Memaknai dan Memahami Karya “The Old Man and The Sea”


manandsea
Sumber: Google

Dalam karya sastra, kita mengenal namanya karya terjemahan. Karya terjemahan adalah karya yang sengaja diterjemahkan oleh penerjemah agar khalayak (pembaca umum) dapat membaca karya tersebut.

Biasanya, sebuah karya yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dilatarbelakangi karena karya tersebut dianggap fenomenal atau karya masterpiece. Selain itu, bisa jadi karena penulisnya mendapatkan nobel sastra. Karya masterpiece tersebut, diterjemahkan ke dalam macam-macam bahasa di dunia. Tujuannya tak lain agar ruang lingkup atau segementasi pembaca lebih luas. Namun, terkadang karya yang diterjemahkan dinilai tidak sesuai dengan isi/pesan penulis sebenarnya, maka tak heran banyak pembaca yang kecewa dengan hasil terjemahan sang penerjemah.

Menjadi seorang penerjemah memang tak mudah. Butuh pemahaman bagaimana isi sebuah karya sastra ‘diartikan’ menjadi sesuatu yang memiliki kesamaan makna dengan karya aslinya. Oleh karena itu, sebagai penerjemah, harus memahami maksud penulis karya yang akan diterjemahkan, sebelum dituangkan dalam bentuk karya yang ditransformasikan.

Pada tahun 1952, lahir sebuah novel yang berjudul “The Old Man and The Sea” karya Ernest Hemingway. Novel yang setebal (127 halaman panjang) merupakan karya yang mendapatkan nobel sastra. “The Old Man and The Sea” diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia. Seperti bahasa Arab, Indonesia, dan lain sebagainya.

Sebagai karya sastra terjemahan, novel ini diterjemahkan oleh dua penerjemah Indonesia. Kedua penerjemah itu adalah Dian Vita Ellyati dan Sapardi Djokodamono. Menerjemahkan karya sastra berarti mengubah/mengurangi atau menambah apa-apa yang ada pada aslinya. Pendapat tersebut benar adanya. Hal ini terbukti dari penipisan jumlah halaman karya terjemahan dibandingkan karya aslinya. Jika novel aslinya terdiri dari 127 halaman panjang, maka hasil terjemahan Dian Vita Ellyati hanya 132 halaman pendek. Itu artinya, terdapat pengurangan/penambahan terhadap karya asli “The Old Man and The Sea.”

Selain itu, karena novel ini diterjemahkan oleh dua pengarang yang berbeda, tentunya banyak sekali perbedaan dalam pemaknaan pesan dalam novel ini. Bisa saja, Dian—mengartikan/memaknai karya Hemingway dengan taat terhadap tata bahasa. Tetapi, Sapardi—memaknai karya tersebut dengan cara merekonstruksi karya aslinya menjadi sebuah karya baru tetapi tidak mengeyamping pesan yang sebenarnya dari penulis asli.
Novel “The Old Man and The Sea” bercerita tentang seorang lelaki tua bernama Santiago yang telah melaut selama 84 hari tanpa berhasil menangkap seekor pun ikan.

Ia tampak sangat sial, sehingga muridnya mudanya, Manolin, dilarang oleh orang tuanya untuk berlayar bersama si lelaki tua. Lantaran masih berdedikasi pada Santiago, anak laki-kali gubuk ini setiap malam menarik kembali peralatan pancingnya, memberinya makan dan mendiskusikan baseball Amerika—terutama idola Santiago, Joe DiMaggio.

Santiago memberitahu Manolin bahwa hari berikutnya ia akan menjelajah jauh ke dalam selat untuk memancing, dan yakin bahwa garis ketidakberuntungannya akan berakhir.
Sekilas jika kita cermati tokoh utama, Santiago adalah sosok laki-laki yang tegar dan optimis. Walaupun tak jarang ia diremehkan oleh banyak orang, tapi ia bisa buktikan bahwa ia tetap survive menjalani hidupnya sebagai ‘petualang’ laut.

Pada akhirnya, Santiago dapat membuktikan bahwa ia bisa mengubah anggapan buruk orang-orang atas ketidakberuntungannya menjadi sebuah prestasi yang mengagumkan. Santiago bisa mendapatkan ikan besar di tengah laut. Walaupun di tengah laut sendiri, Santiago mampu menyelesaikan semua haling merintang sendiri tanpa bantuan orang lain.
Tulisan di atas adalah rangkuman kisah dalam novel “The Old Man and The Sea.” Walaupun novel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh dua penerjemah sekaligus, tetapi esensi pesan yang ingin disampaikan penulis asli (baca:Hemingway) tidak terlalu jauh berbeda. Akan tetapi, jika kita membaca karya aslinya, serta memahami bahasa aslinya, tentu kita akan menemukan diferensiasi antara karya asli “The Old Man and The Sea” dengan terjemahan Dian dan Sapardi.

Saya (sebagai pembaca-pen) membaca dua karya hasil terjemahan menemukan perbedaan yang cukup berarti antara novel yang diterjemahkan oleh Sapardi dengan novel yang diterjemahkan oleh Dian. Pada dasarnya, kedua penerjemah tersebut memiliki frame yang sama aka nisi cerita. Perbedaan yang mendasar hanya terdapat dari cara penyampaiannya. Sebagai pembaca awam, saya lebih memahami pesan yang disampaikan Sapardi memalui hasil terjemahannya dibandingkan Dian. Alasannya karena Sapardi mampu menangkap makna yang ingin disampaikan Hemingway, dan dituangkan dalam bentuk yang berbeda.

Apakah itu diksinya atau pun gaya bahasanya. Gaya bahasa yang digunakan Sapardi lebih mudah saya pahami (sebagai pembaca awam) dibandingkan Dian. Ketika saya membaca hasil terjemahan Dian, saya memerlukan waktu yang cukup banyak untuk memahami maksudnya. Sehingga terkadang membuat saya jemu untuk membacanya. Walaupun saya menilai bahwa Sapardi lebih baik dibandingkan Dian, tetapi Dian memiliki karakter narasi yang cukup baik.

Lalu bagaimana kita (sebagai pembaca) dapat memahami dan memaknai karya terjemahan seperti “The Old Man and The Sea” dengan baik? Solusi yang terbaik adalah dengan membaca karya asli penulisnya. Sayangnya, terkadang masalah bahasa memberikan keterbatasan kepada kita untuk membaca karya aslinya. Oleh karena itu, pada hakikatnya kita sebagai penikmat sastra membutuhkan penerjemah yang mampu menerjemahkan karya sastra dengan baik. Dengan demikian, kita mampu memahami karya sastra terjemahan sesuai dengan maksud penulis aslinya.

2 thoughts on “Memaknai dan Memahami Karya “The Old Man and The Sea”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s