Apresiasi Sastra: Jejak-Jejak Jejaka


b3-2016-08-31-novel-zara-zettira-zr-jejak-jejak-jejaka-cetakan-ii
Sumber: Buku-Buku Bekas

Cinta dan Asa

 

Hidup memang kadang penuh teka-teki, penuh tanda tanya. Hidup tak pernah datar tanpa gelombang. Selalu saja ada yang membuat penasaran, selalu saja ada yang harus dikejar, dimaui, hendak diraih. Dan semakin sulit keinginan itu terkejar, kehidupan terasa semakin bergairah.

Ini kisah tentang kehidupan Tiwi, gadis penjaga perpustakaan, yang mulanya datar dan sederhana sekali, sampai datang sekuntum mawar dan kartu dari pengagum misterius. Sejak itu semua mulai berubah. Kadang penuh gairah, kadang diliputi kekecewaan. Saat itulah Tiwi merasakan arti kehidupan yang sebenarnya.Ada rekan sekerjanya, ada mahasiswa-mahasiswa anggota perpustakaan tempatnya bekerja, ada dosen, ada tetangganya. Tapi siapa pengagum misterius itu? Apakah sesuai dengan harapan atau sebaliknya malah orang yang tak pernah terduga? Akankah berakhir seperti cerita-cerita dongeng putri dan pangeran 1001 malam?

Novel yang berjudul “Jejak Jejaka” karangan Zarra Zettira ZR, ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Tiwi. Ia adalah seorang wanita yang dulunya berstatus sebagai seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi. Akan tetapi, ternyata nasib yang baik tak selalu berpihak kepadanya. Ia—harus mengundurkan diri sebagai mahasiswi karena tidak sanggup lagi membayar uang semesteran. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk bekerja di perpustakaan di kampusnya. Padahal, sebenarnya ia tergolong mahasiswu yang cukup cerdas. Namun, karena keterbatasan ekonomi, ia harus menelan nasib yang kurang beruntung.

Satu hal yang menarik yang ingin saya ungkapkan di novel ini adalah masalah ketegaran si tokoh utama—Tiwi. Penulis (Zarra, pen) ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa seorang wanita yang ‘kebanyakan’ orang menilai sebagai makhluk Tuhan yang lembut dan terkesan lemah, tetapi mampu bertahan dengan semua cobaan yang menghimpit hidupnya. Penulis menggambarkan sifat tokoh utama terlihat dari alur cerita dari awal sampai akhir cerita. Selain itu, pikiran tokoh lain juga mampu memvisualisasikan kepada kita (baca:pembaca) betapa tegarnya seorang Tiwi.

Seperti kebanyakan novel popular, novel “Jejak-jejak Jejaka” ini tak lepas dari tema percintaan. Agaknya, tema percintaan adalah tema yang menarik untuk dibahas. Maka tak heran jika penulis juga meramu kisah dalam novel ini dengan tema percintaan. Tiwi sebagai seorang wanita yang cukup menarik, dikagumi oleh banyak pria. Ini terbukti dengan intensitas surat cinta yang ia terima dari pria yang ada di sekelilingnya. Rata-rata, surat itu berisi kekaguman pria-pria dengan sifat Tiwi yang penyabar, ramah, dan pintar bergaul. Akan tetapi, Tiwi tidak terlalu menaruh ekspektasi yang luar biasa terhadap surat-surat cinta tersebut. Ia berkeyakinan suatu saat ia akan menemukan seorang pangeran yang selama ini dia cari.

Kehidupan Tiwi berjalan cukup lancar. Mulai dari pekerjaan, pergaulan, dan kehidupan percintaannya. Tak banyak konflik yang mewarnai hidupnya. Hanya sesekali masalah kecil hinggap dalam hidupnya. Itu pun hanya masalah kebimbangan. Tiwi merasa bimbang menentukan sikapnya sebagai wanita yang dikagumi banyak pria. Apakah ia harus memilih salah satu pria yang ada di dekatnya? Atau ia tidak memilih sama sekali. Kebimbangan inilah yang menjadi konflik batin dalam tokoh utama.

Menurut saya, penulis (Zarra Zettira, pen) ingin menonjolkan sifat seorang wanita yang hidup di sebuah kota yang memiliki keragaman masalah yang menjadi ciri khas yang lumrah. Dalam setiap masalah kehidupan, ada saja orang terlempar ke jurang ‘ketidakberdayan’. Tapi hal itu tidak terjadi pada tokoh yang satu ini. Tiwi mampu membuktikan bahwa ia adalah wanita yang tegar. Wanita yang mampu mengolah perasaannya menjadi sebuah tindakan yang rasional dan mandiri.

Jika saya cermati, konflik yang diangkat dalam novel ini cukup sederhana. akan tetapi, yang paling menarik dalam novel ini justru kesederhanaan tersebut. Semua realtisa masalah tokoh-tokoh dalam novel in mampu di bingkai penulis menjadi rangkaian cerita yang menarik. Apalagi penulis mampu memilih diksi yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang tengah terjadi dalam novel ini. Bahasanya ringan dan mudah untuk dipahami.

Tak banyak yang ingin saya komentari dalam novel ini. Secara keseluruhan, novel ini cukup baik dan sederhana. layaknya novel popular, novel ini merupakan representasi sekelumit cerita kehidupan anak manusia. Intinya, pada novel ini, penulis ingin meyampaikan sebuah amanat yang luar biasa kepada pembaca. Bahwasanya dalam hidup ini, masalah dan cobaan akan selalu mewarnai hidup kita. Hanya ada dua pilihan untuk mengatasi semua masalah itu. Pertama, hadapi atau mundur sebagai seorang pecundang. Seorang yang berjiwa kerdil akan mundur bahkan lari dari permasalahan yang terjadi. Alan tetapi, seorang pemenang akan menghadapi itu semua dan menikmati hari-harinya sebagai seorang manusia yang tangguh.

One thought on “Apresiasi Sastra: Jejak-Jejak Jejaka

  1. dr dulu aku mncari novel ini..
    dari aku SMP claz 2..
    smpae skrang sudah luluz SMA..
    tp blm dpt2…

    duuh..
    pgn punya buku’y zung..
    nyari2 di toko buku g da smua..

    hufft..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s