia, Norwegia, Swedia, Serbia, Hindi, Indonesia, Thailand, Jepang, Yahudi hingga Portugis. Dan kini buku tersebut juga bisa dinikmati dalam bentuk audio, drama radio, panggung teater dan tentu saja film peraih Oscar yang disutradarai oleh Danny Boyle, Slumdog Millionaire.

Lalu, bagaimana cerita film Slumdog Millionaire? Film ini berkisah tentang seorang pemuda berusia 18 tahun yang bernama Jamal Malik. Ia adalah seorang pemuda yang terlahir dari kampung kumuh di kota Mumbai, India. Pengalaman luar biasa selama hidupnya mengantarkan dia menjadi seorang millionaire dalam acara “Who wants to be a millionaire?”

Bagaimana kisahnya sehingga Jamal—mampu menjawab 12 pertanyaan dalam kuis tersebut dan memenangkan uang sebesar 20 juta rupees? Bermula ketika dia bekerja sebagai asisten penerima telepon di sebuah persuhaan telekomunikasi, Mumbai, terpilih sebagai salah satu kontestan. Awalnya, pembawa acara (Anil Kapoor) meragukan kemampuan Jamal lantaran karena ia tidak memiliki latar pendidikan yang jelas. Hanya seorang asisten penerima telepon. Pertanyaan pertama yaitu, “Siapakan artis India yang terkenal pada tahun 1973?” Tanya pembawa acara. Jamal pun menjawab, “Amitha Bachan.” Setiap pertanyaan demi pertanyaan mampu dijawab dengan baik oleh Jamal. Sebenarnya kenapa Jamal bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan? Padahal ia hanya seorang anak dari perkampungan kumuh.

Jamal bukanlah orang cerdas. Akan tetapi, pengalaman hidupnya menjadi kunci dari setiap pertanyaan yang diajukan oleh pembawa acara. Jamal berasal dari perkampungan kumuh (slum, dalam bahasa Inggris) di kota Mumbai. Nasibnya sangatlah buruk. Sedari kecil banyak hal buruk yang telah ia lewati bersama kakaknya, Salim. Ibunya terbunuh ketika terjadi pembantaian kepada masyarakat muslim di kota Mumbai. Kekerasan, penindasan, kekacauan, kemiskinan, dan keburukan lainnya merupakan warna hitam yang terjadi di perkampungan Jamal.

Selanjutnya, Jamal beserta kakaknya Salim hidup berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Seorang gadis bernama Latika turut menjadi bagian terpenting dari kisah hidup Jamal yang penuh dinamika. Akan tetapi, Jamal sempat berpisah dengan Latika lantaran harus menyelematkan dirinya.

Suatu ketika, Jamal mengetahui bahwa Latika menjadi seorang gadis panggilan. Karena sudah lama tidak bertemu dengan Latika, Jamal dan Salim menemui Latika di sebuah tempat pelacuran. Namun, ternyata nasib baik tak berpihak pada Jamal dan Salim. Bandit yang dulu pernah berniat mencelakai Jamal, ternyata masih membayang-bayangi mereka. Kondisi mencekam terjadi saat itu. Tragisnya, Salim menembak bandit tersebut, dan ia pun mati.

Film tersebut menitik beratkan pada pengalaman hidup luar biasa (getir, tragis, buruk) yang dialami Jamal. Selain itu, pencarian cinta (takdir hidup) menjadi sorotan terpenting. Sehingga, pengalaman hidup itulah yang menjadi kunci jawaban dari semua pertanyaan dalam kuis “Who Wants To Be A Millionaire?”

Pada pertanyaan kesebelas, acara tersebut terhenti karena waktunya sudah habis, dan menyisakan satu pertanyaan lagi. Lalu apa yang terjadi? Jamal diseret ke kantor polisi karena diduga curang dalam kuis tersebut. “How could a street kid know so much?” Mana mungkin seorang slumdog bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan susah itu jika kamu tidak curang? Jamal pun menjelaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah sesuatu yang dekat dengan kisah hidupnya.

Ia menceritakan tentang kehidupnya di rumah-rumah gubuk di mana ia dan saudaranya dibesarkan, petualangan mereka di jalan, bertarung dengan preman, dan Latika (Pinto), gadis yang dia kasihi dan telah hilang. Sehingga pada akhirnya, polisi yang mengintrogasinya percaya dengan penjelasan Jamal.

Jamal melanjutkan permainanya di acara “Who Wants To Be A Millionaire”. Semua warga India menyaksikan penampilan Jamal untuk memenangkan hadiah uang sebesar 20 juta rupees. Pertanyaan terakhir, “Di buku Alexander Dumas, tiga ksatria, dua diantaranya bernama Athos dan Parthos. Lalu, siapa nama yang satu lagi?” Pertanyaan terakhir ini sangat sulit bagi Jamal. Dalam benaknya, ia hanya tahu bahwa yang bisa menjawab pertanyaan tersebut kakaknya, Salim. Jamal pun menggunakan bantuan phone a friends—dan menghubungi Salim. Ironinya, Salim ditembak mati. Namun, telepon Salim diangkat oleh Latika. Akan tetapi, Latika tidak mengetahui jawaban pertanyaan tersebut. Jamal pun terdiam. Kemudian, Jamal menjawab Aramis sebagai final answers. Akhirnya, Jamal memenangkan kuis tersebut, dan ia pun berjumpa kembali dengan Latika.

Jika kita cermati, ternyata tidak sepenuhnya sama antara novel Q and A dan film Slumdog Millionaire. Ternyata ada perbedaan yang cukup berarti antara film dan novelnya. Analisis penulis, ketika film Slumdog Millionaire ingin divisualisasikan sesuai dengan cerita novelnya, bentuk yang paling memungkinkan adalah miniseri, atau semacam serial pendek. Sedangkan film hanya punya durasi 2-3 jam. Jadi sulit rasanya jika semua isi novel dipindahkan ke dalam bentuk film. Jika disingkat pun rasanya mustahil. Bagi penonton Slumdog Millionaire, yang pernah membaca novel Q and A menonton film ini seperti mereset ulang imaji yang terlanjur ditanam Vikas Swarup di liang memori mereka. Lupakan Ram Muhammad Thomas dengan koin ajaibnya serta sahabat sejatinya Salim. Anggap saja takdirnya sebagai Ram dengan lika-liku petualangannya dicabut. Lalu dia diberikan takdir baru sebagai Jamal Malik dengan Salim sebagai kakaknya.

Film dan prosa memang mempunyai keunggulan dan kekurangannya sendiri. Hingga tak ada yang bisa mengklaim film lebih unggul dari prosa atau sebaliknya. Dalam prosa cerita dipindahkan pengarang ke kepala pembaca melalui kekuatan kata-kata. Pengarang hanya kuasa memaparkan, bukan mendiktekan. Sebab imaji pembacalah yang mempersepsikan dan memvisualisasikan dalam alam imajinernya.

Nasib sastra adalah sejauh mana kata-kata mampu memberikan sensasi imajinasi di benak pembaca. Sedangkan dalam film, penonton tak diberi ruang untuk menciptakan dunianya sendiri. Visualisasi telah mengambil peran itu. Hal ini bisa dianggap keterbatasan atau kelebihan tergantung dari sudut memandang saja. Kekuatan film bukan hanya dicerita dan kekuatan karakter yang diperankan tokoh-tokohnya. Setting latar, tata warna, dan musik juga mengintervensi imajinasi pembaca. Paduan kesemua itu mampu menghipnotis penonton hingga mengalami ekstasenya sendiri. Ekstase yang berbeda dibanding membaca bukunya.

Selanjutnya, hal menarik yang menjadikan novel Q and A dan film Slumdog Millionaire adalah latar sosial-budaya masyarakat India. Dalam novel dan film tersebut, digambarkan potret sisi kehidupan masyarakat India kalangan bawah. Sebuah realitas kehidupan yang jauh dari kemewahan, pendidikan, kebahagian, dan kesejahteraan. Bagaimana perjuangan seorang rakyat kecil mencari cinta dan upaya memperbaiki taraf hidupnya. Walaupun film ini menceritakan kehidupan rakyat kecil di negara India, tapi realita kehidupan dalam film ini juga sangat banyak kita lihat di negara Indonesia. Miskin, kumuh, kehidupan yang keras, terzolimi dan mimpi-mimpi yang tak pasti.

Selain itu, kita (pembaca dan penonton) juga mengetahui bahwa ternyata di India pernah terjadi pembantaian kaum muslim. India merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua setelah Cina. Maka tak heran jika banyak konflik, pertikaian, dan permasalahan sosial menjadi bagian yang tak bisa dielakkan lagi. Pasalnya, ketika jumlah penduduk yang semakin banyak dan tidak diimbangi dengan kebutuhan fisik, yang terjadi adalah ketidakadilan.

Menurut analisis penulis, pengarang novel Q and A atau pun sutradara film Slumdog Millionaire ingin menyajikan sebuah kisah kaum yang termarginalkan dan jarang diangkat. Dengan teknik penceritaan yang baik (novel Q and A), dan pemvisualisasian yang baik pula (Slumdog Millionaire); tak heran jika dua buah karya tersebut layak sebagai karya terbaik dalam beberapa ajang penghargaan.
Pada dasarnya, alih wahana (novelisasi/ekranisasi) akan mengubah suatu karya menjadi karya lain. Seperti halnya film Slumdog Millionaire yang sebenarnya bukan diadopsi, melainkan terinspirasi dari novel Q and A.
Simpulan

Alih wahana adalah perubahan dari satu jenis kesenian ke kesenian lain. Misalnya novel diubah menjadi tari, drama, atau film. Sedangkan puisi bisa diubah menjadi lagu atau lukisan. Sebaliknya bisa terjadi, novel ditulis berdasarkan film atau drama. Puisi bisa lahir dari lukisan atau lagu.

Alih wahana sama dengan perubahan. Banyak hal yang menyebabkan perubahan harus dilakukan jika sebuah karya sastra diubah menjadi media lain. Belakangan ini, banyak film-film sukses diangkat dari novel-novel best seller. Sebutlah film Angels and Demons, Harry potter, Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Ketika Cinta Bertasbih, dan Slumdog Millionaire.

Film Slumdog Millionaire merupakan film yang mendapatkan anugrah film terbaik pada piala Oscar. Menariknya, film ini terinspirasi dari novel dengan judul yang berbeda yaitu Q and A. Walaupun begitu, kisah antara film dan novel tersebut sama. Hanya ada beberapa perbedaan dari segi tokoh, alur, dan karakter. Akan tetapi, dua buah karya tersebut mampu mendulang prestasi sebagai karya yang luar biasa.

“Pengalaman adalah hal berharga dalam hidup kita. Jika kau menemukan sesuatu yang buruk pernah terjadi dalam hidupmu, jangan pernah kau sesalkan. Jadikan itu sebagai pembelajaran berharga. Dan kau bisa memulai hari dengan lebih baik.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s