Kian Nyata


“..Kamu sangat berarti istimewa di hati, segalanya rasa ini. Jika kita tua nanti dan telah hidup masing-masing, ingatlah hari ini,” (Project Pop)

secret-life-walter-mitty-img01
Sumber: Google

Lagu di atas sengaja aku tulis di awal cerita tentangku, tentang persahabatan, dan tentang persaudaraan. Ya Rabb, terkadang aku bingung dengan hidup yang aku alami. Selalu saja, hal yang pernah terjadi di masa lalu terulang lagi hari ini, dan entahlah, apakah hari esok hal yang sama akan terulang lagi.

Ketika Ramdhan beberapa tahun lalu, kira-kira ketika aku duduk di bangku SMP, ada seorang tentara pernah berkata tentang hidup padaku. Katanya, “Dek, hidup ini selalu berpasangan. Ada siang, ada malam. Ada langit, ada bumi. Ada kebaikan, dan ada keburukan, dan jika pertemuan pasti akan ada perpisahan. Semuanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa, Dek! Semuanya. Hidup kita telah ada alurnya. Begitulah kata tentara itu ketika kami tengah membicarakn tentang manusia dan alam semesta.

Selain itu, aku teringat akan kata-kata guru agamaku, pak Muslim Nur, ketika pesantren kilat di SMA. Tepatnya ketika aku duduk di kelas X-3. Katanya, “Hidup itu ibarat lampu lalu lintas. Memiliki tiga warna, yaitu merah, kuning, dan hijau. Warna merah adalah tanda peringatan. Berarti, kita harus berhati-hati dalam menajalani hidup ini.

Ada saatnya kita kita harus diam dan menikmati hal yang mungkin buruk bagi kita. Tapi sejatinya, sesuatu yang buruk belum tentu buruk. Lampu merah menunjukkan agar kita berhenti. Berhenti dengan semua dosa yang telah kita perbuat. Alloh senantiasa memperingatakan kita lewat teguran. Berupa sakit, keluh kesah, dan sedikit kesempitan hidup. Tapi semua itu ada hikmahya, kawan! Bisa saja, ‘lampu merah’ yang Alloh jadikan tanda sebagai peringatan, merupakan bentuk cinta Alloh kepada kita. Alloh perhatian dan sayang kepada hamba2-Nya.

Oleh karena itu, sifat Arrahman merupakan salah satu sifat yang harus kita yakini. “tanda” itu semestinya kita jadikan evaluasi dalam diri kita. Kita harus bertanya; sudahkah hak Alloh kita penuhi? Lalu, apa hak Alloh? Hak Alloh adalah, kita sebagai manusia senantiasa mentauhidkan-Nya, dan tidak membuat tandingan selain-Nya. Caranya, dengan mensyukruri semua nikmat yang telah Alloh anugrahkan kepada kita. Bagaimana cara kita bersyukur? Kerjakanlah apa yang diperintahkan-Nya dan tinggakan larangan-Nya. Dengan begitu, Insya Alloh cahaya-Nya senantiasa mengisi ruang benderang di qalbu kita.

Sebagai salah satu tanda ‘lampu merah’ adalah sakit. Siapa yang tak pernah merasakan sakit? Semua orang di bumi ini pernah sakit. Mulai dari generasi Adam sampai kita, umat terakhir nabi Muhammad SAW. Bahkan, nabi Ayyub pernah sakit yang tak terperi. Beliau diberi cobaan oleh Alloh dengan sakit yang sangat lama. Tujuannya, untuk meningkatkan keimanan, dan menguji kesabaran nabi Ayyub. Bertahun-tahun, kawan! Sedangkan kita, hanya karena sakit perut, semua umpatan, makian, dan kata-kata kotor keluar dari bibir kita. Tidakkah kita menyadari bahwa sakit itu sebagai bukti kita sebagai manusia.

Lebih dari itu, sakit itu sebagai kifarat bagi kita. Penggugur dosa-dosa yang telah kita lakukan selama hidup ini. Ibarat sebuah pohon, ada masanya daun-daunnya berguguran jatuh. Semoga kita dapat mendapatkan hikmah dari sakit yang pernah singgah dalam hidup kita. Nikmatilah saat-saat seperti ini, kawan! Saat dimana kau akan merasakan betapa dekatnya dirimu dengan Tuhanmu. Kau akan sadar satu hal. Sadar bahwa telah banyak hak Alloh yang teah kau lalaikan, dan kau jarang untuk mensyukuri nikmat itu.

Lampu kuning merupakan tanda kewaspadaan. Setelah kita mengalami dera, sakit, dan musibah, selanjutnya kita akan lebih berhati-hati dalam hidup ini. Hati-hati dalam bersikap, berkata, dan berprasangka. Selanjutnya, lampu hijau akan menyala. Itu artinya, selamat melanjutkan perjalanan. Dunia ini hanya sebagai tempat persinggahan. Tempat kita berbekal diri untuk menyonsong hari esok yang kekal. Pilihan hanya dua! Syurga atau Neraka. Sekarang, semua keputusan ada di tanganmu.

Menarik sekali untuk menyelami makna hidup dan kehidupan. Sampai detik ini, ruang pikir ini masih menelusuri, dan mencoba meraba arti semua ini. Teman, pernahkan kau berpikir, bagaimana fase hidup yang au lalui sangat teratur. Mulai dari diciptakan dari setetes air mani, segumpal darah, dan ditiupkan ruh kedalam tubuhmu.

Kemudian, kau dilahirkan dari rahim ibumu. Ada yang yang terlahir sebagai bayi laki-laki, dan ada yang terlahir sebagai bayi wanita. Kau beranjak tumbuh menjadi manusia dewasa. Merangkak, berlari, sampai akhirnya tubuhmu tak mampu lagi untuk berbuat apa-apa. Dan pada fase terakhir, kau harus memejamkan matamu untuk selama-lamanya. Wallahualam.

Bagitu banyak manusia yang pernah kukenal. Pertemuan, perkenalan, dan terakhir, perpisahan pun harus menjadi bagian episode yang tak pernah terlewatkan. Sedih sekali, ketika dulu, ketika masa lalu menyusup kembali ke dalam lembaran hidupku. Teringat akan kenanganku bersama mama, papa, keluarga, teman kecil, dan sahabatku. Semuanya terbingkai dalam lukisan yang sangat nyata. Tapi lama-kelamaan semuanya membias menjadi catatan klasik, yang kurindukan untuk terulang.

“Oh bunda, ada dan tiada dirimu kan selalu ada d dalam hatiku…” (Melly Goeslow)

Teman, malaikat ini adalah malaikat yang terbaik yang pernah diberikan Allah padaku. Ia memilki sayap-sayap kasih saying yang sangat luas, perhatiannya padaku menjadi bagian dari misinya. Dan semua itu, tulus ia berikan padaku teman! Tak pernah ia mengeluh dengan peluh yang perah ia keluarkan untukku. Setiap malam, tangisannya kepada Alloh menjadi sebuah bait doa yang menguntai kata romantis. Aku tak akan pernah lupa dengan jutaan belaian kasih sayangnya. Takakan pernah lupa akan semuanya. Suka cita terlukis dalam kanvas cinta dan kasih sayang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s