Sepucuk Surat untuk Linda


cintasurat3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Teruntuk Linda.

Aku taktahu mengapa setiap yang kusentuh selalu rusak. Waktu SD aku begitu bodoh. SMP aku menjadi orang yang cerdas karena mengenalmu. Dan SMA aku kembali menjadi orang biasa karena kau tak lagi bersamaku. Kini aku begitu bodoh dan arogan hingga akhirnya kuputuskan bahwa aku harus menjauh darimu agar aku takmerusak kebahagianmu, agar aku takmerusak mimpimu, dan agar aku takmerusak ciptaan Tuhan yang begitu berharga. Yaitu kau yang masih menyimpan kerendahatian dalam setiap keceriaanmu. Kau yang masih mampu menyimpan kegelisahan dalam setiap senyum manismu.

Usai cinta remajaku di kala SMP sirna setelah kelulusan kita, aku berpikir bahwa aku dapat melupakanmu dengan mudah. Aku pernah berpikir bahwa aku akan melupakanmu seiring bertambah dewasanya usia kita. Namun, nyatanya, wajahmu yang dulu dapat membuat hatiku melonjak, masih terpatri di hatiku. Semakin kuat seperti air laut yang mengisi palung terdalam. Kau mungkin tak sadar karena kaulah air di samudra luas itu, sementara aku hanya salah satu palung kecil di samudra hatimu. Palung yang pernah kau isi dengan ketulusanmu saat kita masih sama-sama duduk di bangku SMP.

Masih kuingat dengan jelas bahwa kau berhasil memenangi lomba cerdas cermat saat kelasmu bersaing dengan kelasku di SMP. Meski kau adik kelasku, aku kalah olehmu. Aku sadar bahwa saat itu ketika aku kalah olehmu bukan hanya karena kau lebih pintar dariku, tapi juga karena aku ceroboh dan membuang poin yang kukumpulkan. Aku ceroboh sehingga nilaiku dikurangi pada sesi pertanyaan rebutan di babak terakhir lomba cerdas cermat itu. Jika saja aku bersabar dengan tidak menjawab pertanyaan yang jawabanya tidak kuketahui, maka mungkin akulah yang menjadi pemenang. Kau tahu apa yang membuatku tak sabar dan ceroboh? Ego. Aku ingin terlihat hebat di hadapanmu. Aku ingin membuatmu terpesona. Sebuah perilaku primitif yang masih terpelihara di benak laki-laki saat berusaha memikat wanita. Entah kau tahu atau tidak, karena saat itu kau begitu anggun dan sama sekali tak peduli dengan kekalahanku.

“Kak, ada yang suka dengan kakak!”

Bodohnya aku percaya dengan kata-kata temanmu setelah kita latihan membuat tandu di hari minggu. Temanmu memandang ke arahmu. Dan setelah itu, aku mulai menaruh perhatian lebih padamu. Aku seakan terbang karena menganggap bahwa kau memberi secuil perhatian yang tak kau tunjukan sebelumnya saat kita bersaing di lomba cerdas cermat.

Di usia puberku, tubuhku dipenuhi zat-zat yang mengantarkan reaksi kimia yang disebut cinta. Aku kehilangan sedikit logikaku meski aku masih tetap menjadi salah satu murid favorit di kalangan guru-guru SMP kita. Aku jatuh cinta. Meski saat itu aku berharap dapat membangun cinta bersama orang yang lebih tepat denganku.

Karena cinta pula aku banyak melakukan kebodohan yang menyebabkanku merusak segala hal yang coba kusentuh. Namun, aku berusaha membangun hidupku seiring semakin sadarnya aku dengan segala kebodohan yang melekat pada diriku. Aku tahu kenapa aku harus hidup. Aku memiliki satu alasan kenapa aku harus menjadi yang terbaik di suatu bidang yang aku sukai.

Bahkan, karena kebodohanku itu, pernah pula aku dianggap taklayak menjadi ketua PMR karena tak adil memimpin PMR ketika kau menjadi anggota PMR. Ini keterlaluan. Saat hari pertanggungjawaban kepengurusan PMR, anak PMR lainnya berhasil membaca perasaan tersembunyiku kepadamu. Ia menganggap aku takadil memimpin kepengurusan PMR, karena sering memilihmu menjaga UKS atau menjadi petugas PMR saat upacara bendera. Sungguh, sebenarnya dulu, selain rasa cintaku kepadamu, aku memilihmu atas bakatmu merawat anak-anak yang sakit saat upacara. Pada saat itulah aku sadar bahwa aku harus menjauh darimu agar tak ada seorangpun yang cemburu dengan kebaikanmu.

Aku menjauh darimu. Perlahan. Hingga akhirnya cinta itu justru berbunga subur dalam kesendirianku. Dalam kesunyianku menjelang kelulusanku dari SMP. Entah kau ingat atau tidak tentang wujud kebodohanku yang lain menjelang hari kelulusanku dari SMP. Usiaku empat belas tahun. Saat itu, jiwa anak-anakku bercampur dengan keinginan dewasaku. Dengan mata anak-anakku, aku melihatmu seperti kembang gula yang harus kupertahankan. Sementara jiwa dewasaku yang mulai tumbuh menuntutku agar aku memintamu menjadi kekasihku dengan cara ksatria, yaitu dengan penuh tanggung jawab saat aku hendak mengatakan bahwa aku menginginkanmu. Dan apa jadinya? Saat aku ingin mengatakan perasaaanku, semua kata-kata yang telah kukumpulkan akhirnya ditelan udara. Aku tak sanggup mengeluarkan segala keinginaku dari mulutku. Aku menjadi bisu di depanmu.

“Kakak mau ngomong apa?”

Begitu tantangmu setelah kutarik tanganmu agar kau mau mendengarkan kata-kataku. Aku hanya diam. Memandang kecemasan yang tersimpan di bola matamu dan membiarkanmu pulang setelah kau menunggu beberapa detik kata-kata cinta yang tak sanggup kuucapkan. Kita berpisah setelah itu. Aku melanjutkan sekolahku ke SMA. Sementara kau, yang kuharap akan masuk SMA yang sama denganku akhirnya masuk SMA yang berbeda setahun setelah kelulusanku. Kita tak pernah bertemu meski kenanganmu masih mengkristal di kepalaku.

Sedikit kenangan yang masih kuingat tentangmu adalah bahwa kau penyuka warna ungu. Syal favorit yang sering kau gunakan untuk mengikat rambutmu adalah syal dengan motif Daisy Duck. Kau memiliki cita-cita menjadi seorang dokter, perawat, atau bidan. Dan kau memiliki semangat dan obsesi yang tinggi terhadap cita-citamu. Karena semangatmu itu pula maka akupun tahu bahwa kau akan menempuh jalan sesulit apapun untuk menapaki tangga cita-citamu. Kau dapat menapakinya karena saat itu makna kebahagiaan bagimu adalah jika kenyataan yang ada di hadapanmu sejalan dengan mimpi yang ada di kepalamu. Kau mendapatkanya sekarang. Dan aku merasa cukup bahagia dengan hanya melihatmu memperoleh kebahagiaan yang kau inginkan.

Teruntuk Linda yang pernah kukagumi saat aku SMP.

Setelah lulus SMP aku berusaha mencari motif untuk tidak mencintaimu. Di SMA, kusibukan diriku dengan mencari minat lain di mana aku tidak akan kembali terjebak ke dalam satu perasaan yang nyaris kuberikan kepadamu. Aku tak mau jatuh cinta. Aku ingin membangun cinta sehingga akhirnya kutepis niatku untuk kembali masuk ekskul PMR saat aku SMA.

Aku berusaha mencari kegiatan lain di mana aku bisa berbagi cinta tanpa harus terjebak hasrat untuk memiliki. Kepemilikan hanya melahirkan kesibukan untuk mengamankan, bukan untuk mengembangkan. Dan terkadang, kepemilikan yang begitu kuat justru merusak benda berharga yang kita miliki. Kau ingat bukan tentang cerita anak kecil yang menggenggam erat kerikil di tanganya? Ya. Kerikil itu akhirnya lepas melalui sela-sela jemarinya karena anak kecil itu menggenggamnya terlalu kuat.

Oleh sebab itu. Untuk membebaskanmu dari pikiranku, aku akhirnya memilih untuk meyalurkan ketulusan yang pernah kupelajari darimu melalui tulisan. Aku menulismu. Bercerita tentangmu dengan berbagai nama. Aku terus mengalirkan semangat yang kau miliki melalui tulisanku. Setelah menjadi palung, aku ingin menjadi sungai yang mengalirkan air yang bersumber dari samudra hatimu.

Namun, berbeda denganmu. Hatiku mungkin takcukup luas untuk menampung kegelisahan ini. Meski kucoba salurkan kegelisahanku melalui lamunan dan tulisan, kenanganku tentangmu tak juga hilang. Sebaliknya, kenangan itu justru semakin membekas. Itu semua mungkin karena hatiku yang keras. Hatiku menolak perasan ini. Dan ketika aku mencoba untuk menolak, namamu justru terukir di hatiku yang sekeras karang. Bukan di hatiku yang selembut pasir sehingga namamu tak kunjung hilang meski air pasang berkali-kali hantam hatiku untuk coba hapus dan pudarkan namamu.

Aku bergelora. Seperti gelombang pasang yang mencari pantai yang tenang. Seperti kapal laut yang mencari pelabuhan yang damai. Seperti ikan yang mencari sebuah karang. Seperti pelaut yang merindu dermaga untuk berlindung dari badai topan yang terus menghantam. Namun kusimpan itu selama SMA karena tak ada pantai, pelabuhan, karang, ataupun dermaga yang senyaman dirimu.

Kau tahu Linda. Kerinduanku yang bergelora saat itu sempat membuatku nyaris kehilangan akal pikiranku. Pernah suatu ketika aku turun dari bus kota hanya karena melihatmu ada di bus kota lain saat bus yang kutumpangi terjebak macet di lampu merah. Lampu merah yang menjadi tanda berhenti bagi mobil-mobil yang ada di perempatan itu justru membuat jantungku berpacu lebih kencang. Aku turun dari bus kota, berlari menuju bus kotamu, naik melalui pintu belakang, dan memandangimu yang duduk di bangku depan meski kau tak menoleh sedikitpun kepadaku. Aku bahagia melihatmu duduk di sana. Membiarkanmu memandang ke luar jendela bus kota. Membiarkanmu menyaksikan anak-anak pengamen dan pedagang asongan yang ringkih dan rapuh. Kau tak menoleh ke arahku hingga akhirnya aku turun lebih dulu begitu bus kota itu keluar di pintu tol Cikunir. Setelah itu kita tak pernah lagi naik bus yang sama meski aku sempat berharap bahwa kita akan duduk di satu bangku bus bersama-sama.

Semakin lama tak menemuimu, kerinduanku justru semakin tak terbendung. Dan untuk hapus itu semua, Aku akhirnya memilih untuk terus luapkan emosiku melalui aktivitas apapun yang bisa kulakukan. Kuikuti beberapa organisasi di SMA, aku alokasikan kerinduanku kepadamu dengan membuat banyak tulisan, aku kubur kenanganku tentangmu dengan mengerjakan soal-soal latihan menuju universitas, dan aku sibukan diriku agar aku berhasil temukan tempat yang cocok untuk labuhkan egoku.

Aku takmengerti kesibukanku. Aku kehilangan motifku hingga akhirnya kuputuskan bahwa aku harus melanjutkan studiku agar aku tetap bisa menulis. Karena, setelah lama menulis aku merasa menemukan mimpiku di sana. Mimpi yang kutemukan saat beberapa temanku menganggapku memiliki bakat menulis. Aku tak menganggap ini sebagai bakat, karena aku hanya mencoba menceritakan kebaikan yang kulihat pada dirimu dengan menuliskannya dalam berbagai nama.

Teruntuk Linda yang kini tengah menciptakan mimpi di dunia nyata. Seperti yang kubilang di awal surat ini, aku tak pernah berani memegang sesuatu karena sesuatu itu akan rusak saat aku berusaha menyentuhnya. Saat aku merasa yakin bahwa semuanya berjalan lancar jika aku mengerjakan sesuatu dengan cara yang benar, tiba-tiba saja sebuah kejutan menarikku keluar dari jalan yang kurancang dengan sempurna. Aku seperti terhempas dari jalan tol. Dokter mendiagnosa bahwa aku terkena tifus beberapa hari menjelang hari pelaksanaan masuk universitas. Aku terbaring di rumah sakit, dan tak sanggup bangkit meski kuharap aku dapat mengerjakan soal ujian dengan seratus persen kemampuanku. Tak kutemukan namaku di koran pengumuman. Aku telah merusak mimpiku sendiri saat aku berusaha menggenggamnya dalam kepalan tanganku. Segala hal yang coba kugenggam akhirnya rusak.

Setelah sembuh, tanpa asa aku akhirnya mencoba menjalani hidupku yang begitu datar. Aku sama sekali tak memiliki keberanian untuk arungi gelombang hidup meski dalam bentuk kata-kata. Hidupku begitu datar hingga undangan ulang tahunmu yang ke tujuh belas datang kepadaku. Aku terlonjak. Tak kusangka kau mengingatku meski menurutku tak mungkin ada namaku di salah satu sudut hatimu. Mungkin itu adalah cara Tuhan untuk ciptakan harapan kecil kepada hamba-Nya yang terhempas. Dan kau bahkan justru melambungkanku saat kau memberiku potongan ke tiga kue ulang tahunmu. Pertama untuk ayahmu, ke dua untuk adikmu, dan ke tiga untukku yang hanya datang sebagai teman lama yang menyimpan rinduku kepadamu.

Aku menyimpan harapanku. Berharap bahwa kau bahagia karena aku tak ingin merusak kebahagiaanmu dengan cara mencoba mendekati atau menyentuh mimpimu. Aku pernah bilang bahwa aku lebih sering merusak segala hal yang kusentuh. Aku pulang dari rumahmu dengan menyimpan mimpimu di kepalaku. Mencoba menemukan mimpiku sendiri hingga keberanianku muncul karena melihat tekadmu untuk menjadi seorang perawat. Kalau kau memiliki tekad begitu kuat, kenapa aku tak memiliki tekad yang juga kuat?

Mendengar kabar itu maka akhirnya aku memutuskan untuk coba bangun mimpiku kembali di dunia nyata. Aku mencoba untuk menjadi seorang pewarta. Aku cari jurusan yang memungkinkanku menjadi seorang pewarta. Aku berusaha sadar dengan pilihanku. Mengumpulkan segenap keberanianku, dan mengambil kesempatan ke dua ini bersamaan dengan saat kau mengambil kesempatan pertamamu untuk menjadi seorang perawat. Kau diterima sebagai calon perawat. Aku diterima sebagai calon pewarta. Kelegaan kembali menyelusup di hatiku. Tuhan seakan kembali kirimkan jari-Nya untuk angkat tubuhku yang terhempas di lembah keputusasaan.

Saat itu aku melonjak. Girang karena rencana yang dipersiapkan Tuhan begitu mengejutkan bagiku. Aku ingin berbagi kebahagiaan ini bersamamu. Mengundangmu dalam perayaan kecil yang kuadakan di rumahku bersama beberapa teman dan sahabat yang juga kuundang untuk merayakan kebahagiaan kecil ini.

Aku mengundangmu. Aku menantimu. Menunggumu. Dan berharap kau datang agar aku bisa berbagi kebahagiaan ini kepadamu. Namun kau tak datang. Kau tak datang ke rumahku hingga perayaan kecil itu usai. Aku tersadar. Berusaha sadar karena mungkin Tuhan tak ingin aku melukaimu. Aku mungkin akan melukaimu dengan cara yang tak kusadari jika kau datang ke perayaan kecil yang kutujukan untuk mensyukuri nikmat ini. Aku mungkin akan melukaimu dan meloloskanmu dari sela jemariku saat aku berusaha mengenggamu di hari yang begitu bahagia bagiku. Tuhan telah mengatur ketidakhadiranmu agar aku tak kembali merusak mimpiku dan mimpimu dengan kebahagiaanku yang seperti anak kecil. Sehingga akhirnya, di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagiku, tertinggal satu kebahagiaan yang seharusnya menggenapi kebahagiaan itu.

Teruntuk Linda. Ingin sekali aku mengeposkan surat ini untuk mengambil satu kebahagianku yang tertinggal saat itu. Namun aku sadar bahwa aku lebih sering merusak setiap benda yang ingin kusentuh. Dan akhirnya setelah aku selesai menulis surat ini, maka aku putuskan untuk membiarkan kesempurnaan itu tetap menjadi milikmu. Aku simpan saja surat ini dalam sebuah kotak coklat yang ada di laci mejaku. Sementara cukup bagiku mengagumi kesempurnaanmu dalam kesendirianku. Di sini, saat aku menulis surat ini, aku bahagia melihatmu begitu bahagia.

***

 

2 thoughts on “Sepucuk Surat untuk Linda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s