Bercengkrama Tentang Sastra


https://achyar89.wordpress.com/wp-admin/media-upload.php?post_id=-1228952622&type=image&TB_iframe=true
Add an Image


Source: http://informationng.com/
Source: http://informationng.com/

“Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.” (Apresiasi Kesusastraan, halaman 3)

Saya pikir sastra hanya sekadar cerita. Baik berupa dongeng, novel, cerpen dan sebagainya. Ternyata, saya baru memahami bahwa pandangan saya tentang sastra (dulu) itu salah. Novel, cerpen dan lainnya hanya beberapa bentuk karya sastra. Sedangkan sastra sendiri, memiliki ruang dan makna yang luas. Sastra itu memanusiakan manusia. Saya bingung memahami konsep sastra. Berangkat dari itu, rasa penasaran saya untuk mengetahui makna sastra makin tinggi. Saya pun mencari referensi di perpustakaan.

Setelah saya baca buku yang berjudul Apresiasi Kesusastraan karya Jakob Sumardjo dan Saini. K.M, barulah saya dapat memehami bagaimana sastra itu sebenarnya. Sastra lahir sebagai ungkapan perasaan manusia tentang kebenaran. Ya, itulah kesimpulan saya peroleh ketika lembaran buku yang saya baca secara hemat. Manusia senantiasa dalam hidupnya mencari kebenaran, namun terkadang jalan yang ditempuh untuk mencari kebenaran seringkali menimbulkan kejenuhan dan kebosanan. Kemudian, sastra hadir sebagai salah satu jalan yang menyenangkan ketika kita mencari kebenaran.

Menurut Aristoteles, ada empat jalan untuk mencari kebenaran. Jalan mencari kebeneran itu adalah agama, ilmu, filsafat dan sastra. Melihat teori yang disampaikan oleh pakar sosilog seperti Aristoteles, maka sastra termasuk salah satu jalan menuju kebenaran.

Sekarang, yang jadi pertanyaan adalah, apakah benar sastra merupakan jalan menuju kebenaran? Saya pikir pendapat di atas memang benar adanya. Ini bisa kita temukan dari bacaan berupa seperti novel, cerpen dan puisi. Jika kita cermati dengan baik, novel misalnya, mengungkapkan kebenaran yang terjadi di alam semesta. Kebenaran lahir dari realiatas yang tengah terjadi dan pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembacanya.

Lebih dari itu, saya pikir hanya karya sastra yang mampu mengungkapkan kebenaran secara tegas tanpa pandang waktu. Novel-novel pada tahun 1920, adalah gambaran kebenaran yang disampaikan pengarang kepada pembacanya. Karya sastra berupa novel, mengungkapakan kebenaran dengan gaya bahasa. Alasannya, karena tidaklah mudah mengungkapkan kebenaran secara gamblang, kebenaran harus diungkapakan dengan cara yang etis dan estetis, sehingga orang dengan lebih mudah menerima kebenaran.

Saya sangat senang dan apresiasi terhadap sastra. Bagi saya, sastra taksekadar disiplin ilmu. Lebih dari itu, sastra adalah karya seni yang bermanfaat untuk kita (baca: manusia). Karya sastra, besar memberi kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup ini. Dari padanya kita dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang manusia, dunia dan kehidupan. Jika bicara bagaimana pendapat saya setelah mengetahui sastra, maka akan saya jawab, saya menemukan makna hidup dan kehidupan lewat sastra. Sastra memberikan konstribusi yang besar dalam hidup saya.

Dulu, saya kurang memahami bagaimana karakter dan polemik-polemik yang dialami manusia. Tapi sekarang, setelah menggeluti sastra, saya jadi bisa memahami kekompleksan karakter manusia dan memahami itu semua. Di samping itu, karya sastra memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Hiburan ini adalah jenis hiburan intelektual dan spritual. Hiburan yang lebih tinggi, lebih daripada hiburan batin karena memiliki mobil baru, misalnya. Manusia, tidak lepas dari yang namanya masalah. Apapun itu masalahnya, baik itu masalah besar maupun kecil, pasti akan membuat batin kita gelisah. Dengan karya sastra, kita bisa lebih rehat dan memaknai kehidupan dengan lebih bijak.

Karya-karya sastra berisi muatan semangat moral, agama, dan hiburan yang membantu kita terlepas dari belenggu kegelisahan. Saya pernah mengalami kegelisahan yang cukup hebat. Kemudian, saya membaca novel dan puisi. Setelah mebaca dua karya sastra tersebut, perasaan saya lebih tenang dan kegelisahanpun jadi berkurang. Saya pikir, sastra memiliki kekuatan yang hebat untuk mengaduk-aduk perasaan manusia.

Lalu, apa sebenarnya konstribusi sastra kepada masyarakat? Secara umum, Karya sastra dapat memberikan kita (baca: masyarakat) penghayatan yang mendalam terhadap apa yang kita ketahui. Pengetahuan yang kita peroleh bersifat penalaran, tetapi pengetahuan itu dapat menjadi hidup dalam sastra. Kita tahu membunuh itu jahat, tetapi pengetahuan itu menjadi begitu hidup dan terasa kengerian kejahatannya kalau kita membaca drama Wiliam Shakespeare, Machbeth. Dengan karya semacam itu kita diajak memasuki dan menghayati pengalaman kejahatan berupa pembunuhan. Dengan demikian pengetahuan kita tentang adanya larangan moral dan agama untuk tidak membunuh menjadi lebih hidup dan lebih terpahami.

Saya berkeyakinan, bahwa sastra juga berperan sebagai alat pengontrol sosial masyarakat. Kanapa demikian? Karena sastra merupakan representatif realitas kehidupan manusia yang tertuang dalam bentuk karya. Selain itu, membaca karya besar juga dapat menolong pembacanya menjadi manusia berbudaya (cultured man). Manusia berbudaya adalah manusia yang responsif terhadap apa-apa yang luhur dalam hidup ini. Manusia demikian itu selalu mencari nilai-nilai kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Salah satu cara memperoleh nilai-nilai itu adalah lewat pergaulan dengan karya-karya seni, termasuk karya-karya sastra besar.

Jadi jelas, bahwa sastra memberikan konsribusi yang besar dalam hidup kita. Takjarang, banyak orang yang berubah dari jahat menjadi baik, karena sastra. Jika kita bicara penting atau tidaknya sastra, maka saya berani katakan bahwa sastra sangat penting dan bermanfaat. Bayangkan jika tidak ada sastra di dunia ini, pastinya sikap-sikap manusia tidak terkontrol. Untuk itu, sastra hadir ketika akal, pikiran dan perasaan tidak menumakan arahnya dengan baik.

Jatinangor, 10 Desember 2008, pukul 6:05 WIB

2 thoughts on “Bercengkrama Tentang Sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s