Menjadi Wakil Rakyat Teladan, Sejak Bangku Kuliah


Oleh: Mahfud Achyar, Universitas Padjadjaran Bandung.

sumber: google/.com

Mengutip pernyataan salah satu personil Train yang terkenal dengan hits Hey, soul sister bahwa masyarakat Indonesia memiliki selera humor yang tinggi. Entahlah, apa yang menjadi dasar sehingga ia mengatakan hal seperti itu. Namun, agaknya pernyataan tersebut memang benar adanya. Masyarakat Indonesia memang memiliki selera humor yang tinggi. Terlebih jika yang menjadi objek humor masyarakat Indonesia saat ini adalah orang-orang yang diberi kepercayaan menyuarakan aspirasi rakyat.

Maka taksalah, jika hari ini, hampir semua stasiun televisi menanyangkan kelucuan-kelucuan wakil rakyat yang tengah beratraksi di panggung politik gedung perwakilan rakyat. Ah, rasanya memang tidak bijak memukul rata bahwa semua wakil rakyat memang penuh guyonan. Namun, apa boleh buat. Toh, dalam ilmu Kajian Budaya, sikap beberapa individu dalam satu kelompok, diasumsikan mewakili sikap secara keseluruhan kelompok tersebut. Gara-gara setitik nila, rusaklah susu sebelanga. Pribahasa tersebut sempat menjadi populer di kalangan masyarakat Indonesia ketika disampaikan oleh orang nomor satu di Indonesia, yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Gara-gara kelakuan oknum yang tidak beres membuat citra wakil rakyat menjadi kian buruk di mata masyarakat Indonesia. Mungkin masih segar di benak kita saat Ketua DPR-RI, melukai perasaan rakyat karena pernyataannya kepada masyarakat yang bermukim di sepanjang bibir pantai? Atau mungkin, kita masih mengerutkan kening ketika menyaksikan ratusan anggota dewan tidak mengikuti sidang paripurna? Bahkan hingga saat ini pun kita masih mengusap dada ketika mendengar dan menonton para wakil rakyat yang terjerat kasus korupsi?

Tidak hanya sampai di situ. Masih banyak sekali kelucuan-kelucuan anggota dewan yang membuat masyarakat tertawa. Bahkan karena saking tidak kuatnya menahan tawa, pada akhirnya banyak masyarakat yang menangis. Takheran, jika kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap keberadaan wakil rakyat semakin memudar. Pasalnya, sudah terlalu sering wakil rakyat tidak menjalankan amanahnya dengan baik. Seharusnya wakil rakyat adalah duta-duta rakyat yang merasakan betul apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh rakyat.

Alih-alih menjadi duta rakyat, untuk menjadi panutan pun masih jauh dari harapan. Maka tugas terbesar dari wakil rakyat saat ini adalah bukan lagi menggodok undang-undang yang pro kepada rakyat, tapi mengambil simpati rakyat dengan menjadi teladan yang baik. Patut kita akui bahwa dewasa ini keteladanan di Indonesia sangat minim. Jika pun ada, entitasnya sangatlah sedikit. Maka sudah sepatutnya wakil rakyat menyuguhi keteladanan, bukan lagi guyonan yang membuat masyarakat geleng-geleng kepala.

Sulit memang untuk menciptakan keteladanan dalam kondisi kompleks seperti yang dialami oleh para wakil rakyat. Solusi yang bisa ditawarkan adalah mempersiapkan keteladanan tersebut sejak bangku kuliah. Mengapa bangku kuliah? Karena jenjang pendidikan tinggi merupakan gerbang kaderisasi wakil rakyat di masa depan. Bermula di bangku kuliah-lah, karakter dan kepemimpinan itu terbentuk. Lagi-lagi kita harus dikatakan bahwa hanya pemudalah satu-satunya harapan untuk memperbaiki bangsa ini. Mereka, yang merupakan entitas masyarakat akademis ditempa dalam miniatur negara yang di sebut kampus.

Di kampus sendiri, mahasiswa bisa belajar bernegara. Hal sederhana dapat kita pantau dari student government yang berlaku hampir di setiap kampus. Dalam dunia kemahasiswaan, kita mengenal lembaga kemahasiswaaan yang bergerak di bidang eksekutif yang disebut BEM, dan lembaga kemahasiswaan yang bergarak di bidang legislatif yang dikenal dengan BPM. Bahkan, ada kampus-kampus yang memiliki lembaga seperti Badan Audit Kemahasiswaan (BPK seperti di Indonesia) dan lembaga peradilan seperti Mahkamah Mahasiswa (MM).

Bagi mahasiswa yang bergerak di bidang legislatif, maka berikanlah performa terbaik. Seperti tidak telat pada sidang pleno, menguasai perundang-undangan, dan menyerap aspirasi untuk disampaikan kepada pos yang tepat, dan menjadi teladan bagi mahasiswa lainnya.

Ya, saat ini bangsa Indonesia menunggu sosok pemimpin seperti apa yang dikatakan pemerhati pendidikan, Anies Baswedan,

Indonesia butuh pemuda yang world class competent, but knowing grass root

. Mudah-mudahan suatu saat keteladanan wakil rakyat itu bukan lagi isapan jempol belaka, namun suatu keniscayaan. Kita tunggu saja.

About these ads

6 thoughts on “Menjadi Wakil Rakyat Teladan, Sejak Bangku Kuliah

  1. paling tidak, selesaikanlah amanah itu jika ingin menjadi seorang yang diteladani.. meski tak dipilih secara langsung oleh mahasiswa, namun bukan berarti beban itu tidak ada bukan?

    • upsss.. hehe, siaapp bos :)
      tapi walopun sy ngundurin diri bulan oktober, tapi ampe kongres sy masih bantuin kok..
      walo ga tidak terdaftar secara struktural, tapi insyaAllah tetep kontributif.. haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s