Pergi Selamanya


Has gone. (Source: Tumblr)
Has gone. (Source: Tumblr)

Apa kabar sahabatku? Lama nian kita takjumpa dan takbertegur sapa. Saya yakin bukan karena kebencian di antara kita. Sayapun yakin bukan karena apa-apa. Tapi rutinitas kesibukan yang tlah menjebak kita.

Satu hal sebagai bahan renungan kita. Tukmerenungkan indahnya malam pertama. Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata. Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa.

Justeru malam pertama perkawinan kita dengan Sang. Maut. Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara. Hari itu, mempelai sangat dimanjakan. Mandipun harus dimandikan. Seluruh badan kita terbuka. Takada sehelai benangpun menutupinya. Takada sedikitpun rasa malu. Seluruh badan digosok dan dibersihkan. Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan. Bahkan lubang – lubang itupun ditutupi kapas putih. Itulah sosok kita. Itulah jasad kita waktu itu.

Setelah dimandikan. Kita pun akan dipakaikan gaun cantik berwarna putih. Kain itu jarang orang memakainya. Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan Wewangian yang ditaburkan ke baju
kita. Bagian kepala, badan, dan kaki diikatkan. Tataplah, tataplah, itulah wajah kita. Keranda pelaminan. Langsung disiapkan. Pengantin bersanding sendirian.

Mempelai diarak keliling kampung bertandukan tetangga. Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul kita. Diiringi langkah gontai seluruh keluarga serta rasa haru para handai taulan gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah kudus. Akad nikahnya bacaan talkin. Berwalikan liang lahat. Saksi-saksinya nisan-nisan yang telah tiba duluan. Siraman air mawar pengantar akhir kerinduan.

Dan akhirnya tiba masa pengantin. Menunggu dan ditinggal sendirian. Tukmempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan. Malam pertama bersama kekasih. Ditemani rayap-rayap dan cacing tanah. Di kamar bertilamkan tanah. Dan ketika 7 langkah telah pergi. Kita pun akan ditanyai oleh sang Malaikat. Kita taktahu apakah akan memperoleh nikmat kubur. Ataukah kita akan memperoleh siksa kubur. Kita taktahu. Dan takseorangpun yang tahu. Tapi anehnya kita takpernah galau ketakutan. Padahal nikmat atau siksa yang akan kita terima. Kita sungkan sekali meneteskan air mata. Seolah barang berharga yang sangat mahal.

Dan Dia Kekasih itu. Menetapkanmu ke syurga. Atau melemparkan dirimu ke neraka. Tentunya kita berharap menjadi ahli syurga. Tapi, tapi sudah pantaskah sikap kita selama ini? Untuk disebut sebagai ahli syurga?

Sahabat, mohon maaf jika malam itu aku takmenemanimu. Bukan aku taksetia. Bukan aku berkhianat. Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan. Tapi percayalah aku pasti akan mendoakanmu. Karena aku sungguh menyayangimu. Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga. Aku berdoa semoga kau jadi ahli syurga. Aamiin.

Sahabat, jika ini adalah bacaan terakhirmu. Jika ini adalah renungan peringatan dari Kekasihmu Ambillah hikmahnya. Tapi jika ini adalah salahku, maafkan aku. Terlebih jika aku harus mendahuluimu. Ikhlaskan dan maafkan seluruh khilafku.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s