Memoles Wajah Pendidikan Indonesia

inline-dunce-new-tech-ckit

Bicara masalah pendidikan berarti bicara masa depan. Pendidikan merupakan salah satu langkah kita untuk menapaki hari esok dengan lebih baik. Bisa dikatakan bahwa pendidikan merupakan modal utama untuk membangun mimpi-mimpi pada masa depan. Manusia mengenal pendidikan ketika ia lahir ke dunia. Ketika kita mulai merangkak, berjalan, dan berlari, itu merupakan sebuah proses pendidikan yang cukup panjang. Bahkan kita harus melewati proses itu sampai sekarang. Lalu, apa sebenarnya makna pendidikan untuk kita?

Pendidikan merupakan rangkaian perjalanan hidup manusia yang harus dilalui. Dengan pendidikan, kita bisa memahami makna kehidupan dengan bijak. Kita bisa mengetahui apa yang ada di alam semesta ini. Apapun itu! Mulai dari berhitung, membaca dan menulis. Sebenarnya, tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah ilmu. Karena dengan ilmu kita mampu merubah pola pikir kita menjadi lebih baik, mampu merubah dunia, dan mampu menjadi orang yang sukses. Namun sayang, tidak semua orang memahami bagaimana pentingnya pendidikan. Banyak orang berfikir bahwa pendidikan tidak terlalu penting. Sebenarnya apa yang membuat banyak orang berfikir klise seperti itu? Apakah karena sistem pendidikan kita (baca: Indonesia) yang salah? Atau karena pola pikir yang utopis? Dua kemungkinan tesebut bisa jadi sebagai faktor yang menghambat kemajuan pendidikan di Indonesia.

Pada tahap sekarang ini, Indonesia telah memasuki tahap pembangunanan dalam dunia pendidikan. Walaupun tampaknya dunia pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Namun di balik itu, dunia pendidikan di Indonesia telah mengalami sedikit peningkatan bila dibandingkan dengan dunia pendidikan yang sebelumnya. Sebenarnya masih banyak hal yang perlu di perbaiki dalam dunia pendidikan yang ada di Indonesia, antara lain sistem pendidikan yang ada sekarang ini.

Sistem pendidikan yang ada di Indonesia sepertinya perlu ada perumbakan. Dalam arti tidak merumbak untuk menghancurkan sistem pendidikan yang lama dengan mengganti metode yang baru, namun kita harus bisa sama-sama menutupi lobang-lobang yang ada dalam dunia pendidikan sekarang ini. Jika kita lihat, sistem pendidikan di Indonesia kurang berjalan dengan baik. Tepatnya sistem pendidikan di Indonesia masih buruk. Di lihat dari segi kurikulum, sistem pendidikan kita bisa dikatakan tidak konsisten.

Pada tahun 2004, sistem pendidikan di Indonesia menggunakan kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum ini bertujuan agar siswa dapat belajar mandiri. Namun kenyataannya, siswa dibebani dengan kurikulum tersebut. Banyak siswa yang merasa kewalahan karena setiap hari harus dipaksa menelan pelajaran. Padahal belajar itu merupakan sebuah proses yang menyenangkan. Jika proses itu di rancang dengan sistem yang menakutkan, tentunya ilmu tidak terserap dengan baik. Akibatnya, banyak siswa yang malah semakin malas, bahkan taksedikit siswa yang menyontek ketika ujian.

Jika kita berkaca pada negara maju, sebut saja Jepang, maka pendidikan di sana jauh lebih maju dan terarah. Di Jepang, siswa dididik dengan metode kemandirian tanpa ada paksaan. Efeknya, siswa-siswa di Jepang jauh lebih cerdas dan menikmati proses belajar.

Sebenarnya, pemerintah Indonesia telah berusaha untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada. Mulai dari merancang, merevisi, dan mengubah undang-undang pendidikan. Tapi upaya yang dilakukan belum menjadi wujud yang nyata sampai sekarang ini. Pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh. Bahkan Indonesia menempati posisi bawah untuk peringkat kualitas pendidikan. Lalu, siapa yang bertanggung jawab untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada? Apakah hanya tugas menteri pendidikan? Jawabannya adalah kita.

Kita memiliki peranan masing-masing untuk memperbaiki wajah pendidikan kita. Bukan suatu yang mustahil jika suatu saat nanti pendidikan di Indonesia, akan menjadi lokomotif percontohan pendidikan di dunia. Bahkan secara otomatis Indonesia akan terangkat martabatnya sebagai negara yang berpendidikan. Sekarang butuh waktu dan usaha yang maksimal untuk mencapai mimpi kita. Yakinlah bahwa wajah pendidikan di Indonesia akan cerah dan semakin bersinar.

Mahfud Achyar

Bandung, 28 Oktober 2008 pukul 13.13 WIB

 

 

Menjadi Diri Penuh Arti

Aku bangun pukul 2.45 pagi. Kucoba mengusap mata yang lelah ini. Berusaha sadar dari mimpi-mimpi yang penuh dimensi. Aku takpernah menemukan dimensi-dimensi yang ditawarkan dalam tidurku itu. Entahlah, aku pikir itu hanya rangkaian hidup yang takjelas. Fatamorgana! Susah, susah sekali mata ini terbuka. Sepertinya setan-setan masih bergelantungan di kelopak mataku. Kupaksaan mata ini terbuka karena ku yakin ada pertemuan yang luar biasa yang kudapati setelah ini.

Perlahan, aku berjalan meninggalkan kenikmatan tidur. Hatiku berbisik bahwa sebentar lagi aku akan menemukan kenikmatan yang selama ini kucari. Kaki ini melangkah menuju kamar mandi. Kuambil air yang dingin. Kubasuh muka ini. Subhanallahu, sejuk. Seolah-olah ada jemari lembut membelai wajahku ini. Aku sudah sadar. Saatnya kurasakan nikmat itu.

Rasanya, aku ingin berlama-lama dengan-Nya. Meluapkan semua masalah-masalah yang terjadi dalam hidupku. Mengkristal bersama butiran-butiran doa yang kupanjatkan. Damai. Damai sekali. Aku mendengar semua atas izin-Mu. Aku tak ingin menjadi hamba-Mu yang kufur nikmat. Maka berilah rasa cukup itu padaku.

Belakangan ini, hari-hari kuhabiskan dengan rutinitas rapat. Seolah rapat telah menjadi rutinitas yang harus kujalani. Ya! Aku telah memilih untuk berkonstribusi tentu aku harus memberikan yang terbaik. Semoga apa yang telah kulakukan bernilai pahala. Aamiin. Aku senang berada bersama mereka. Di sana, aku menemukan keluarga. Aku belajar tentang banyak hal.

Pertama, aku mulai mengerti bagaimana memposisikan diri semestinya. Kedua, aku bisa banyak tahu sifat dan karakter manusia yang unik dan luar biasa. Ketiga, aku merasa berguna.

 

~ catatan aktivis badan eksekutif mahasiswa

Peran Mahasiswa dalam Organisasi Kemahasiswaan

99CDLE

 

Ketika mendengar kata mahasiswa, hal yang terpikir adalah bahwa mahasiswa merupakan salah satu lapisan masyarakat yang diidentik dengan intelektual yang cerdas, pola pikir yang kritis, dan semangat perubahan yang hebat. Rasanya paradigma yang seperti itu perlu dipertahankan agar citra mahasiswa tetap menjadi pioneer dalam setiap perubahan. Tentunya perubahan yang lebih baik. Namun, terkadang pioneer tersebut menjadi taktumbuh karena ada hal yang menghambatnya.

Mahasiswa terkadang sulit mengaktualisasikan perannya sebagaimana mestinya. Ada beberapa faktor yang menghabat itu semua. Di antaranya mahasiswa telah terdoktrin menjadi mahasiswa yang kaku dengan sistem pendidikan yang telah dicanangkan pemerintah. Mahasiswa terdoktrin karena paradigma klasik bagaimana itu kuliah. Dampak dari doktrin-doktrin tersebut melahirkan tipe mahasiswa yang pasif. Pasif dalam artian mereka kurang peka terhadap berbagai masalah yang terjadi disekitarnya. Baik itu dilingkungan kampus, masyarakat dan negara. Tentunya fenomena ini akan mematahkan kepekaan mahasiswa terhadap berbagai kebijakan yang terjadi disekitarnya. Mereka akan beranggapan bahwa apapun yang terjadi diluar sana bukanlah sesuatu yang penting. Makanya perlu sekali memupuk kembali kesadaran mahasiswa tentang peran sesungguhnya sebagai civitas akademika.

Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki indeks prestasi yang bagus. Lebih dari itu, mahasiswa dituntut menjadi kupu-kupu yang indah yang nantinya terbang dengan sayap yang menarik hati dan rupa yang menawan. Mahasiswa nanti akan terjun dalam lingkungan masyarakat. Makanya perlu proses pematangan terlebih dahulu.

Kampus merupakan miniatur yang membantu pematangan tersebut. Kenapa? Karena banyak hal yang dapat kita pelajari dikampus. Tidak hanya sekedar mata kuliah dengan ratusan sks yang harus dilunasi. Tetapi juga proses pembelajaran menjadi manusia yang peduli terhadap lingungan sekitar, tidak apatis dan menjadi mahasiswa yang kritis. Kalau bicara peran mahasiswa itu berarti kita bicara sebuah mimpi. Karena ketika mahasiswa telah memainkan perannya sebagaimana mestinya maka mimpi sebagai agent of change akan terwujud tanpa disadari. Tidak gampang untuk memainkan peran tersebut. Mahasiswa harus memiliki sifat open minded, berwawasan luas, independent, dan kritis. Jika sifat itu telah ada dalam diri mahasiswa maka perubahan itu akan datang.

Kampus itu ibarat miniatur bernegara. Di sana ada yang memegang kekuasaan, ada yang mengontrol kekuasaan dan ada pemikir-pemikir untuk peubahan. Mahasiswa merupakan salah satu komponen penting di negara kecil itu. Mahasiswa adalah pemikir-pemikir perubahan yang bergerak tanpa imbalan. Berjuang ikhlas tanpa pujian.
Untuk memainkan peran mahasiswa sebagai pioneer perubahan maka perlu wadah yang akan melatih kematangan peran mahasiswa. Lalu apa wadah itu? Wadahnya adalah organisasi. Kenapa organisasi? Karena di organisasi melatih kita untuk merancanakan kebaikan, melatih kita menjadi pemikir yang hebat dan melatih kita untuk menjadi paramecium yang hebat. Kenapa paramecium? Seorang filsuf pernah berkata bahwa paramecium itu begitu mulia. Ia mampu menjernihkan air yang kotor sekalipun. Ia mampu memberikan kebeningan ketika lingkungannya telah buruk. Peranan mahasiswa begitu banyak dalam oraganisasi kemahasiswaan.

Mahasiswa adalah motor penggerak perubahan yang akan menetukan alur kemajuan yang mereka impikan. Mahasiswa adalah sebagai pengontrol setiap tindakan yang kurang tepat dari kebijakan-kebijakan penguasa. Mahasiswa yang merangkai mimpi-mimpi kebaikan. Karena hidup itu bicara kebaikan. Mahasiswa merajut kebaikan dengan peran tulusnya sebagai penggerak. Melangkah bersama. Berjuang untuk perubahan yang lebih baik. Hidup mahasiswa!

Mahfud Achyar

 

Hi, Long Time No See!

1170811_10201741514009866_1735723249_n

“I don’t have to worry anymore cause you will be by my side, when I cry you always smile at me. I am blessed because you always shine forever hugging each other before me. Your smile has helped me endless time. Thing that we have missed you know. Best friend hastily at time, that’s these plenty happiness that I felt at this faces that always moment. All friends that I have here, being looked at you the best present. I am blessed because you always be by our side. Surely things that I have accomplished here, those things too. Give me strength, always my best friend.” ~

 

Mempertanyakan Takdir

1_alephunky

Aku lahir dari seonggok tanah liat yang diambil di belakang rumah milik pengusaha keramik. Aku di jemur dan di aduk-aduk oleh tangan-tangan yang kasar. Tangan mereka begitu bau. Tapi kata mereka aku lebih bau dan hina. Aku dibiarkan tergelatak kepanasan di luar. Bukan satu jam. Juga bukan satu hari. Aku harus merasakan diriku terpanggang dan dijilati oleh panas matahari yang begitu bringas. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini.

Aku benci kepada pengusaha keramik itu yang telah membawaku dan membiarkanku kepanasan di luar. Akhirnya, orang-orang yang pernah menyiksa tubuhku kemudian menjemputku. Aku merasa senang. Mungkinkah aku akan kembali di bawa ke tempat asalku. Tapi apa yang terjadi. Aku malah dimasukkan ke dalam wadah yang hitam legam. Aku dipanggang di atas api yang berkoar-koar. Tubuh ini benar-benar hancur. Kemudian, pengusaha itu memegangku. Aku taktahu apa maksudnya. Ia seperti ingin melakukan sesuatu padaku. Ternyata benar. Ia memasukkan ke dalam sebuah cetakan. Aku benci karena mereka selalu perlakukanku dengan buruk. Tubuhku diputar-putar dan sakit sekali. Kemudian aku ditaruh di depan cermin. Aku lihat diriku di dalam cermin. Aku takpercaya dengan apa yang aku lihat. Aku begitu cantik dan tampak menawan. Aku menjadi guci yang paling indah dan yang paling menarik.

Aku lahir dengan takdir diriku sendiri.

Nasehat untuk Hati

Contemplation
Contemplation

Nasehat untuk Hati

Orang mulia menyalahkan dirinya, orang bodoh menyalahkan orang lain. Mengenal diri yang paling penting, adalah utama demi kesadaran hati. Berarti pula memahami kesalahan, serta kekeliruan masing-masing. Semakin banyak yang dipikirkan. Semakin banyak yang dibutuhkan. Berarti semakin menumpuk pula resikonya.

Semua yang ada di sekitar kita, meskipun tinggi nilainya, tidak ada artinya sama sekali. Tampaknya seakan semua gersang, jika kita terjangkit penyakit bosan. Sesuatu yang baik, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik. Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga, belum tentu bagus. Rata-rata, ternyata kesadaran itu lahirnya di ujung derita. Pedih bermula. Tetapi jika kita mampu menerimanya ternyata kita berada dalam pelukan Tuhan.

Yang kemarin, hanya ada dalam ingatan. Untuk besok, hanya kamu yang mampu dengan harapan. Yang sekarang, ini adalah yang sebenarnya. Dimana kamu harus terima, dengan penuh kesadarannya. Siapa sekarang yang tidak ingin membuka mata, besokpun akan tetap buta. Mengerti adalah syarat yang paling minimal.

Tetapi, mengerti saja apakah sudah cukup?

Anda harus ungkapkan perasaan hati Anda. Agar orang lain dapat mengetahui bahwa ia telah melukai hati Anda. Kemudian segera menyelesaikannya. Jangan menyimpannya. Berapa lamakah Anda dapat menyimpannya? Hawa kemarahan yang tertimbun dalam hati Anda dapat terbawa dari satu. kelahiran ke kelahiran berikutnya. Hingga suatu saat, jika hawa itu sangat besar, Anda bisa terlahir menjadi binatang. Jenis binatang yang sangat buas. Itu hanya disebabkan sentimen marah Anda tidak segera dihapuskan. Maka janganlah meremehkan hal ini. Itu adalah konsep pikiran yang salah. Janganlah merasa terlalu kecewa, tetapi jalanilah hidup setiap saat dengan sepenuh hati kamu. Apapun yang mesti kamu lakukan, lakukan dengan penuh ketulusan.

Benci takhilangkan kenangan yang tercipta. Benci takluluhkan hati yang mencinta. Benci hanya timbulkan rasa gundah di hati. Benci hanya hasilkan kebencian itu sendiri. Kemana akan kubawa hati ini. Hati yang penuh dengan kegundahan karena benci. Mengapa hati manusia bisa terluka. Mengapa manusia takhanya diberi bahagia. Seperti seorang Gibran pernah berkata tentang cinta. Biarkanlah dia memelukmu walaupun pedang di balik sayapnya melukaimu. Cinta takhanya memberi kebahagian. Tapi juga memberi kesedihan. Tapi kadang kesedihan yang diberikan cinta.

Adalah satu kebahagiaan seorang pecinta

Boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia teramat buruk bagimu. Dan bisa jadi kamu membenci sesuatu, tetapi sebenarnya ia baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak tahu banyak.