Perbandingan Novel Popular Tahun 70, 80, 90, dan 2000an

Posted on Updated on


menulis-buku
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis. Kata novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti “sebuah kisah, sepotong berita”.
Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.
Novel dalam bahasa Indonesia dibedakan dari roman. Sebuah roman alur ceritanya lebih kompleks dan jumlah pemeran atau tokoh cerita juga lebih banyak.
Dalam karya sastra Indonesia, novel berdasarkan karakternya dibedakan menjadi dua, yaitu novel serius dan novel popular. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan antara novel popular dan novel serius? Apakah novel serius bisa dikatakan lebih baik dibandingkan novel popular? Sejatinya, analisis sastra tidak pernah memungkiri bahwa novel serius lebih baik dibandingkan novel popular. Hal ini dikarenakan novel serius dinilai memiliki unsur sastra yang kompleks dan lebih berkarakter. Sedangkan novel yang dikatakan popular adalah, novel yang diminati banyak orang saat pada zamannya dan dianggap sebagai kebudayaan bersama. Akan tetapi, argumen tersebut pada akhirnya bisa ditepiskan karena novel serius tidak melulu memiliki kualitas yang baik. Banyak novel popular yang justru lebih baik dibandingkan novel serius.

Seperti juga novel serius, novel populer pun ada yang disajikan secara baik, ada pula yang tidak. Ada novel populer yang bagus, ada pula yang buruk. Meskipun demikian, menurut para pakar kebudayaan populer (popular culture), novel populer dan semua karya kebudayaan populer, berangkat dari niat komersial. Tujuan utamanya adalah menghasilkan sesuatu yang bersifat materi. Mengingat tujuan utamanya komersial, maka kar-ya-karya populer ditujukan untuk berbagai lapisan masyarakat. Guna mencapai sasaran itu, unsur hiburan menduduki tempat yang sangat penting.
Akibat unsur hiburan begitu ditonjolkan, maka unsur lainnya sering diabaikan. Penekanan yang sedemikian rupa terhadap unsur hiburan inilah yang kemudian banyak menjerumuskan pengarangnya untuk mengobrol hiburan murahan, bahkan cenderung rendah dan mengabaikan norma-norma kesusilaan. Novel-novel yang mengeksploitasi pornografi misalnya, termasuk ke dalam jenis novel populer yang buruk yang menampilan hiburan dengan selera rendah.
Apakah novel-novel karya Mira W., Marga T., Ike Soepomo, V. Lestari -sekadar menyebut beberapa nama- termasuk jenis novel seperti itu? Seperti telah disebutkan, novel populer ada yang baik ada pula yang buruk. Karya-karya para pengarang di atas, dapatlah dikatakan sebagai novel populer yang baik. Lalu atas dasar apa novel itu disebut populer dan mengapa tidak dimasukkan ke dalam novel serius?
Ciri umum yang paling mudah kita tangkap dalam novel populer adalah bentuk covernya yang sering menonjolkan warna cerah, ilustrasi agak ramai, gambar wanita de-ngan tetesan air mata atau gambar pemuda yang sedang memeluk kekasihnya. Indikator luar ini tentu saja belum dapat sepenuhnya untuk menentukan sebuah novel populer atau tidak. Oleh karena itu, perlu kita mencermati pula indikator dalamnya yang menyangkut unsur-unsur intrinsik novel yang bersangkutan.
Dari segi penokohan, novel populer umumnya menampilkan tokoh-tokoh yang tidak jelas identitas tradisi-kulturalnya. Hal tersebut dapat dilihat dari nama tokohnya, seperti Fredy, Sisca, Frans, Boy, Vera, Tommy atau Yance. Mengingat nama-nama itu tidak berakar pada kultur daerah, maka identitas sebagian besar tokohnya ditandai dengan latar perkotaan. Adapun tema-tema yang diangkat umumnya menyangkut percintaan para remaja yang masih bersekolah atau mahasiswa. Jika tokoh-tokohnya seperti itu, maka konflik yang muncul di antara tokoh itu berkisar pada status sosial orang tua masing-masing, perebutan pacar, atau persoalan-persoalan remeh-temeh di sekitar usia pubertas.
Dari segi latar tempat dan latar peristiwa, novel populer cenderung menampilkan latar kontemporer dengan berbagai peristiwa yang aktual. Karena mengejar aktualitas dan kontemporer itu, maka latar dalam novel-novel populer akan terus berubah sesuai dengan zamannya. Cintaku di Kampus Biru (dunia kampus), Ali Topan Anak Jalanan (dunia SMA) atau Lupus (dunia SMP/SMA), merupakan contoh latar novel populer yang berubah sesuai dengan kondisi dan suasana zamannya. Sebelum itu, novel-novel tahun 1970-an karya Motinggo Busye, Ali Shahab, Abdullah Harahap, menampilkan latar kehi-dupan rumah tangga yang berantakan.
Ciri lain yang cukup menonjol dalam sastra populer adalah tampilnya tokoh-tokoh yang stereotipe. Tokoh ibu tiri, misalnya, akan tampil dengan sifat-sifatnya yang pilih kasih, kejam, judes, munafik, dan sifat buruk lainnya. Tokoh anak-anak remaja, tampil dengan hura-huranya, pesta, rebutan pacar, darmawisata, dan kebiasaan-kebiasaan para remaja, termasuk mungkin juga dengan tawurannya. Dalam kenyataannya, tidak semua ibu tiri berperilaku buruk yang seperti itu. Demikian juga, tidak semua remaja mempu-nyai kebiasaan demikian. Akibatnya, tidak ada kemungkinan lain bagi pembaca untuk memperoleh gambaran yang khas, unik, dan berbeda dengan kelaziman umum.
Tipe tokoh yang stereotipe itu akan dihadapkan dengan problem yang sederhana, tanpa pendalaman. Tujuannya memang agar pembaca tidak perlu berkerut dahi, berpikir kritis, karena ia lebih menekankan pada unsur hiburannya. Bahkan, tidak jarang novel populer menyajikan mimpi-mimpi indah dan semu yang menggoda perasaan pembaca.
Dalam hal itu, perasaan pembaca sengaja dimanfaatkan dan dieksploitasi, agar pembaca seolah-olah menjadi bagian dari tokoh-tokoh yang digambarkannya. Itulah sebabnya, pemihakan pengarang kepada tokoh-tokoh yang digambarkannya, sering kali begitu jelas. Pembaca tidak diberi peluang untuk memperoleh penafsiran lain, karena memang tidak ada kemungkinan munculnya ambiguitas atau tafsir ganda. Makna dan amanat yang ditampilkannya bersifat tunggal. Itulah amanat yang banyak terdapat dalam novel populer. Dengan begitu, akhir cerita tidaklah terlalu sulit untuk ditebak, karena memang sengaja dibuat demikian.
Mengingat sastra populer lebih mementingkan kesenangan, kesederhanaan, pe-nyelesaian persoalan yang gampang dan selalu tuntas, dan tidak merangsang pembacanya untuk berpikir, maka dikatakan pula bahwa sastra populer sebagai bacaan untuk mereka yang tidak memiliki pengetahuan; bacaan untuk pembantu rumah tangga, anak-anak atau remaja, dan bukan untuk kaum terpelajar.

Pembahasan
Novel popular hingga saat ini masih menjadi produk kesenangan—masyarakat. Disamping sifatnya yang menghibur (entertainment), novel popular sering mengangakat tema yang memang menjadi perbincangan khalayak. Seperti percintaan anak muda, rumah tangga, dan karier. Maka tak heran jika ternyata banyak masyarakat Indonesia lebih menggemari novel popular dibandingkan novel serius.
Dalam perkembangannya, novel popular memiliki karakter yang berbeda dari masa ke masa. Berdasarkan masa dan tahun terbitnya, para apresiator sastra menggolongkan novel popular 70, 80, 90, dan 2000an. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan novel-novel tersebut. Apakah karena tahun terbitnya saja, atau memang memiliki perbedaan yang krusial? Sebenarnya, hal yang membedakan novel-novel tersebut terletak dari segi realitas dan struktur novel.
Karmila, Cintaku di Kampus Biru, Terminal Cinta Terakhir, Ali Topan Anak Jalanan, Lupus, Balada Si Roy, Jejak-jejak Jejaka, Peluang Kedua, Pintu Terlarang, Istana Kedua. Novel-novel tersebut digolongkan ke dalam novel popular Indonesia.
Novel tahun 70an
Novel di atas yang termasuk tahun 70an adalah novel Karmila, Cintaku di Kampus Biru, Terminal Cinta Terakhir, Ali Topan Anak Jalanan. Dalam novel Karmila, kisah yang diangkat adalah kehidupan seorang perempuan yang bernama Karmila. Dalam novel ini, tema yang dibahas adalah realitas kehidupan kota metropolitan (dalam hal ini Jakarta). Layaknya sebuah kota metropolitan, masalah yang sering timbul adalah masalah pergaulan ramaja. Karmila—seorang mahasiswi kedokteran yang dinodai oleh lelaki yang tak bertanggung jawab ketika pesta ulang tahun temannya. Selain itu, konflik yang mencuat dalam novel ini adalah masalah percintaan anak manusia. Karmila merasa kecewa karena ia harus meninggalakan kisah percintaannya bersama lelaki yang selama ini ia cintai.
Selain tema percintaan, novel tersebut menggambarkan kepada kita (pembaca) bahwa di kota metropolitan status sosial adalah hal yang cukup krusial. Ini terlihat dari keinginan Karmila (tokoh utama) yang sangat memimpikan menjadi seorang dokter.
Untuk gaya bahasa, novel Karmila menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti. Sehingga pembaca dengan mudah memahami pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Untuk endingnya, penulis menggunakan ending tertutup yang tidak memungkinkan pembaca untuk mengintrepretasikan isi cerita secara keseluruhan.
Jika berbicara realitas, novel Karmila menonjolkan konflik anak muda kota metropolitan yang diidentik dengan pergaulan bebas, seks bebas, dan tindakan amoral lainnya.
Selain novel Karmila, hal senada juga terdapat pada novel Cintaku di Kampus Biru. Dalam novel ini, tokoh utamanya adalah seorang mahasiswa yang bernama Anton. Tokoh Anton sangat menonjol dalam novel ini. Ia adalah seorang pemuda tampan, pintar, dikagumi gadis-gadis, dan bisa dikatakan nyaris sempurna. Novel ini berlatar kampus dengan penuh dinamika sosial. Lagi-lagi, masalah percintaan menjadi bagian yang paling dominan dalam novel ini.
Jika kita berbicara masalah realitas dalam novel Cintaku di Kampus Biru, realitas yang menjadi perhatian adalah masalah strata sosial. Seperti kutipan berikut ini, “Anton yang berlatar belakang keluarga kurang mampu—dicela oleh keluarga Erika ketika ia berkunjung ke sana. Selebihnya, tema sentral yang menwarnai kisah ini adalah kisah percintaan di kampus biru.”
Selanjutnya, pada novel Terminal Cinta Terakhir, latar ceritanya di kota Jakarta. Akan tetapi, dalam novel tersebut terdapat sentuhan realitas tentang budaya Batak, yang menjadi pembeda dari kedua novel sebelumnya.
Sedangkan dalam novel Ali Topan Anak Jalanan, tokoh perfeksionis melekat pada tokoh utamanya. Ali Topan digambarkan sebagai anak jalanan yang tampan dengan tinggi 172 cm, kurus, berwarna kulit sawo matang, berasal dari keluarga berpunya, tetapi tidak bahagia dirumah, sehingga ia melampiaskannya dengan cara ngebut dengan sepeda motornya di jalanan, sering ponteng, selalu memakai celana jeans ke sekolah, tetapi tetap bisa menjadi juara kelas dan meraih nilai-nilai tertinggi. Untuk masalah latar, lagi-lagi berlatar di kota Jakarta. Seperti pada umumnya, masalah utama yang kerap kali dihadapi oleh remaja metropolitan adalah masalah Broken Heart, percintaan, dan pergaulan bebas anak remaja.
Novel Tahun 80an
Berbeda dengan novel 70an yang tokoh-tokohnya kebanyakan berusia cukup dewasa, yaitu rentang usia 17-22 tahun (berstatus mahasiswa). Pada novel tahun 80an acapkali mengangakat kisah hidup remaja SMP dan SMA. Seperti yang kita ketahui, masa SMP atau SMA adalah fase peralihan seseorang dari remaja menuju dewasa. Lalu apa realitas yang terjadi pada masa itu? Realitas yang terjadi adalah masa remaja diidentik dengan pergaulan huru-hara, kesenangan bermain, dan cinta monyet. Sebagai contoh, novel Lupus (Makhluk Manis dalam Bis) bercerita tentang pertemanan sekelompok anak SMA yang penuh dengan cerita unik dan lucu. Dalam novel Lupus, latar tempatnya yaitu di Jakarta. Layaknya remaja metropolitan, kesenangan mereka adalah menggoda anak perempuan, main ke mall, dan keluyuran di jalan. Karakter remaja sangat melekat pada novel Lupus ini.
Jika dibandingkan, tokoh-tokoh dalam novel tahun 70an dan 80an memang berusia muda. Akan tetapi yang membedakannya adalah, tokoh dalam novel tahun 70an lebih dewasa secara umur (mahasiswa) dibandingkan tokoh dalam novel tahun 80an (remaja).
Novel Tahun 90an
Lalu, bagaimana pada novel tahun 90an? Adakah perbedaan yang cukup berarti dengan novel pada tahun sebelumnya? Dari segi tema, bisa dikatakan tidak jau berbeda. Yaitu masih tentang cinta. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian awal tulisan ini, tema cinta memang sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari novel popular. Karena itulah yang menjadi nilai komersil dan menjadi daya tarik tersendiri untuk pembaca. Tetapi, perbedaan yang cukup berarti pada novel tahun 90an dibandingkan novel 70 dan 80an terletak dari gaya penyampaian cerita, segmentasi pasar, dan bahasa tentunya. Jika pada novel 70 dan 80an tokoh utamanya rata-rata; orang-orang yang terjerat pada masalah sosial remaja, novel tahun 90an lebih menitikberatkan pada masalah pencarian jati diri, karier, dan percintaan yang lebih bersifat serius. Segmentasinya jelas, yaitu remaja yang minimal sudah paham apa itu cinta, perasaan, kasih sayang, dan pengorbanan. Bisa dikatakan novel tahon 90an lebih serius dari segi cerita dibandingkan novel 70 dan 80an.
Sebagai contoh, dalam novel Balada Si Roy, digambarkan sosok tokoh utama yang tidak terlalu sempurna tapi memiliki permasalahan yang cukup besar dalam hidupnya. Roy, seorang pemuda yang senang melakukan petualangan untuk mencari jati dirinya. Proses inilah yang dinamakan proses pematangan karakter seseorang menjadi manusia yang lebih dewasa. Selain dari segi cerita, gaya bahasa pada novel 90an ini lebih berkarakter. Hal ini dibuktikan dari tuturan-tuturan si tokoh dalam novel lebih serius dan baku.
Hal menarik dalam novel 90an adalah pesan moral yang disampaikan pengarang kepada pembaca. Biasanya, pada novel-novel tahun 90an, penulis lebih menekankan pada pesan/amanat. “Bahwasanya dalam hidup ini, masalah dan cobaan akan selalu mewarnai hidup kita. Hanya ada dua pilihan untuk mengatasi semua masalah itu. Pertama, hadapi atau mundur sebagai seorang pecundang. Seorang yang berjiwa kerdil akan mundur bahkan lari dari permasalahan yang terjadi. Akan tetapi, seorang pemenang akan menghadapi itu semua dan menikmati hari-harinya sebagai seorang manusia yang tangguh.” (Jejak-jejak Jejaka, Zarra Zettira ZR)
Novel Tahun 2000an
Menurut saya pribadi, novel tahun 2000an lebih beragam dari segi tema dibandingkan sebelumnya. Tema yang dibahas tidak hanya seputar kehidupan percintaan saja. Melainkan juga mengangkat kondisi psikologis seseorang dan realitas sosial-kemasyarakatan. Jadi bisa dikatakan, novel tahun 2000an lebih memiliki banyak warna. Selain itu, tokoh-tokoh pada novel 2000an tidak melulu remaja. Banyak oarang-orang dewasa (sudah menikah) dijadikan sebagai tokoh. Permasalahan yang acap kali dibahas adalah masalah rumah tangga.
Pada novel Pintu Terlarang bercerita tentang seorang anak kecil yang kerap kali mendapatkan siksaan dari orang tuanya. Selanjutnya, ada pula seorang pematung yang bernama Gambir. Dalam novel ini, unsur yang paling menonjol adalah konflik batin. Banyak teka-teki yang harus dipecahkan pembaca ketika membaca novel ini. Disamping ide ceritanya yang berbeda, keunikan novel tahun 2000an adalah gaya bahasa yang lebih majemuk. Sering menggunakan bahasa metafora, ragam bahasa baku, dan enak untuk dibaca.
Seperti yang saya katakan pada di atas, tokoh-tokoh dalam novel 2000an lebih banyak yang berusia dewasa. novel Istana Kedua, tokoh Arini adalah seorang istri yang harus merelakan suaminya—Pras poligami dengan Mei Rose. Tema yang diangkat dalam novel ini adalah masalah poligami. Dan realitasnya, ketika itu, kasus poligami menjadi topik pembicaraan di masyarakat. Jadi bisa dikatakan, novel tersebut mengangakat sebuah cerita dari realitas yang tengah berkembang.
Jadi dapat kita mengerti adalah, novel-novel tahun 2000an seringkali mengangakat masalah-masalah yang up to date terjadi. Selain itu, novel tahun 2000an lebih dinamis. Hal ini terlihat dari keragaman karakter tokoh, konflik, dan ide cerita.
Simpulan
Novel popular adalah novel yang diminati banyak orang saat pada zamannya dan dianggap sebagai kebudayaan bersama.
Dalam perkembangannya, ternyata novel-novel popular memiliki perbedaan dari segi struktur dan realtitasnya.

Daftar Pustaka

____________, Pengertian Novel. (Online). Available at: http://www.wikipedia.com. (diakses 5 Juni 2009)
Puja. 2008. Novel Popular dan Novel Serius. (Online). Available at: http://www.Sastra-Indonesia.com. (diakses 5 Juni 2009)

13 thoughts on “Perbandingan Novel Popular Tahun 70, 80, 90, dan 2000an

    andre said:
    July 4, 2009 at 2:33 pm

    nice info, makasih ya om…

    vitri said:
    July 9, 2009 at 8:47 am

    makasih ya,,, infomu membantu saya bikin tugas

    amalia said:
    October 10, 2009 at 3:55 am

    thanks ya informasi nya !

    flour said:
    October 15, 2009 at 1:32 pm

    thanks ya… membantu banget.. infonya!!!!!!!

    Lintang Syahreza said:
    October 28, 2009 at 5:55 am

    Infonya exelent bangetz. Top abizzzz

    abie said:
    January 12, 2010 at 5:52 am

    kren gan webnya…

      achyar89 responded:
      January 15, 2010 at 2:13 pm

      oh tentu.. hahaha…

    2010 in review « ~senjapelangi~ said:
    January 2, 2011 at 7:17 am

    [...] Perbandingan Novel Popular Tahun 70, 80, 90, dan 2000an June 20097 comments 5 [...]

    rizky doank said:
    February 6, 2011 at 4:53 pm

    thx ya, bwat info nya…

    tapy bsa agak d ringkas dkit gk, soal nya agak terlalu panjang bagd…
    jd bosen bca nya.
    hhe…..

    iva nurachyati pratiwi said:
    January 21, 2012 at 7:23 am

    pas banget ini yg gue perluin.

      achyar89 responded:
      February 3, 2012 at 3:00 pm

      mudah2an manfaat yaah

    Rudi Permana D'Gaz said:
    January 10, 2014 at 12:51 pm

    Thanks bngt infonya.
    Membantu bngt..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s