Resensi Novel: Maryamah Kapov

Judul Buku: Maryamah Karpov | Penulis: Andrea Hirata | Penerbit: Bentang | Harga: Rp. 79.000,00 | Tebal: 504 Halaman

Cinta itu gila! Begitulah peryataan yang sering kita dengar. Banyak orang melakukan apa saja untuk cinta. Bahkan takjarang orang melakukan pengorbanan yang tidak masuk akal hanya untuk cinta. Cinta itu membutakan! Setidaknya itulah yang menjadi ulasan pada buku keempat dari tetralogi laskar pelangi Maryamah Karpov. Lalu, apa hal gila yang dilakukan Ikal (Andrea Hirata) untuk cintanya, A Ling?

maryamah-karpov

Setelah menyelesaikan S2 di Sorbone University Prancis, Ikal (Andrea Hirata) kembali ke tanah kelahirannya di pulau Belitong. Kerinduan! Itulah alasan yang mendasar kenapa Ikal kembali ke Belitong. Ia rindu kepada orang tuanya, rindu kepada Arai (sepupu jauh Ikal), rindu kepada masyarakat Belitong, rindu dengan alam Belitong dan lebih dari itu, ia rindu pada gadis impiannya yaitu A Ling.

Perjalanan dari Jakarta ke rumahnya di Belitong, dilalui Ikal dengan penuh perjuangan dan rasa letih. Tapi semua itu pudar karena ia begitu merindukan ayahnya. Lelaki pendiam itu sangat istemewa bagi Ikal. Bahkan, Ikal mempersiapkan penampilan terbaiknya untuk bertemu dengan ayahnya. Ikal mengenakan pakaian pelayan resotoran ketika bekerja di Perancis dulu. Ketika bertemu dengan ayah, ibunya dan Arai, rasa haru tak dapat terbendung lagi. Betapa Ikal sangat merindukan saat ini. Saat bertemu dengan orang-orang yang dicintainya.

Pulau Belitong takseperti dulu lagi, masyarakat Belitong terpuruk setelah pabrik timah gulung tikar. Walaupun demikian, suasana Belitong tak jauh berbeda dibandingkan saat Ikal melanjutkan studinya ke Perancis. Masyarakat Belitong masih gemar membual, minum kopi ke warung, dan sangat menyukai taruhan.

Cerita dibuka dengan kehadiran seorang dokter gigi dari Jakarta yang bernama dokter Budi Ardiaz. Ia adalah wanita kaya dan sebenarnya bisa hidup nyaman di Jakarta. Akan tetapi, karena idealismenya, ia mengabdikan dirinya sebagai dokter di tanah Melayu, Belitong. Namun sayangnya, setelah berbulan-bulan membuka praktek, tak ada satupun masyarakat yang mau berobat padanya. Masyarakat lebih senang berobat ke dukun gigi dengan alasan bahwa mulut adalah sesuatu yang sensitif seperti kelamin. Jadi, tak boleh sembarangan memasukkan tangan ke dalam mulut kecuali muhrim. Kenyataan ini, membuat kepala kampung Karmun geram dan memaksa masyarakat untuk berobat pada dokter Diaz. Tapi sayang, masyarakat tetap kekeh dengan prinsip yang telah mereka pegang.

Selanjutnya, diceritakan bahwa masyarakat Belitong menemukan dua jenazah yang terapung di air. Kejadian itu mengagetkan masyarakat khususnya Ikal. Terlebih, jenazah itu memiliki tato kupu-kupu mirip tato A Ling. Konon kabarnya, dua jenazah tersebut tewas karena mencoba melarikan diri dari kawanan perampok yang bengis di pulau Betuan. Hal ini membuat Ikal meyakini bahwa A Ling merupakan salah satu penumpang kapal ke pulau Betuan. Ikal berniat ke pulau Betuan untuk menemukan A Ling. Tapi tidak ada yang mau membantunya. Malah, masyarakat melarang Ikal untuk berlayar ke pulau Betuan. Pulau itu sangat berbahaya, jika mau ke sana jangan harap untuk bisa balik lagi. Ikal tidak menyerah.

Demi cinta!

Itulah motivasi terbesar kenapa ia berusaha keras untuk bisa berlayar ke pulau Betuan. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. Niat Ikal untuk berlayar akhirnya dibantu oleh sahabat-sahabatnya (Laskar Pelangi) yang kini telah tumbuh dewasa dengan profesi beragam. Lintang dan Mahar memiliki peran yang besar dalam masalah ini. Dengan modal semangat, bantuan dari sahabat-sahabatnya, dan sedikit ilmu, Ikal mampu membuat sebuah kapal yang hebat.

Kapal itu diberi nama Mimpi-mimpi Lintang. Walaupun Ikal telah berhasil membuat kapal, masih saja orang-orang mencemoohkannya dan tak ayal Ikal menjadi objek taruhan masyarakat Belitong. Tapi itu semua tidak menjadi penghambat untuk Ikal. Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak pada Ikal. Bahkan, Ikal membuat orang terkagum-kagum dengan perjuangan hebatnya.

Setelah berhasil membuat sebuah kapal yang hebat, Ikal berangkat ke pulau Betuan bersama Mahar, Chung Fa dan Kalimut. Mereka memiliki misi-misi yang berbeda untuk berlayar ke pulau Betuan. Selama perjalanan menuju pulau Betuan, banyak sekali rintangan yang harus mereka tempuh. Mulai dari angin laut, pembajak sadis, dan dunia mistik. Tapi semua rintangan itu dapat ia lewati. Akhirnya, Ikal dapat menemukan cinta sejatinya yang telah ia cari bertahun-tahun lamanya. Bahkan separuh benua telah ia tempuh untuk menemukan A Ling.

Singkat cerita, Ikal membawa A Ling pulau Belitong. Mereka berdua berniat untuk menikah. Ikalpun meminta izin kepada keluarga Al Ling agar diizinkan meminang A Ling. Keluarga A Ling pun menyetujuinya. Tapi sayangnya, ayah Ikal tidak menyetujui anak bujangnya meminang A Ling.

Novel Maryamah Karpov memberikan pesan kepada kita (pembaca), agar kita jangan takut untuk bermimpi. Semua yang kita impikan pasti akan terwujud asal kita berusaha untuk mewujudkannya.

“Aku kasih tahu rahasia padamu, Kawan, buah yang paling manis dari berani bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya.” (Hal, 343).

Seperti novel-novel sebelumnya, Andrea Hirata mencoba kembali menyuntikkan semangat dan motivasi kepada pembaca agar jangan pernah mengalah dengan nasib. Selain itu, novel ini memiliki banyak kelebihan. Kelebihan pada novel ini terletak untaian kata-katanya yang puitis dan deskripsi narasi yang jelas pada alur ceritanya.

Membaca novel ini, seakan kita (pembaca) dapat mengetahui budaya masyarakat Belitong. Di antaranya adalah kebiasaan membual dan melebih-lebihkan cerita. Juga kebiasaan menyematkan nama baru di belakang nama asli, semata-mata untuk mengolok-olok, bahkan merendahkan martabat yang mempunyai nama. Seperti Berahim Harap Tenang, Tancap Seliman, Marhaban Hormat Grak dan lain sebagainya.

Kejujuran Andrea Hirata dalam menulis novel ini membuat novel ini berbeda dengan novel kebanyakan. Lelucon dan humor juga menjadi bumbu dalam novel ini. Tak jarang kita (pembaca), tertawa membaca kisah masyarakat Belitong yang lucu dan penuh guyonan. Andrea Hirata sepertinya cermat sekali memahami kebudayaan Belitong secara keseluruhan. Sehingga, kita seolah bisa melihat jelas bagaimana realitas masyarakat Belitong sesungguhnya.

Tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Begitu juga pada novel Maryamah Karpov ini. Ada beberapa yang mengganjal setelah kita membaca novel ini. Jika kita cermati, judul novel Maryamah Karpov tidak ada kaitan langsung dengan keseluruhan ceritanya. Maryamah Karpov hanya diulas sedikit saja. Maryamah Karpov digambarkan sebagai seorang perempuan yang biasa dipanggil Mak Cik, mendapat tambahan nama belakang karena sering terlihat di perkumpulan jago-jago catur di warung kopi Usah Kau Kenang Lagi dan mengajari orang langkah-langkah ala Karpov.

Selanjutnya, secara keseluruhan novel ini menceritakan tentang perjuangan Ikal untuk menemukan tambatan hatinya, A Ling. Ada juga hal yang ganjil pada cerita Maryamah Karpov yaitu terkait peran ibu Ikal yang tak berarti apa-apa ketika pelayaran ke pulau Betuan. Lebih dari itu, pengalaman fantasis Ikal selama berlayar terkesan terlalu hiperbola dan kurang masuk akal.

Pada akhir cerita, pembaca merasa bingung karena tidak adanya penjelasan tentang kelanjutan hubungan Ikal dengan A Ling. Mungkinkah karena tidak disetujui oleh ayah Ikal, maka rencana meraka untuk menikah batal?

“Sebagaimana kawan tahu. Aku ini, paling tidak menurutku sendiri, adalah lelaki yang berikhtiar untuk berbuat baik, patuh pada petuah orang tua, sejak dulu. Rupanya, begitu pula ayahku yang sederhana itu. Katanya, ia selalu menempatkan setiap kata ayah-ibundanya di atas nampan pualam, membungkusnya dengan tilam.” (Hal, 1)

Mungkinkah itu jawaban atas kelanjutan hubungann Ikal dengan A Ling? Kita hanya bisa meraba dan menemukan kebenarannya menurut analisis kita masing-masing. Terlepas dari adanya beberapa kekurangan di atas, novel ini mempunyai banyak keistemewaan dan pembelajaran yang berharga untuk kita. Novel ini takhanya sekadar kisah kehidupan anak manusia. Lebih dari itu, novel ini mengajarkan kita untuk berani bermimpi. Novel ini cocok dibaca untuk semua kalangan.

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita.

Mahfud Achyar

Universitas Padjadjaran

 

Bercengkrama Tentang Sastra

https://achyar89.wordpress.com/wp-admin/media-upload.php?post_id=-1228952622&type=image&TB_iframe=true
Add an Image

Source: http://informationng.com/
Source: http://informationng.com/

“Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.” (Apresiasi Kesusastraan, halaman 3)

Saya pikir sastra hanya sekadar cerita. Baik berupa dongeng, novel, cerpen dan sebagainya. Ternyata, saya baru memahami bahwa pandangan saya tentang sastra (dulu) itu salah. Novel, cerpen dan lainnya hanya beberapa bentuk karya sastra. Sedangkan sastra sendiri, memiliki ruang dan makna yang luas. Sastra itu memanusiakan manusia. Saya bingung memahami konsep sastra. Berangkat dari itu, rasa penasaran saya untuk mengetahui makna sastra makin tinggi. Saya pun mencari referensi di perpustakaan.

Setelah saya baca buku yang berjudul Apresiasi Kesusastraan karya Jakob Sumardjo dan Saini. K.M, barulah saya dapat memehami bagaimana sastra itu sebenarnya. Sastra lahir sebagai ungkapan perasaan manusia tentang kebenaran. Ya, itulah kesimpulan saya peroleh ketika lembaran buku yang saya baca secara hemat. Manusia senantiasa dalam hidupnya mencari kebenaran, namun terkadang jalan yang ditempuh untuk mencari kebenaran seringkali menimbulkan kejenuhan dan kebosanan. Kemudian, sastra hadir sebagai salah satu jalan yang menyenangkan ketika kita mencari kebenaran.

Menurut Aristoteles, ada empat jalan untuk mencari kebenaran. Jalan mencari kebeneran itu adalah agama, ilmu, filsafat dan sastra. Melihat teori yang disampaikan oleh pakar sosilog seperti Aristoteles, maka sastra termasuk salah satu jalan menuju kebenaran.

Sekarang, yang jadi pertanyaan adalah, apakah benar sastra merupakan jalan menuju kebenaran? Saya pikir pendapat di atas memang benar adanya. Ini bisa kita temukan dari bacaan berupa seperti novel, cerpen dan puisi. Jika kita cermati dengan baik, novel misalnya, mengungkapkan kebenaran yang terjadi di alam semesta. Kebenaran lahir dari realiatas yang tengah terjadi dan pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembacanya.

Lebih dari itu, saya pikir hanya karya sastra yang mampu mengungkapkan kebenaran secara tegas tanpa pandang waktu. Novel-novel pada tahun 1920, adalah gambaran kebenaran yang disampaikan pengarang kepada pembacanya. Karya sastra berupa novel, mengungkapakan kebenaran dengan gaya bahasa. Alasannya, karena tidaklah mudah mengungkapkan kebenaran secara gamblang, kebenaran harus diungkapakan dengan cara yang etis dan estetis, sehingga orang dengan lebih mudah menerima kebenaran.

Saya sangat senang dan apresiasi terhadap sastra. Bagi saya, sastra taksekadar disiplin ilmu. Lebih dari itu, sastra adalah karya seni yang bermanfaat untuk kita (baca: manusia). Karya sastra, besar memberi kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup ini. Dari padanya kita dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang manusia, dunia dan kehidupan. Jika bicara bagaimana pendapat saya setelah mengetahui sastra, maka akan saya jawab, saya menemukan makna hidup dan kehidupan lewat sastra. Sastra memberikan konstribusi yang besar dalam hidup saya.

Dulu, saya kurang memahami bagaimana karakter dan polemik-polemik yang dialami manusia. Tapi sekarang, setelah menggeluti sastra, saya jadi bisa memahami kekompleksan karakter manusia dan memahami itu semua. Di samping itu, karya sastra memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Hiburan ini adalah jenis hiburan intelektual dan spritual. Hiburan yang lebih tinggi, lebih daripada hiburan batin karena memiliki mobil baru, misalnya. Manusia, tidak lepas dari yang namanya masalah. Apapun itu masalahnya, baik itu masalah besar maupun kecil, pasti akan membuat batin kita gelisah. Dengan karya sastra, kita bisa lebih rehat dan memaknai kehidupan dengan lebih bijak.

Karya-karya sastra berisi muatan semangat moral, agama, dan hiburan yang membantu kita terlepas dari belenggu kegelisahan. Saya pernah mengalami kegelisahan yang cukup hebat. Kemudian, saya membaca novel dan puisi. Setelah mebaca dua karya sastra tersebut, perasaan saya lebih tenang dan kegelisahanpun jadi berkurang. Saya pikir, sastra memiliki kekuatan yang hebat untuk mengaduk-aduk perasaan manusia.

Lalu, apa sebenarnya konstribusi sastra kepada masyarakat? Secara umum, Karya sastra dapat memberikan kita (baca: masyarakat) penghayatan yang mendalam terhadap apa yang kita ketahui. Pengetahuan yang kita peroleh bersifat penalaran, tetapi pengetahuan itu dapat menjadi hidup dalam sastra. Kita tahu membunuh itu jahat, tetapi pengetahuan itu menjadi begitu hidup dan terasa kengerian kejahatannya kalau kita membaca drama Wiliam Shakespeare, Machbeth. Dengan karya semacam itu kita diajak memasuki dan menghayati pengalaman kejahatan berupa pembunuhan. Dengan demikian pengetahuan kita tentang adanya larangan moral dan agama untuk tidak membunuh menjadi lebih hidup dan lebih terpahami.

Saya berkeyakinan, bahwa sastra juga berperan sebagai alat pengontrol sosial masyarakat. Kanapa demikian? Karena sastra merupakan representatif realitas kehidupan manusia yang tertuang dalam bentuk karya. Selain itu, membaca karya besar juga dapat menolong pembacanya menjadi manusia berbudaya (cultured man). Manusia berbudaya adalah manusia yang responsif terhadap apa-apa yang luhur dalam hidup ini. Manusia demikian itu selalu mencari nilai-nilai kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Salah satu cara memperoleh nilai-nilai itu adalah lewat pergaulan dengan karya-karya seni, termasuk karya-karya sastra besar.

Jadi jelas, bahwa sastra memberikan konsribusi yang besar dalam hidup kita. Takjarang, banyak orang yang berubah dari jahat menjadi baik, karena sastra. Jika kita bicara penting atau tidaknya sastra, maka saya berani katakan bahwa sastra sangat penting dan bermanfaat. Bayangkan jika tidak ada sastra di dunia ini, pastinya sikap-sikap manusia tidak terkontrol. Untuk itu, sastra hadir ketika akal, pikiran dan perasaan tidak menumakan arahnya dengan baik.

Jatinangor, 10 Desember 2008, pukul 6:05 WIB

Kehilangan Satu Warna Pelangi

Source: http://www.bhmpics.com/
Source: http://www.bhmpics.com/

Pelangi.

Membuat semua orang terkagum dengan keindahanmu. Membuat orang takjemu memandangmu. Membuat orang takhenti-henti untuk memujimu. Membuat orang betapa ingin menggenggamu. Membuat orang ingin menjadi salah satu warna di antara warna-warna yang lahir karena dispersi yang sungguh rahasia. Pelangi tercipta dari paduan warna kasih sayang yang begitu indah. Merah-jingga-kuning-hijau-biru-ungu. Semua warna itu berkombinasi membentuk garis lengkung yang indah. Sungguh, indah sekali. Mahasuci Allah yang menciptakan keindahan di alam semesta ini.

Pelangi hadir pada saat orang merindu.

Di saat orang-orang resah dengan ketidakpatian. Pelangi hadir karena dispersi cahaya dengan rintikan hujan. Ketika hujan reda, pelangi menghiasi langit dan membentangkan sayap malaikatnya kala itu. Indah, semua orang pasti akan berkata seperti itu. Pelangi memang tampak indah jika semua warnyanya lengkap. Jika satu saja warna pelangi itu tidak ada, pasti pelangi kurang indah dan sempurna.

Ya, kami kehilangan satu warna pelangi. Warna yang senantiasa menghiasi langit-langit cahaya mimpi kami. Entah kemana? Kami juga seakan tak paham kenapa ia hilang. Apakah ia telah jemu karena selalu beriringan dengan warna lainnya? Atau ia pergi untuk menjadi warna yang lebih indah? Kemudian, ia balik lagi dan akan menambah keindahan.

Satu warna telah memutuskan untuk melepas ikatan rantai yang telah kita buat. Ia adalah warna merah muda. Warna yang mencerminkan keceriaan dan kebahagiaan. Warna itu sangat kami butuhkan. Karena warna itulah kami bisa tersenyum, tertawa dan bahagia. Tapi ternyata takdir bicara lain. Sepertinya, telah menjadi garis kehidupan bahwa ia harus meninggalkan kita. Ia harus terbang dengan sayap cahaya yang ia miliki. Terbang tinggi menggapai mimpi-mimpinya.

Awalnya, aku tidak terima dengan keputusan ini. Kukatakan ini adalah keputusan yang sulit untuk diterima. Bagaimana tidak? Hati-hati kita telah menyatu dalam ikatan persaudaraan yang kuat. Tiba-tiba, ada yang berubah. Kita tidak lagi utuh. Semuanya telah berubah.

Sekarang, aku telah paham. Bahwasanya, hidup itu adalah rangkaian cerita yang telah diatur oleh Allah. Daun-daun yang berguguran tidak akan luput dari pantauan Allah. Bahkan, debu-debu yang berterbangan di padang pasir tidak lepas dari kekeuasaan Allah. Lalu apa lagi? Ya, semuanya telah diatur oleh Allah. Allah-lah yang mengarahkan jalan hidup hamba-hamba-Nya. Begitu juga dengan pilihan hidup. Pasti Allah telah tahu apa yang harus kita pilih. Memang berat. Tapi itulah pilihan hidup. Semua akan selalu ada konsekuensinya. Lalu bagaiman kita menyikapinya? Cara terbaik menyikapinya adalah dengan berusaha memahaminya.

Kedewasaan adalah modal utama meraka menerima ini semua.

Kawan, Bisakah Kita Memulai Cerita Baru?

“Sedih, bila kuingat pertengkaran itu. Membuat jarak antara kita. Mungkin karena egoku, mungkin karena egomu. Maaf aku buat begini, maaf aku begini. Bila ingat kembali janji persahabatan kita. Takkan mau berpisah karena ini. Pertengkaan kecil kemarin. Cukup jadi lembaran hikmah. Karena aku ingin dekat sahabatku.” (Pertengkaran Kecil, eDcoustic)

 

tumblr_m99frahcT01rya2qqo1_500

Sejenak kita pahami lirik lagu di atas. Sungguh, setiap rangkaian katanya menyimpan makna yang begitu dalam. Huruf-huruf di atas seolah terdiam membisu karena sedih dengan rintihan suara hati seseorang. Sedih karena pertengkaran kecil mewarnai persahabatan. Sedih, karena ia taklagi menemukan tawa canda dengan sahabat. Semua kenangan manis dengan sahabat tentunya menjadi catatan yang begitu indah untuk dikenang. Dulu, itu dulu. Semuanya telah berubah. Hanya Allah yang bisa membolak-balikan hati hamba-hamba-Nya.

Sahabat, pernah kau merasakan hal yang sama dengan kejadian di atas. Aku yakin, engkau pernah merasakan itu. Tidak tahu, sekali, dua kali, atau malah terlalu sering. Apa yang kau rasakan? Marah? Sedih? Pilu? Ataukah kau menyesalkan banyak hal? Mungkin hatimu tidak terima dengan kondisi yang tengah terjadi.

Pastinya, banyak harapan yang ingin kau sematkan pada sahabatmu. Mungkin, kau menginginkan sahabat yang memahami dirimu. Mungkin kau menginginkan sahabat yang senantiasa mengingatkan dalam kebajikan. Begitulah teman. Allah telah mengatur bagaimana hubungan kita dengan sahabat (saudara) kita. Apalagi yang kau risaukan. Jika kau telah memenuhi hak saudaramu, yakinlah ketentraman itu akan selalu memeluk hatimu.

Berat! Kupikir memang berat menjalani itu semua. Tapi yakinlah, tidak ada kata berat, jika kita memahami betul makna surat tersebut. Kadang, ketika kita berusaha melakukan yang terbaik untuk saudara kita. Ia (baca: saudara) tidak memberikan respon yang baik kepada kita. Takjarang, ia malah tidak menghargai nasehat kita. Padahal, cara-cara ahsan sudah kita tempuh. Namun tetap. Ia tidak menghargai usaha kita.

Apa yang kau rasakan saat itu? Mungkin kau kesal dan menganggap ia terlalu egois. Aku pikir, wajar hal itu terjadi pada dirimu. Akupun pernah merasakan itu. Ketika niatku hanya untuk menasehati saudaraku, tapi apa yang kudapat? Acuh dan ketus.

Lalu apa yang terjadi?

Pastinya, ada kerikil pertengkaran yang menusuk hatimu saat itu. Kerikil itu semakin tajam menusuk hatimu bahkan sangat dalam. Kemudian, pertengkaran kecilpun takbisa dielakkan. Hubungan persaudaraanmu dengan sahabatmu jadi dingin. Mungkin lebih dingin dari air yang ada di lemari pendingin yang bersuhu di bawah 0 derajat celcius.

Selanjutnya, hari-hari persaudaraan semakin beku. Hari-hari indah yang terajut dulu, hanya tinggal kenangan semata. Semua telah terkubur dan menjadi buih yang takberguna. Mungkin itu yang saat ini kau rasakan?

Teman, bukan hendak mengguruimu, aku begitu paham dengan apa yang kau rasakan saat ini. Aku katakan, aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu. Lalu, apakah kau akan membiarkan kondisi ini? Sampai kapan? Sampai saudaramu pergi untuk selama-lamanya dalam hidupmu? Tidak! Aku yakin kau tak menginginkan hal ini terjadi padamu. Sedih rasanya, jika kita kehilangan orang yang kita cintai.

Teman, jika saudaramu itu pergi untuk selama-lamanya, dan kau belum sempat baikan sama dia, apakah kau tak menyesal? Teman, Aku tak hendak menyalahkanmu atau ingin membela saudaramu yang menyakiti perasaanmu.

Teman, pertengkaran kecil antara dirimu dan dia, itu wajar. Bahkan sudah sunatullah. Allah telah mengatur ini semua teman. Bukankah daun kering yang jatuh dari ranting tak luput dari pantauan Allah? Bukankah debu pasir yang berterbangan di padang gurun juga tak luput dari pantauan Allah? Jadi, apa yang harus kau risaukan teman.

Aku yakin, ini adalah salah satu skenario yan dibikin Allah untuk hamba-hamba-Nya. Allah ingin mengetahui sejauh mana rasa cintamu pada saudaramu. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa orang beriman itu saling benci dan cinta karena Allah. Semua karena Allah, teman.

Cintailah saudaramu karena Allah, maka itu adalah salah satu bentuk kecintaanmu pada-Nya.
Sekarang, bagaimana perasaanmu? Masih adakah kerikil itu? Jika sudah tidak ada, maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu, Allah. Bersyukurlah bahwa Allah telah mengarahkan hatimu menuju cahaya kebenaran. Jika belum. Perbanyaklah berdoa dan beristighfar pada-Nya. Sekali lagi kukatakan, hanya Allah-lah yang bisa membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya.

Jagalah Allah, niscaya engkau akan bersama-Nya. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Ia mengenalimu di waktu susah. Ketahuilah bahwa segala perbuatan salahmu belum tentu mencelakaimu dan musibah yang menimpamu belum tentu akibibat kesalahanmu. Ketahuilah bahwa kemenangan beserta kesabaran, kebahagian beserta kedudukan, dan setiap keselulitan ada kemudahan. (H.R Tirmidzi).

Teman, jika kau masih sulit untuk melupakan pertengkaran kecil ini, maka berdoalah kepada Rabb yang jiwamu berada digenggaman-Nya. Pahamilah saudaramu, dan renungkanlah. Jadikan saat-saat seperti ini sebagai momentum untuk perenungan. Insya Allah dengan rahmat-Nya, kau akan sadar betapa ia merindukan saat seperti dulu dan kau akan semakin bijak memahami makna persaudaraan.
Persaudaraan harus saling memahami teman. Jika saudaramu pernah melukai hatimu, maafkanlah. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, teman. Kesempurnaan hanya milik Allah. sekarang, pejamkan matamu, dengarkan suara hatimu. Suara hatimu berbisik betapa aku merindukan saat itu. Tawa dan canda yang pernah menjadi kanvas melukiskan betapa indahnya persaudaraan. Rasakanlah cinta hakiki itu teman. Setelah kau sedikit tenang, maka azamkan (tekadkan) bahwa kau ingin mengakhiri pertengkaran kecil ini. Cukup!

Sekarang, temuilah saudaramu. jabat tangannya. Seraya berkata, aku mencintaimu karena Allah. Kata-kata itu sering diucapkan oleh sahabat-sahabat Rasul tersebut, akan mampu meluluh-lantakkan semua duri yang ada di hatimu. Teman, mungkin hanya itu yang bisa kubantu. Maaf jika aku terlalu mengguruimu. Sungguh, takada niat apapun, selain hanyan mengharapkan cinta-Nya. Semoga tulisan yang kuketik di waktu Duha ini bermanfaat untukmu.

Bandung, 27 November 2008, Pukul 10.06 PM