Busana Muslim Sebagai Salah Satu Bentuk Budaya Popular di Indonesia


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya adalah akal budi; sesuatu yang berkenaan dengan hasil karya budi. Dasawarsa ini, seiring perkembangan zaman, para pemikir budaya menilai pentingnya mengakaji kebudayaan yang sudah, sedang, dan akan berkembang. Oleh karena itu, sebagai seorang akademisi, mahasiswa dituntut sebagai salah satu agent yang akan mengkaji budaya.

Cultural Studies atau kajian budaya adalah bidang yang majemuk dengan perspektif dan produksi teori yang kaya dan beraneka ragam. Dalam ranah keilmuan para pengkaji budaya meyakini bahwa tidaklah mudah untuk menentukan batas-batas dan wilayah-wilayah kajian budaya secara khas dan komprehensif. Karena wilayah kajian budaya bersifat multidisipliner/ interdisipliner atau pascadisipliner sehingga mengaburkan batas-batas antara dirinya dengan subyek-subyek lain.

Sementara dalam ranah praktiknya kajian budaya menggunakan beberapa metodologi (dengan pendekatan etnografi, tekstual, dan resepsi yang eklektis) dengan berkutat pada ide-ide kunci seperti budaya, praktik pemaknaan, representasi, wacana, kekuasaan, artikulasi, teks dan sebagainya. Dengan mengadopsi berbagai teori baik yang layak disebut sebagai kajian budaya maupun yang berpengaruh besar terhadap kajian budaya seperti marxisme, strukturalisme, pasca strukturalisme, kulturalisme, feminisme, psikoanalisis dan sebagainya.

Sementara dalam representasi, kajian budaya meraih pertanyaan mengenai bagaimana dunia dikonstruksi dan disajikan secara sosial. Untuk mengetahui secara teoritis bagaimana hubungan antar komponen dalam sebuah formasi sosial kajian budaya menggunakan konsep artikulasi. Dan kekuasaan menjadi alat yang menentukan level sebuah hubungan sosial. Teks dan pembaca dalam kajian budaya tidak hanya dimaknai sebatas teks-teks tertulis, walaupun ini juga bagian kajian budaya namun pada seluruh praktik pemaknaan yang disebut dengan teks-teks kultural seperti citra, bunyi, benda, aktivitas dan sebgainya karena hal itu dianggap juga mengandung sistem-sistem yang sama dengan mekanisme bahasa.

Selain itu, identitas juga menjadi konsep kunci dalam kajian budaya, dengan identitas kajian budaya berusaha mengeksplorasi diri kita kini, bagaimana diproduksi sebagai subjek, bagaimana subyek tersebut diidentifikasi dengan melakukan panilaian baik bersifat fisik maupun lainnya seperti melalui kelamin, ras, usia mapun warna kulit. Serta masih banyak konsep-konsep teoritis lainnya seperti permainan bahasa, politik, posisionalitas, formasi sosial dan sebagainya yang semua itu digunakan dalam kajian budaya untuk menjelajahi dan mengintervensi dunia sosial.

Kajian budaya juga mengambil pelajaran dari kapitalisme pada keberhasilan kapitalisme, transformasi, dan ekspansinya yang diraih atas kemenangannya dalam pertarungan kesadaran dalam ranah kebudayaan. Sementara strukturalisme dan kulturalisme dipakai dalam kajian budaya untuk meneropong pertanyaan-pertanyaan mengenai budaya, ideologi, dan hegemoni.

Sedangkan yang dimaksud sebagai kebudayaan massa/pop(uler) (mass/pop[ular] culture) telah mengkonstruksi masyarakat yang tidak hanya menjadi berbasis konsumsi, tapi juga menjadikan semua artefak budaya sebagai produk industri, dan menjadi sebuah komoditas. Kebudayaan popular ditopang industri kebudayaan (cultural industry). Istilah modernitas pun perlahan mucul yang melahirkan sebuah wajah masyarakat baru: commodity society yang membiakkan kebudayaan pop dan memaksakan penyembahan, pemujaan gaya hidup (lifestyle), sehingga muncullah dalam apa yang disebut humanis, masyarakat yang hidup dipayungi ideologi pop culture.

Dalam perkembangannya, budaya popular ternyata berkembang tidak hanya di Negara barat. Melainkan berkembang di Negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Musik, makanan, perhiasan, dan pakaian adalah sebagian dari produk budaya pop. Itu artinya, ada perhatian tersendiri terhadap produk yang dihasilkan oleh budaya pop. Pada tulisan ini, penulis akan membahas salah satu produk budaya pop yang cukup mendapat perhatian oleh masyarakat Indonesia, yaitu busana muslim. Untuk membuktikan apakah busana muslim tergolong budaya popular atau tidak, bisa dikaji dengan disipilin ilmu kajian budaya.

Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945, hubungan antara Islam dan negara adalah hubungan yang sulit. Pemerintah Indonesia menolak permintaan menjadi negara Islam sejak kemerdekaan. Sekalipun sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam, agama itu tidak ditetapkan satu-satunya agama yang resmi di Indonesia. Ada lima agama resmi di Indonesia, dan kedudukan agama Islam sederajat dengan agama-agama lain. Pemerintah Orde Baru selalu mendorong partisipasi Islam dalam masalah sosial, tetapi Islam politik ditindas, khususnya sumber kekuasaan Islam politik (Brenner 1996:676). Gerakan Darul Islam – gerakan yang berusaha mendirikan negara Indonesia sebagai negara Islam, tetapi dibredel pada tahun 1962 – memberi masyarakat Indonesia dengan perasaan negatif terhadap fundamentalisme di Indonesia (Jenkins 1998).

Oleh karena itu, waktu jilbab menjadi populer pada tahun-tahun 1980’an, berarti dipengaruhi oleh situasi politik di Indonesia (Marcoes-Natsir, 2004). Pada waktu itu, dan beberapa tahun-tahun seterusnya, masih ada banyak perusahaan dan organisasi yang melarang pegawai perempuan berjilbab (Powell 2003).

Pada tahun-tahun 1980’an para pemudi di kota mulai berjilbab. Mereka berhenti memakai kebaya (yang menunjukkan lehernya) dan sarong (yang ketat) dan gaya rambut yang sulit. Reaksi terhadap perilaku ini kebingungan, kemarahan dan kecurigaan. Para pemudi dianggap sebagai orang fanatik atau fundamentalis oleh masyarakat, termasuk keluarga dan teman-teman (Geertz). Pemerintah menciptakan aturan supaya busana Muslim dilarang di kantornya. Pilihan berjilbab pilihan yang berat. Pada 1980’an seorang murid di Bogor, Jawa Barat, diberi pilihan ini: memilih berjilbab atau bersekolah, tetapi tidak bisa melakukan dua-duanya (Marcoes-Natsir, 2004). Seorang Muslimah yang berjilbab dikatakan dengan marah oleh Bapaknya ‘kenapa tidak naik unta juga?'(Geertz).

Dalam bidang busana Muslim ada banyak gaya dan mode. Kalau berjilbab, bisa memakai topi di atas jilbab, bisa memasukkan plastik supaya melindungi kulit dari sinar matahari, dan bisa membeli jilbab yang sudah siap dipakai (misalnya kalau ada elastik dipakai). Pemakaian jilbab ternyata tidak hanya oleh perempuan Muslim yang taat, tetapi juga oleh yang kurang taat. Bahkan ada pelacur yang berjilbab (Powell 2003)! Busana Muslim adalah komoditi yang dibeli, dijual dan dipakai di seluruh Indonesia, terus busana itu bisa dianggap sebagai unsur kebudayaan populer.

Kebudayaan populer bukan tentang apa yang fungsionil atau yang praktis – yang tersebut menutupi aurat di negara-negara tropis tidak logis. Budaya pop itu tentang identitas, kesenangan dan arti-arti (Fiske 1989:1). Kebudayaan pop juga adalah budaya orang-orang bawahan. Oleh karena itu, tanda-tanda terhadap hubungan kekuasaan bisa dilihat. Budaya itu budaya orang-orang bawahan, sambil ada tanda-tanda perlawanan kepada kekuasaan itu (Fiske 1989:4). Kebudayaan populer adalah kontradiksi dan perlawanan kepada sistem kekuasaan terus-menerus.

Dalam artikel Sian Powell (2003), dia menulis bahwa karena proses popularisasi busana Muslim dan proses westernisasi terjadi bersama-sama di Indonesia, maka mode menjadi unsur berpakaian yang sangat penting, dan pada saat ini kalau berjilbab dianggap sebagai orang yang bermode. Oleh karena itu, ada banyak perempuan di Indonesia yang baru berjilbab. Selanjutnya Sian Powell menjelaskan bahwa jilbab bukan lagi sebagai lambang ibadah, tetapi lambang orang yang bermode saja. Maksudnya, kalau berjilbab, menjadi orang yang berpakaian sesuai dengan mode terakhir. Jilbab tidak punya hubungan dengan ketaatan beragama lagi, karena siapa saja bisa berjilbab dan sebagian besar lebih khawatir bagaimana penampilannya kalau berjilbab daripada nilai ketaatan agamanya.

Lalu, bagaimana berkembangnya busana muslim sebagai budaya populer? Ada beberapa faktor yang menjadi penunjang busana muslim berkembang di Indonesia. Media adalah salah satu faktor yang sangat memengaruhi perkembangan busana muslim di Indonesia.

Sebagaimana yang kita tahu, belakangan ini media massa (tv, internet, dan sebagainya) menampilkan busana muslim dalam berbagai hal. Sebagai contoh, sinetron/film religi pada bulan Ramadhan menampilkan busana muslim lewat tokoh-tokohnya. Itu artinya, banyak masyarakat Indonesia yang menonton film/sintrom tersebut, dan pada akhirnya meniru busana yang dikenakan oleh para aktor. Hal ini menyebabkan perkembangan busana muslim semakin pesat lantaran pengaruh media yang begitu kuat.
Selain itu, di majalah, koran, dan internet, banyak kita temukan foto-foto model yang menggunakan busana muslim dengan berbagai mode. Bahkan setiap tahunnya, ada lomba busana muslim yang digelar untuk menampilkan jenis-jenis busana muslim terbaru. Menurut analisis penulis, rata-rata masyarakat Indonesia bersikap konsumtif. Jadi, apabila mereka (masyarakat Indonesia) menemukan hal-hal yang baru, mereka cenderung mencobanya, seperti busana muslim.

Ditambah lagi, media hiburan seperti infotainment, acap kali mengabarkan penampilan selebritas yang baru menggunakan busana muslim (dalam hal ini kerudung). Selebritas atau orang terkenal adalah publik figur yang keberadaannya merupakan sosok yang patut ditiru. Apakah itu cara hidupnya, cara pakainnya, dan sebagainya. Ketika si publik figur tersebut mengenakan busana muslim, tentunya akan ada saja masayarakat yang akan meniru hal yang sama seperti yang dikenakannya.
Pada perkembangannya, banyak masyarakat Indonesia yang mengenakan busana muslim (misalnya kerudung) tanpa memahami fungsi dan tujuan mengenakan busana tersebut. Busana muslim diibaratkan sebagai jamur yang cepat berkembang pada suhu yang lembab. Mereka (yang ikut trend) menilai bahwa busana muslim menjadi salah standar bahwa meraka telah mengikuti perkembangan zaman. Dalam hal ini, busana muslim dijadikan sebagai salah satu produk modernitas yang membuat seseorang dikatakan modern atau tidak.

Dampaknya, mereka yang menilai bahwa busana muslim hanya sebatas trend tidak merasakan kondisi psikologis tertentu dibandingkan orang-orang yang secara sadar mengenakan busana muslim.

Bagi seorang muslimah, perintah untuk menutup aurat adalah hal harus penuhi. Semua anggota tubuh perempuan Islam adalah aurat, kecuali muka dan telapak tangan. Jadi jelaslah bahwa menggunakan busana muslim jangan sampai hanya sebatas tren budaya popular saja. Melainkan sebuah anjuran yang bertujuan untuk memuliakan seorang muslimah di mata Tuhannya, dan lingkungannya.

Tapi pada kenyataan yang berkembang, busana muslim tidak lagi menjadi identitas seorang muslim. Busana muslim tidak lagi hanya berfungsi sebagai penutup aurat namun juga sebagai perhiasan untuk memperindah penampilan di hadapan Allah SWT dan sesama manusia.
Busana muslim kini semakin popular bahkan menjadi kekayaan budaya bangsa Indonesia. Bersama negara tetangga Malaysia, Indonesia menjadi barometer mode busana muslim, yang diakui dan diapresiasi oleh dunia internasional.

Daftar Pustaka

Umi Chulsum, Windy Novia. 2006. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya : Yoshiko Press
IPBM Jabar. 2007. Tren Busana Muslim. Jakarta : Gremedia Pustaka Utama
Barker, Chris. 2005. Cultural Studies Teori dan Praktik. Yogyakarta : Bentang
Raleigh, Elizabeth. 2004. Busana Muslim dan Kebudayaan Populer di Indonesia:
Pengaruh dan Persepsi. Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s