Shysipus dalam Khazanah Sastra Indonesia


scorpio
Sumber: Google

Percintaan Hubungan Sedarah dalam cerita Sangkuriang dan Prabu Watugunung

Hubungan sumbang (Inggris: incest) adalah hubungan saling mencintai yang bersifat seksual yang dilakukan oleh pasangan yang memiliki ikatan keluarga (kekerabatan) yang dekat, biasanya antara ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar sesama saudara kandung atau saudara tiri. Pengertian istilah ini lebih bersifat sosio antropologis daripada biologis (bandingkan dengan kerabat-dalam untuk pengertian biologis) meskipun sebagian penjelasannya bersifat biologis.

Hubungan sumbang diketahui berpotensi tinggi menghasilkan keturunan yang secara biologis lemah, baik fisik maupun mental (cacat), atau bahkan letal (mematikan). Fenomena ini juga umum dikenal dalam dunia hewan dan tumbuhan karena meningkatnya koefisien kerabat-dalam pada anak-anaknya. Akumulasi gen-gen pembawa ‘sifat lemah’ dari kedua tetua pada satu individu (anak) terekspresikan karena genotipenya berada dalam kondisi homozigot.

Secara sosial, hubungan sumbang dapat disebabkan, antara lain, oleh ruangan dalam rumah yang tidak memungkinkan orangtua, anak, atau sesama saudara pisah kamar. Hubungan sumbang antara orang tua dan anak dapat pula terjadi karena kondisi psikososial yang kurang sehat pada individu yang terlibat. Beberapa budaya juga mentoleransi hubungan sumbang untuk kepentingan-kepentingan tertentu, seperti politik atau kemurnian ras.

Akibat hal-hal tadi, hubungan sumbang tidak dikehendaki pada hampir semua masyarakat dunia. Semua agama besar dunia melarang hubungan sumbang. Di dalam aturan agama Islam (fiqih), misalnya, dikenal konsep muhrim yang mengatur hubungan sosial di antara individu-individu yang masih sekerabat. Bagi seseorang tidak diperkenankan menjalin hubungan percintaan atau perkawinan dengan orang tua, kakek atau nenek, saudara kandung, saudara tiri (bukan saudara angkat), saudara dari orang tua, kemenakan, serta cucu.

Folklor Indonesia juga mengenal hubungan sumbang. Hubungan sumbang antara Sangkuriang dan ibunya sendiri (Dayang Sumbi) dalam dongeng masyarakat Sunda atau antara Prabu Watugunung dan ibunya (Sinta), yang menghasilkan 28 anak — kisahnya diabadikan dalam pawukon.

Lebih lanjut lagi, saya akan membahas masalah hubungan terlarang dalam cerita Sangkuriang dan Prabu Watugunung. Pada cerita Sangkuriang, kasus percintaan terlarang terjadi antara Sangkuriang dan Ibunya (Dayang Sumbi). Hal ini bermula ketika Sangkuriang (yang telah tumbuh dewasa) bertemu lagi dengan ibunya—Dayang Sumbi. Akan tetapi, Sangkuriang tidak menyadari bahwa Dayang Sumbi adalah ibu kandungnya. Dayang Sumbi pernah mengusir Sangkuriang waktu kecil lantaran telah membunuh ayahnya sendiri (anjing yang bernama, Si Tumang). Mereka pun saling jatuh cinta. Sangkuriang melamar Dayang Sumbi. Tapi pada akhirnya, Dayang Sumbi menyadari bahwa, Sangkuriang adalah anak kandungnya. Untuk menolak lamaran Sangkuriang, Dayang Sumbi mengajukan syarat kepada Sangkuriang. Ia harus membuat danau dan perahu dalam satu semalam.

Malam semakin larut, sanghiang tikoro sudah terbendung dialiri Sungai Citarum. Ketika Sangkuriang membuat perahu, Dayang Sumbi pun mencari akal untuk menggagalkan usaha Sangkuriang. Caranya dengan mengibarkan kain putih atau rarang di ufuk timur sebagai tanda bahwa fajar telah datang. Namun, Sangkuriang tidak menerima kekalahannya. Ia terus mengejar Dayang Sumbi sampai di pinggir danau sambil tertawa, ia berkata, “Kemana pula kau hendak lari tanyanya. Kendati pun ke ujung jagat akan kukejar hingga kudapat.”

Dari narasi di atas, dapat kita pahami dengan jelas bahwa rasa cinta yang dialami oleh Sangkuriang bukanah cinta yang wajar dan sehat. Kenapa? Karena ia mencintai wanita yang salah, tak lain tak bukan, ibu kandungnya sendiri. Sebenarnya, Sangkuriang tidaklah sepenuhnya salah, jika Dayang Sumbi (ibunya) mau membuka diri untuk menceritakan fakta sebenarnya bahwa Sangkuriang adalah anak kandungnya. Jika Dayang Sumbi menceritakan lebih awal, mungkin tak akan terjadi hubungan yang terlarang antara Dayang Sumbi dan Sangkuriang.

Selanjutnya, cerita sama juga terjadi di Jawa Tengah yaitu cerita Prabu Watugunung dan ibunya (Sinta), yang menghasilkan 28 anak. Tersebutlah seorang raja dari Gilingwesi, bernama prabu Watugunung, atas permintaan istrinya Dewi Sinta, yang sebenarnya ibu prabu Watugunung sendiri, untuk dimadu dengan bidadari kahyangan tujuh jumlahnya, yakni: Supraba, Gagarmayang, Tunjungbiru, Irim-Irim, Warsiki, Prabasini dan Surendra. Demikian pula raja telah berputera seorang, bernama raden Sindhula. Patih Suwelacala yang melaporkan, bahwasanya permintan raja ditolak oleh para dewa, berkatalah prabu Watugunung, ”Hai, Suwelacala, kerahkanlah prajurit Gilingwesi, Kahyangan Suralaya dihancurkan, aku harus dapat memenuhi keinginan isteriku untuk dimadu dengan ke-tujuh bidadari kahyangan, berangkatlah,” patih mempersiapkan semua prajuritnya, demikian pula prabu Watugunung tak ketinggalan pergi juga untuk berperang dengan para dewa, tak ketinggalan saudara-saudara raja, ialah Dhukut, Kurantil, Tolu, Gumbreg dan Kuningan.

Dari kutipan cerita Prabu Watugunung di atas, dapat kita cermati bahwa keinginan Prabu Watugunung untuk memadu ketujuh bidadari adalah tindakan yang tidak masuk akal. Apalagi Prabu watugunung beragumentasi bahwa apa yang hendak ia lakukan semata-mata hanya untuk menyenangkan hati istriya—Dewi Sinta. Padahal, Dewi Sinta adalah ibu kandungnya. Tapi lagi-lagi ‘ketidakwajaran’ hubungan cinta terjadi antara anak dan ibu.

Setelah kita pahami dua cerita di atas, yaitu Sangkuriang dan Prabu Watugunung, ternyata kedua cerita tersebut memiliki kesamaan dalam segi cerita dan tema. Tema yang diangkat adalah masalah cinta terlarang, dan tidak ada titik terang untuk menyelesaikan ‘penyakit’ tersebut. Dalam karya-karya sastra, ternyata kisah serupa terjadi di berbagai belahan dunia. Drama-drama Yunani seperti Oedipus Rex dan Electra diciptakan berdasarkan dongeng yang beredar di masyarakat. Kisah anak laki-laki, Oedipus yang membunuh ayahnya, kemudian mengawini ibunya. Kisah ini terjadi dimana-mana, tapi dalam bentuk yang berbeda-beda. Dalam sastra nusantara, kisah Sangkuriang dan Prabu Watugung mewakili kisah serupa di bumi Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s