Layakkah Novel dan Film Ayat-Ayat Cinta Sebagai Karya Fenomenal?


ayat-ayat-cinta1
Sumber: Google

Khazanah kesusastraan novel popular Indonesia kehadiran sebuah karya yang ditulis oleh seorang penulis yang bernama Habiburrahman El Shirazy. Nama kang Abik (begitu panggilan akrabnya) memang terhitung penulis baru di dunia sastra.

Akan tetapi, sejak hadirnya novel beliau yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” di pasaran, nama kang Abik menjadi semakin popular. Novel “Ayat-ayat Cinta” dinobatkan sebagai novel best seller. Pasalnya, tak butuh lama untuk menjual novel ini. Ayat-ayat Cinta begitu laris di pasaran. Novel ini dibaca oleh berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, sampai orang dewasa. Bisa dikatakan novel ini menjadi penggerak semangat baca orang Indonesia akan sastra.

Novel ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Fahri. Ia adalah pemuda Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir. Secara umum, seperti kebanyakan nvel popular lainnya, novel ini mengangkat tema percintaan yang memang sangat menarik untuk dibahas.

Selain itu, novel ini bergenre keislaman. Banyak muatan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam novel ini. Ceritanya yang mengharu biru membuat tak sedikit orang yang membacanya meneteskan air mata.
Sebenarnya, jika kita cermati (sebagai pembaca kritis) novel ini jauh sekali dari kesempurnaan. Ini terlihat dari ketidakrasionalan cerita yang diangkat. Seakan-akan masalah yang diangkat dalam novel ini terlalu mengada-ngada. Selain itu, penulis (Kang Abik, pen) ‘menciptakan’ tokoh-tokoh dalam novel ini sangat sempurna.

Fahri digambarkan sebagai seorang pemuda yang sholeh, tampan, baik hati, dan sifat yang baik lainnya. Tidaj hanya itu, tokoh sentral lain juga digambarkan memiliki sifat yang sempurna. Bagi saya, itu terlalu berlebihan. Alasannya karena pada zaman sekarang sulit sekali menemukan sosok manusia yang sempurna seperti digambarkan kang Abik.
Hal senada tidak hanya dakam novelnya.

Pada bulan Februari 2008 yang lalu, dunia perfilman Indonesia menggelegar karena hadirnya sebuah film adaptasi dari novel yang berjudul sama dengan novelnya. Yaitu Ayat-ayat cinta. Film ini disutradarai oleh sutradara yang tak asing lagi di industry perfilman Indonesia, yaitu Hanung. Film Ayat-ayat cinta dibintangi oleh artis papan atas Indonesia.
Film ini mengisahkan tokoh utama bernama Fahri bin Abdullah as-Shiddiq yang diperankan oleh Fedi Nuril. Ia dicintai empat wanita cantik, yaitu Maria Girgis (Carrisa Puteri), Nurul (Melanie Puteri), Aisya (Rianti Cartwright), dan Noura (Zaskia Adya Mecca).
Kendati secara umum plotnya tidak jauh beda dengan versi novel, sebagai hasil penerjemahan sutradaranya terhadap novel, film ini memiliki banyak sisi perbedaan yang sangat mendasar dengan versi novelnya. Perbedaan-perbedaan dengan versi novel ini yang menjadi salah satu kekuatan film ini.

Jika banyak sastrawan dan kritikus film yang menyatakan bahwa novel dan film Ayat-ayat Cinta biasa saja, lalu kenapa banyak orang meminati dua buah karya tersebut? Adakah keunikan dalam novel tersebut sehingga karya tersebut dinobatkan sebagai karya yang fenomenal?

Novel Ayat-ayat Cinta dapat digolongkan sebagai novel popular. Jika kita selidiki lebih lanjut, dalam novel popular salah satu ciri utamanya yaitu, novel popular sering mengangkat tema percintaan. Kenapa? Karena tema cinta merupakan gaya hidup tersendiri dalam novel popular yang segmentasinya jelas, yaitu masyarakat umum. Itu artinya, tema percintaan menjadi ‘barang’ yang laku di pasaran. Intinya adalah, novel Ayat-ayat cinta merupakan salah satu sekian banyak novel popular yang bergenre sama. Akan tetapi, banyak hal yang membedakan Ayat-ayat cinta berbeda dengan novel popular lainnya.

Memasuki tahun 2000an, khazanah kesusastraan Indonesia diramaikan dengan kehadiran novel yang bercerita tentang kehidupan remaja yang tak lepas dari yang namanya cinta. Kemudian, Ayat-ayat cinta hadir dengan membawa nuansa baru, dan pastinya dengan warna yang baru pula. Novel ini bisa dikatakan novel bergenre islami.

Hal ini dapat dibuktikan dari narasi cerita yang mengarah kepada pesan-pesan agama, serta cover dari novel itu sendiri. Pada cover novel ini, seorang wanita timur-tengah yang mengenakan cadar menjadi icon pembeda dengan cover kebanyakan. Hal ini menarik karena tidak banyak novel di Indonesia yang memakai cover serupa. Selain ceritanya yang berbeda dari kebanyakan novel saat itu, novel ini dibubuhi endorsement dari orang-orang yang popular di Indonesia yang menyatakan bahwa novel Ayat-ayat Cinta adalah novel pembangun jiwa yang sungguh menggugah. Nah, ketika kita (pembeli buku,pen) membaca endorsement tersebut, tentunya kita akan tertarik membelinya, dan pada akhirnya membaca novel tersebut. Selanjutnya yang terjadi adalah, novel Ayat-ayat Cinta dikenal banyak orang melalui pesan dari mulut ke mulut.

Lalu apa efek yang terjadi? Novel Ayat-ayat cinta dengan seketika diserbu oleh penikmat novel popular. Pada akhirnya novel ini dinobatkan sebagai novel best seller di Indonesia. Dalam hitungan hari saja, novel ini dicetak ulang untuk memenuhi kebutuhan pasar. Selanjutnya, novel ini ramai dibicarakan oleh banyak kalangan. Mulai dari mahasiswa, masyarakat, dan lain sebagainya.

Ketika sebuah novel telah berlabelkan best seller, maka pasti akan ada industry perfileman yang akan tertarik membuat sebuah film yang diangkat dari novel tersebut. Proses ini disebut ekranisasi, yaitu, perpindahan novel ke film. Sebuah production house di Indonesia yaitu MD Entertainment berinisiatif melayarlebarkan novel Ayat-ayat Cinta. Harapannya tentu tidak lepas dari keuntungan komersial yang sangat besar. Hal ini didasarkan dari asumsi pasar bahwa rata-rata masyarakat Indonesia mengenal novel kesuksesan Ayat-ayat Cinta sehingga hal ini juga berdampak suksesnya film yang mereka garap.

Lebih lanjut saya akan mencoba menganalisis kenapa film Ayat-ayat Cinta diminati banyak orang. Sebenarnya, ada beberapa alasan kenapa film ini dimintai. Diantaranya adalah: Pertama, jika versi novel beraliran romantis Islam murni yang menampilkan sosok Fahri yang tanpa cacat, secara agama sekalipun, versi film lebih cenderung realis. Kendati secara umum masih tetap beraliran romantis yang menguras air mata penonton dan mensakralkan cinta, sosok Fahri dalam versi film tidak lagi tanpa cacat.

Kedua, gagasan dakwah yang ingin disampikan dalam film sama sekali tidak mengganggu plot film. Ini berbeda dengan versi novel. Sebagaimana biasa terjadi dalam novel gagasan, dalam versi novel, semangat menjadikan novel sebagai media dakwah dalam beberapa hal bisa dikatakan menganggu, bahkan merusak plot novel.

Ketiga, adegan Fahri di dalam penjara sebagai klimaks film yang mengharubiru karena melepaskan kebahagiaan yang belum lama diraihnya bersama AishA, sang istri, yang juga membuat dirinya dipecat sebagai mahasiswa al-Azhar, dalam versi film ditampakkan dengan jelas sebagai plot dimana tokohnya sama dengan yang dialami Nabi Yusuf, karena dendam seorang perempuan yang cintanya tidak terbalas.

Keempat, sebagaimana versi novelnya yang mendapat banyak penghargaan dan sebagai novel megabestseller, dimana penulisnya telah mendapatkan royalty 1,5 milyar, film ini berhasil menguasai emosi penonton, karena selain plotnya yang baik, juga akting yang brilian dari para aktornya. Berbeda dengan sebagian besar film dan sinetron Indonesia, di mana pada saat menontonnya terasa sedang menonton orang sedang berakting, film ini agaknya berhasil membuat penonton melihat realitas yang diadegankan. Film ini berhasil bukan saja menguras air mata penonton, tetapi juga menghiburnya. Sebab itu, wajar jika pita film ini berhasil dibuat hingga 100 copy, melampaui jumlah pita film terbaik Holly Wood yang di Indonesia dicetak hanya 65-70 copy. Meski mungkin saja dipengaruhi juga daya tarik sisi agama, film ini berhasil menyedot penonton dari berbagai kalangan hingga lebih dari 3 juta orang.

Setelah saya paparkan bagaimana magnet Ayat-ayat Cinta sehingga diminati banyak orang, maka tak heran jika novel dan film Ayat-ayat Cinta merupakan salah satu karya anak bangsa yang cukup fenomenal. Walaupun pada dasarnya, kita kurang mengetahui dengan pasti apakah novel dan film Ayat-ayat Cinta berkualitas, tapi yang jelas Ayat-ayat Cinta mampu menyedot perhatian banyak orang. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.

10 thoughts on “Layakkah Novel dan Film Ayat-Ayat Cinta Sebagai Karya Fenomenal?

  1. aslmlkm.bagamnapun tdak bisa dpungkiri bahwa novel aac fenomenal,dengan cerita yang tidak biasa namun enak dibaca bahkan menghanyutkan tidak terkecuali bagi orang2 yang mungkin tidak setuju dengan beberapa gagasan di dalamnya, misal:poligami,banyak karya sastra yang di anggap bermutu tinggi tapi tidak bisa dinikmati oleh orang awamn,novel ini termasuk yang bisa menjawab tantangan tsb,

    1. sepakat.. yang pasti setidaknya novel aac telah memperkenalkan islam kepada khalayak yang masih awam tentang agama..
      walaupun masih banyak minusnya,,

  2. novel acc diterbarkan pd waktu yg pas disaat massa berada di titik jenuh dg novel yg berbau cinta an sich, n produser film acc pandai ngambil peluangx y jd laris hhhh

  3. mantap nih novelnya..
    bahas juga dong yang lagi hangat sekarang film Ketika Cinta Bersambung eh maksudnya Bertasbih.. hehe

    tukeran link yuk

  4. subhanAllah mantab novelnya….saye nangis baca nya tu…
    oia mslh poligami yg didlm novel tersbt..sah2 aja..kan Al Qur’an juga nyarain tiu…….tp kendala hy satu..adil apa tidak….cuman itu…!!..wallahualam…semuanya kembali pd Allah.

  5. jalan cerita di film dan novel Ayat-ayat cinta tidak terlalu rumit untuk jenis karya sastra fiksi. tapi di filmnya, ada dua adegan yang membuat saya terhanyut. pertama, fahri, aisha, maria, & ibu maria makan bersama di restoran. saat itu, kalau tdk salah aisha yg membayar makanan mereka. maria menatap fahri, dan tampaknya tahu kalau fahri merasa tidak bisa diandalkan.
    lalu diperlihatkan juga saat aisha marah pada fahri.

  6. jalan cerita di film dan novel Ayat-ayat cinta tidak terlalu rumit untuk jenis karya sastra fiksi. tapi di filmnya, ada dua adegan yang membuat saya terhanyut. pertama, fahri, aisha, maria, & ibu maria makan bersama di restoran. saat itu, kalau tdk salah aisha yg membayar makanan mereka. maria menatap fahri, dan tampaknya tahu kalau fahri merasa tidak bisa diandalkan.
    lalu diperlihatkan juga saat aisha marah pada fahri.
    ini merupakan beberapa adegan yg membedakan film dan novelnya.

    kelebihan novel dan filmnya mengandung ajaran islam dalam menjalani hidup, sehingga banyak orang yang merasa nyaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s