Tarian Huruf Kanji


Siang ini, rasanya udara di dalam ruangan ini terlalu panas. Hawanya memeluk erat tubuhku ini. membuat dadaku sesak dan aku tak bisa bernapas. Aliran darah di pembuluh vena dan arteri mengalir begitu cepat. Dan darah dalam tubuh ini terasa panas. Mungkin karena suhu yang terlalu panas. Jika kuprediksi, panasnya mencapai 670 celcius. Walaupun panas, tapi kulitku tidak mengeluarkan cairan amoniak. Entahlah, rasanya ruangan ini seperti neraka bagiku. Padahal, ini adalah ruangan belajar. Tempat aku menuntut ilmu.

“Ah, andaikan ruangan yang berukuran 20X30 cm ini diberi pendingin ruangan. Tentu aku tidak kepansan seperti ini,” gumamku dalam hati.

Bersik!! Suara teman-temanku sangat mengganggu kenyamananku. Mereka seperti pedagang sayur, atau pedagang ikan di pasar loak. Diantara mereka, ada yang memiliki suara cempreng dan berdandan seoerti artis—Jeng Kelin. Ugh, sungguh menjengkelkan! Aku sendiri bingung. Apa yang sebenarnya ada di benak mereka. Tak henti-henti untuk berbicara kesialan, kenakalan, dan hubungan percintaan meraka. Hah! Terlalu utopis dan klise. Tapi ternyata, tidak semua temanku seperti mereka. Ada juga yang berpakaian rapih, dan terlihat seperti seorang akademisi. Biasanya mereka akan bicara tentang kuliah kemarin, kuliah besok, dan cita-cita di kemudian hari.

Ya, begitulah. Setiap orang di ruangan ini memiliki cara pandang, dan pikiran yang berbeda-beda. Tapi tidak apa. Justru perbedaan itu membuat kita indah. Laksana keindahan pelangi. Buat orang kagum dengan cahaya yang membias di ujung rintik. Pelangi, merupakan gabungan warna-warna yang sangat indah. Merah-kuning-jingga-hijau-biru-ungu. Warana-warna tersebut bukan dipadu padankan. Melainkan, warna-warna tersebut tergradasi dengan sendirinya. Indah, dan sungguh memesona.

Walau udara di dalam ruangan ini terlalu panas, aku mencoba untuk membayangkan keindahan. Duduk di atas rerumputan nan hijau. Dan suara angin, mendayu-dayu mendendangkan nyayian alam. Membelai rambut dengan teramat lembut. Membuatku nyaman dan tentram. Di depanku, sebuah danau terbentang dan airnya beriak seolah menari-nari karena di raba sang angin. Kedamaian ini, terkanvas dalam satu bingkai alam nan eksotik.

Prakkkk!!! Suara kursi jatuh mengusik khayalku. Membuyarkan dimensi yang baru saja kujelajahi. Ah, padahal, aku baru saja merasakan kenyamanan. Tapi semua itu hilang—tak membekas. Bayanganku tentang danau, rerumputan, dan suara dana sentak hilang dalam benakku. Aku berusaha menayangkan kembali khayalku tadi. Tapi tidak bisa! Begitu kabur, dan semuanya lenyap. Sekarang yang kulihat hanyalah kumpulan teman-temanku yang tengah sibuk menulis di atas kertas. Entahlah, apa yang mereka tulis. Aku tak paham.

Kuhela napas ini dalam-dalam. Mencoba menghirup oksigen yang telah berubah menjadi karbondioksida. Hhhhhhaahh.. perlahan kulepaskan udara ini drai tenggorokanku. Agaknya, setelah aku melakukan pernapasan dada yang sederhana tadi, aku merasa lebih baik. Panas yang dari tadi memeluk erat tubuhku, lama-kelamaan melepaskan genggaman tangannya dari badanku. Kuperbaiki posisi dudukku, yang dari tadi tidak teratur. Dada kutegakkan, dan kuluruskan otot perutku.

Pandangan tertuju ke depan. Kulihat ada sepasang papan tulis yang sangat berbeda sekali nasibnya. Papan yang satu, berwarna putih dan terlihat bahagia. Sedangkan yang satunya, hijau dan begitu kusam. Pikirku teralih ke papan yang kusam itu. Entah kenapa, aku menemukan bahasa kalbu yang aneh dari pancaran wajahnya. Lihatlah, ia tampak tua dan tidak terurus. Mukanya cemong karena bedak yang tidak rata. Pada sisi kiri, warna putihnya sangat tebal. Sedangkan pada sisi kanan, atas, dan bawah—hanya tertutup sedikit warna putih. “Sudah berapak usia papan yang ada di depanku ini? oh, mungkinkah ia jauh lebih tua dibandingkan usiaku yang baru 19 tahun. Ya, kurasa ia sangat tua. Tampak tak terawatt dan memancarakan pesona yang begitu suram. Ingin kumenyapanya. Tapi, aku bingung. Kata apa yang harus mulai untuk mengawali perbincanganku dengannya.

Kucoba untuk memberanikan diri menyapanya. “Hai papan hijau. Bolehkan aku berkenalan denganmu?” tanyaku padanya.

Tapi. Ia tidak menoleh padaku. Wajahnya masih tertunduk dan tampak tidak bersemangat membalas sapaanku. Aku bingung. Apa yang harus kukatakan padanya. Otak ini berputar cepat untuk berpikir—merangkai kata.

“Papan hijau, dari tadi, aku perhatikan dirimu tampak tak bersemangat. Adakah gerangan yang tengah mengusikmu? Kenapa? Kau bisa bercerita padaku. Jujur, aku mengangumimu, wahai papan hijau. Walau kau tampak telah tua, dan sendu, tapi jasamu sungguh banyak. Setiap hari, dirimu selalu menjadi bagian penting dari proses belajar kami—sebagai mahasiswa. Tidakkah kau senang, karena merasa bermanfaat buatku, dan teman-temanku. Sudikah kau menceritakan keluh kesahmu padaku?”

Kutatap nanar papan hijau itu. Berharap ia membalas pertanyaanku. Wah, ia tampak menaikkan kepalanya. Itu artinya, ia akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku tadi. Sekarang, matanya sudah terbuka. Dari tadi, ia hanya memejamkan mata. Tak mau melihat orang-orang yang ada di depannya.

“Terima kasih anak muda. Kalau boleh kukatakan, kau adalah orang pertama yang mau menyapaku. Sudah lama aku berdiri di sini. Berharap aka nada orang yang menyinggingkan senyuman untuk. Bahkan aku ingin sekali berbincang-bincang dengan kalian—Mahasiswa. Tapi sampai saat ini, ketika usiaku sudah 50 tahun, tak jua ada orang yang mau menyapaku. Bahkan mereka tak mengangapku sebagai bagian yang penting dalam hidup mereka. Padahal, aku telah mengabdi di Fakultas Sastra ini sangat lama. Mulai dari gedung ini berdiri, sampai… Entahlah, aku tidak bisa memastikan sampai kapan aku tegap berdiri di sini. Menanti tiada arti, tanpa kepastian. Tak banyak yang kuharapkan. Yang kupinta hanya kalian—orang yang berpendidikan bisa memahami bagaimana diriku, serta menjagaku. Hanya itu, anak muda!”

Hhhhahhh.. aku tersentak diam ketika ia selesai menjelaskan kondisi yang ia alami padaku. Dari dulu hingga sekarang ia amat menderita—tak diperhatikan. Aku kikuk. Bingung apa yang harus kukatakan lagi padanya. Kuakui, kami sebagai mahasiswa terlalu sombong. Enggan menghargai hal-hal yang mungkin kecil. Tapi itu sungguh berguna bagiku, dan bagi mereka.

“Papan hijau, engkau jangan bersedih ya. Tak hendak merayumu, tapi karena aku perhatian padamu. Aku minta maaf jika membuatmu mengenang masa lalu yang tak mengenakkan hatimu. Tapi jujur, aku mengagumi, dan aku bangga menjadi orang pertama yang bisa berbicara denganmu. Tahukah kau teman, engkau begitu berjasa. Bayangkan, setiap hari, dirimu selalu berguna bagi orang lain. Banyak ilmu yang telah tergores di wajahmu, banyak ilmu yang telah kau tularkan pada banyak orang yang menatapmu. Lalu apa lagi yang kau risaukan? Memang, kuakui banyak orang yang sering tidak menghargaimu. Tapi aku yakin, mereka akan menilai hal yang sama padamu; yaitu kekaguman.”

“Terima kasih teman, engkau membuat hatiku sedikit tentram dengan kata-katamu. Oy, ada satu lagi yang ingin kutanyakan padamu. Bisakah kau jelaskan padaku, apa arti kata-kata yang ada di wajahku ini?”

“Kata apa? Di wajahmu, begitu banyak kata-kata. Ada huruf latin, dan ada juga huruf kanji. Lalu, kata apa yang harus kuterjemahkan?”

“Kata-kata yang ditulis denga huruf kota-kota, dan sedikit aneh. Belum pernah aku melihat kata-kata itu”

I LOVE YOU

“Oh, tulisan itu. Itu adalah tulisan kanji, teman. Tulisan itu berasal dari Asia Timur, yaitu Jepang. Apakah kau mengetahui dimana negeri itu? Negeri itu dikenal dengan sebutan negeri Sakura. Di sana banyak tumbuh bunga Sakura. Bunga Sakura sangat indah. Berwarna merah muda dan sangat memesona.”

“Lalu, apa arti tulisan itu?” Tanya papan hijau padaku.

“Artinya ai si te ru. Dalam bahasa Indonesia artinya, Aku Cinta Padamu”

Saat itu, kondisi kelas terasa sangat nyaman, dan kulihat papan hijau menyungingkan senyuman. Di wajahnya, tulisan huruf kanji seolah menari. Menciptakan tarian yang memukau banyak orang. Ya, tarian huruf kanji.
***
Jatinangor, 11 Maret 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s