Kawan, Bisakah Kita Memulai Cerita Baru?


“Sedih, bila kuingat pertengkaran itu. Membuat jarak antara kita. Mungkin karena egoku, mungkin karena egomu. Maaf aku buat begini, maaf aku begini. Bila ingat kembali janji persahabatan kita. Takkan mau berpisah karena ini. Pertengkaan kecil kemarin. Cukup jadi lembaran hikmah. Karena aku ingin dekat sahabatku.” (Pertengkaran Kecil, eDcoustic)

 

tumblr_m99frahcT01rya2qqo1_500

Sejenak kita pahami lirik lagu di atas. Sungguh, setiap rangkaian katanya menyimpan makna yang begitu dalam. Huruf-huruf di atas seolah terdiam membisu karena sedih dengan rintihan suara hati seseorang. Sedih karena pertengkaran kecil mewarnai persahabatan. Sedih, karena ia taklagi menemukan tawa canda dengan sahabat. Semua kenangan manis dengan sahabat tentunya menjadi catatan yang begitu indah untuk dikenang. Dulu, itu dulu. Semuanya telah berubah. Hanya Allah yang bisa membolak-balikan hati hamba-hamba-Nya.

Sahabat, pernah kau merasakan hal yang sama dengan kejadian di atas. Aku yakin, engkau pernah merasakan itu. Tidak tahu, sekali, dua kali, atau malah terlalu sering. Apa yang kau rasakan? Marah? Sedih? Pilu? Ataukah kau menyesalkan banyak hal? Mungkin hatimu tidak terima dengan kondisi yang tengah terjadi.

Pastinya, banyak harapan yang ingin kau sematkan pada sahabatmu. Mungkin, kau menginginkan sahabat yang memahami dirimu. Mungkin kau menginginkan sahabat yang senantiasa mengingatkan dalam kebajikan. Begitulah teman. Allah telah mengatur bagaimana hubungan kita dengan sahabat (saudara) kita. Apalagi yang kau risaukan. Jika kau telah memenuhi hak saudaramu, yakinlah ketentraman itu akan selalu memeluk hatimu.

Berat! Kupikir memang berat menjalani itu semua. Tapi yakinlah, tidak ada kata berat, jika kita memahami betul makna surat tersebut. Kadang, ketika kita berusaha melakukan yang terbaik untuk saudara kita. Ia (baca: saudara) tidak memberikan respon yang baik kepada kita. Takjarang, ia malah tidak menghargai nasehat kita. Padahal, cara-cara ahsan sudah kita tempuh. Namun tetap. Ia tidak menghargai usaha kita.

Apa yang kau rasakan saat itu? Mungkin kau kesal dan menganggap ia terlalu egois. Aku pikir, wajar hal itu terjadi pada dirimu. Akupun pernah merasakan itu. Ketika niatku hanya untuk menasehati saudaraku, tapi apa yang kudapat? Acuh dan ketus.

Lalu apa yang terjadi?

Pastinya, ada kerikil pertengkaran yang menusuk hatimu saat itu. Kerikil itu semakin tajam menusuk hatimu bahkan sangat dalam. Kemudian, pertengkaran kecilpun takbisa dielakkan. Hubungan persaudaraanmu dengan sahabatmu jadi dingin. Mungkin lebih dingin dari air yang ada di lemari pendingin yang bersuhu di bawah 0 derajat celcius.

Selanjutnya, hari-hari persaudaraan semakin beku. Hari-hari indah yang terajut dulu, hanya tinggal kenangan semata. Semua telah terkubur dan menjadi buih yang takberguna. Mungkin itu yang saat ini kau rasakan?

Teman, bukan hendak mengguruimu, aku begitu paham dengan apa yang kau rasakan saat ini. Aku katakan, aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu. Lalu, apakah kau akan membiarkan kondisi ini? Sampai kapan? Sampai saudaramu pergi untuk selama-lamanya dalam hidupmu? Tidak! Aku yakin kau tak menginginkan hal ini terjadi padamu. Sedih rasanya, jika kita kehilangan orang yang kita cintai.

Teman, jika saudaramu itu pergi untuk selama-lamanya, dan kau belum sempat baikan sama dia, apakah kau tak menyesal? Teman, Aku tak hendak menyalahkanmu atau ingin membela saudaramu yang menyakiti perasaanmu.

Teman, pertengkaran kecil antara dirimu dan dia, itu wajar. Bahkan sudah sunatullah. Allah telah mengatur ini semua teman. Bukankah daun kering yang jatuh dari ranting tak luput dari pantauan Allah? Bukankah debu pasir yang berterbangan di padang gurun juga tak luput dari pantauan Allah? Jadi, apa yang harus kau risaukan teman.

Aku yakin, ini adalah salah satu skenario yan dibikin Allah untuk hamba-hamba-Nya. Allah ingin mengetahui sejauh mana rasa cintamu pada saudaramu. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa orang beriman itu saling benci dan cinta karena Allah. Semua karena Allah, teman.

Cintailah saudaramu karena Allah, maka itu adalah salah satu bentuk kecintaanmu pada-Nya.
Sekarang, bagaimana perasaanmu? Masih adakah kerikil itu? Jika sudah tidak ada, maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu, Allah. Bersyukurlah bahwa Allah telah mengarahkan hatimu menuju cahaya kebenaran. Jika belum. Perbanyaklah berdoa dan beristighfar pada-Nya. Sekali lagi kukatakan, hanya Allah-lah yang bisa membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya.

Jagalah Allah, niscaya engkau akan bersama-Nya. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Ia mengenalimu di waktu susah. Ketahuilah bahwa segala perbuatan salahmu belum tentu mencelakaimu dan musibah yang menimpamu belum tentu akibibat kesalahanmu. Ketahuilah bahwa kemenangan beserta kesabaran, kebahagian beserta kedudukan, dan setiap keselulitan ada kemudahan. (H.R Tirmidzi).

Teman, jika kau masih sulit untuk melupakan pertengkaran kecil ini, maka berdoalah kepada Rabb yang jiwamu berada digenggaman-Nya. Pahamilah saudaramu, dan renungkanlah. Jadikan saat-saat seperti ini sebagai momentum untuk perenungan. Insya Allah dengan rahmat-Nya, kau akan sadar betapa ia merindukan saat seperti dulu dan kau akan semakin bijak memahami makna persaudaraan.
Persaudaraan harus saling memahami teman. Jika saudaramu pernah melukai hatimu, maafkanlah. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, teman. Kesempurnaan hanya milik Allah. sekarang, pejamkan matamu, dengarkan suara hatimu. Suara hatimu berbisik betapa aku merindukan saat itu. Tawa dan canda yang pernah menjadi kanvas melukiskan betapa indahnya persaudaraan. Rasakanlah cinta hakiki itu teman. Setelah kau sedikit tenang, maka azamkan (tekadkan) bahwa kau ingin mengakhiri pertengkaran kecil ini. Cukup!

Sekarang, temuilah saudaramu. jabat tangannya. Seraya berkata, aku mencintaimu karena Allah. Kata-kata itu sering diucapkan oleh sahabat-sahabat Rasul tersebut, akan mampu meluluh-lantakkan semua duri yang ada di hatimu. Teman, mungkin hanya itu yang bisa kubantu. Maaf jika aku terlalu mengguruimu. Sungguh, takada niat apapun, selain hanyan mengharapkan cinta-Nya. Semoga tulisan yang kuketik di waktu Duha ini bermanfaat untukmu.

Bandung, 27 November 2008, Pukul 10.06 PM

 

One thought on “Kawan, Bisakah Kita Memulai Cerita Baru?

  1. Assalamualaikum Achyar!!!
    Wah..aku juga lagi sedih nih..

    Sabar aja ya!

    heuehue..
    belum semuanya ku baca blognya.

    Tularin juga donk hobi menulis achyar ke sai.

    Ok!!

    Saijugasukamenulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s