Novelisasi: Akeelah and The Bee

Posted on Updated on


akeelah_wall_1_1280

“Kekuatan Cinta Mengalahkan Ketakutan dalam Diri”
Film dan novel “Akeelah and the Bee” bercerita tentang seorang anak perempuan berumur 11 tahun, yang bernama Akeelah Anderson. Ia adalah gadis berkulit hitam yang tinggal di Los Angeles, Amerika. Film ini berkisah tentang perlombaan yang bergengsi di Amerika, yaitu spelling bee (lomba mengeja). Bagi anak-anak di Amerika, menjadi salah satu peserta lomba mengeja adalah hal yang membangggakan. Pasalnya tidak semua anak di Amerika bisa mengikuti lomba ini. Butuh tahap-tahap menuju lomba mengeja tingkat nasional. Mulai dari seleksi di sekolah masing-masing, tingkat regional, dan baru bisa mengikuti lomba di tingkat nasional.

Seberapa banyak kata dalam bahasa Inggris yang bisa kamu eja dengan baik? Dalam perlombaan Spelling bee, peserta diminta mengeja kata-kata yang sulit, dan jarang diketahui banyak orang. Misalnya xylem, psychologies, dan sebagainya. Kata-kata tersebut tidak hanya berasal dari akarnya yaitu Inggris. Melainkan banyak kata yang berasal dari bahasa Latin, Yunani, dan lainnya.

Akeelah bisa dikatakan sebagai seorang anak kulit hitam yang cerdas. Ia merupakan siswa yang cerdas di sekolahnya. Walaupun sekolah tersebut bukanlah sekolah favorit, tetapi Akeelah mampu tumbuh menjadi siswa yang pintar terutama dalam mata pelajaran bahasa Inggris. Melihat kepintaran Akeelah, seorang gurunya meminta Akeelah untuk ikut lomba mengeja. Awalnya, Akeelah menolak permintaan dari gurunya. Alasannya karena ia menilai tidak mampu untuk ikut lomba berkelas seperti itu. Dalam kutipan dialog filmnya, Akeelah menyatakan bahwa ia bisa kencing berdiri kalau ditonton banyak orang. Akan tetapi, sejak ia melihat acara lomba tersebut di tv, ia tertarik dan memiliki keyakinan untuk ikut lomba mengeja.

Inspirator utama Akeelah adalah papanya. Setiap kali ia memiliki masalah, maka ia akan memandang wajah papanya, dan ia merasa tenang. Seorang gurunya memperkenalkan Akeelah dengan seorang pelatih mengeja yang bernama Dr. Joshua Larabee. Akeelah berlatih dengan baik, dan pada akhirnya ia bisa lolos mewakili sekolahnya untuk ikut lomba mengeja tingkat regional.

Ketika Akeelah mengikuti lomba mengeja tingkat regional, ia nyaris tidak bisa lolos ke babak selanjutnya lantaran tidak bisa mengeja satu kata. Akan tetapi, keberuntungan ternyata berpihak kepada Akeelah. Salah satu peserta didiskualifikasi karena ketahuan curang.

Menuju lomba mengeja tingkat nasional tidaklah mudah. Banyak sekali hambatan yang harus dihadapi Akeelah. Ibunya tidak mengizinkan Akeelah ikut lomba ini karena Akeelah harus menyelesaikan ketertinggalan pelajaran pada musim panas. Sempat Akeelah menyerah, dan putus asa.

Ketakutan terdalam kita adalah bukan karena kita tidak cakap. Kekuatan kita dalam mengukur. Kita bertanya pada diri kita sendiri siapa aku sehingga aku cerdas, hebat, berbakat, dan menakjubkan? Sebenarnya, siapa sebenarnya dirimu? Kita dilahirkan untuk membuat manifestasi. Kemuliaan Tuhan dalam diri kita. Dan begitu kita biarkan cahaya menyala, kita tanpa sadar berikan orang lain kesempatan untuk lakukan hal yang sama. Ketakutan itu ada dalam diri kita sendiri. Rangkaian kata yang ditunjukkan Dr. Larabee mampu membuat Akeelah yakin dengan kemampuan yang ia miliki. Sekarang, ia yakin bisa memenangi lomba mengeja di tingkat nasional.

Akeelah berlatih sungguh-sungguh dengan Dr. Larabee. Bahkan, ia berlatih dengan grup mengeja di sekolah Javier yang jauh dari sekolahnya. Ia bertemu dengan teman-teman Javier, dan bertemu dengan Dyland Chiu. Dyland adalah seorang anak keturunan Korea yang memiliki otak yang cerdas. Ia menjadi juara kedua pada lomba mengeja di tingkat nasional pada tahun lalu.

Perlombaan mengeja tingkat nasional sebentar lagi. Akan tetapi, Dr. Larabee tidak bisa jadi lagi menjadi pembimbing Akeelah. Dr. Larebee meminta Akeelah menghapal 5000 kata. Akeelah belajar mengeja dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Ketika perlombaan nasional berlangsung, Akeelah harus menyisihkan Dylan sebagai peserta tangguh yang menjadi juara kedua pada tahun lalu. Konflik mulai memuncak ketika Akeelah mengetahui bahwa Dyland sering ditekan oleh papanya agar bisa menjadi juara pada lomba mengeja tahun ini. Suasana semakin menegang. Pada akhirnya, Akeelah dan Dylan menjadi juara satu lomba mengeja tingkat nasional.

Ada kata-kata yang sangat menginspirasi saya dalam novel ini. Kata-kata ini diucapkan Akeelah di akhir cerita. “Kau tahu perasaan dimana semuanya berjalan dengan baik? Dimana kau tidak perlu kuatir dengan hari esok, atau kemarin. Tapi kau merasa aman dan tahu. Kau melakukan yang terbaik kau bisa? Ada kata untuk perasaan itu. Kata itu disebut L-O-V-E.

Dalam novel dan film Akeelah and The Bee banyak sekali pesan yang sangat inspiratif. Ketakutan yang terbesar itu ada dalam hidup kita adalah diri kita sendir. Menurut saya, novel dan film ini sangat inspiratif. Mengajarkan kita pentingnya keyakinan dalam diri kita, bahwa kita mampu melakukan yang terbaik dalam hidup kita. Lingkungan kita, dan semua orang yang ada di dekat kita bisa menjadi motivator untuk kita. Jadi? Jangan takut melakukan hal yang terbaik.
“Akeelah and The Bee adalah suatu karya yang dialih wahanakan dari film ke novel. Alih wahana tersebut disebut dengan novelisasi. Jika saya bandingkan, terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan antara film dan novel Akeelah and The Bee.

Jika saya bandingkan, film Akeelah and The Bee lebih bagus dibandingkan novelnya. Alasannya karena dalam film ini secara jelas kita bisa melihat kejadian yang utuh dalam kisah Akeelah. Baik itu karakter tokoh, alur cerita, dan pesan yang ingin disampaikan penulis naskah. Saya (sebagai penonton) bisa memahami konflik yang terjadi dalam filmnya, dan bisa merasakan kesenangan, kegembiraan, kesedihan, dan kebahagiaan yang dialami oleh Akeelah. Sedangkan pada novelnya, saya kurang bisa memvisulisasikan dengan jelas setiap rangkaian cerita yang dialami Akeelah. Tetapi kelebihannya, dalam novel Akeelah and The Bee alur cerita dijelaskan secara mendetail. Tapi tak jarang, dalam novelnya, diselipkan potongan-potongan foto dalam film.

Setidaknya, ada kelebihan dan kekurangan yang ada di novel dan film Akeela and The Bee Tapi yang jelas, kedua karya tersebut sangat inspiratif untuk kita (pembaca dan penonton).

About these ads

17 thoughts on “Novelisasi: Akeelah and The Bee

    galuh said:
    April 17, 2010 at 8:56 am

    foto baru dylan keluarin dundz tyuzz….
    kapan nuy ke indonesia uda di tunggu nuy….
    jangan lupa yaw ke jogja ….
    seee youu….

    talia said:
    October 9, 2010 at 2:13 pm

    sejak di sekolah di putarin film nya akeelah and the bee
    aku jadi suka ,,,, ngefans sama semua pemeran di dalam filmnya
    I LIKE IT
    I LOVE AKEELAH AND THE BEE

      achyar89 responded:
      October 16, 2010 at 3:46 am

      and so do i

    chrisna said:
    February 4, 2011 at 4:10 am

    waiting for this….

    Vania said:
    February 8, 2011 at 10:13 am

    Film Akeela and th be bener-bener kern…
    Bermanfaat sebagai motivator..
    Go on to motivate the World…
    God Bless

    devi said:
    May 29, 2011 at 4:09 am

    sejak di sekolah di putarin flim akeelah aku mulai suka sama akeelah …
    tapi sayang kasetnya udah agak rusak …
    kalu boleh tau di mana ya jual kaset akeelah and the bee ???
    aku fans banget lho…

      achyar89 responded:
      June 2, 2011 at 4:41 am

      saya juga dapetnya dr temen.. cari di youtube.. mudah2an ada :)

    Alfian Rokhmansyah said:
    October 2, 2011 at 3:26 pm

    Perbedaan yang terjadi antara film dan novel memang suatu kesengajaan yang dilakukan oleh penulis. Hal ini memang sudah menjadi sebuah ‘tradisi’ yang sering dilakukan. Umumnya proses ini sangat terlihat jelas pada alih wahana dari novel ke film, yang akan menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Misalnya saja pada novel dan film Ayat-ayat Cinta dan Perempuan Berkalung Sorban. Di sana terlihat sekali perbedaan yang menonjol pada kedua jenis karya tersebut.

    Memang ada baiknya kita membaca novelnya terlebih dahulu sebelum melihat filmnya pada alih wahana novel ke film, atau melihat filmnya dahulu baru dilanjutkan dengan membaca novelnya pada alih wahana film ke novel. Nanti akan terasa perbedaan yang mencolok pada keduanya.

    salam.

      achyar89 responded:
      October 6, 2011 at 7:03 am

      sepakat :)

    fao said:
    October 9, 2011 at 1:27 am

    permisi mau nanya ni ma siapa aja yang bisa bantu, sy mau menganalisa film ini karena saya jurusan sastra inggris smster akhir, kira2 teori apa yang tepat jika saya mau menganalisa dari sisi linguistik nya yah,,,mohon gambaran n bantuannya, terimakasih,

    reena said:
    October 19, 2011 at 2:38 pm

    did u know where i can find the original one? the english one.thank you

      achyar89 responded:
      October 28, 2011 at 10:12 am

      no i dont.. i’m sorry yaaaa…

    alfian said:
    October 28, 2011 at 10:36 am

    sebentar … aku baca ulang kok judulnya aneh ya… bukakah ekranisasi itu alih wahana dari novel ke film. kan ini film dulu baru novel kan?

      achyar89 responded:
      November 14, 2011 at 8:41 am

      terima kasih koreksinya :)

    Cheryl said:
    January 27, 2012 at 9:59 am

    film ini bagus bgt,bs jadi inspirasi………………. apalagi,… ada Dylan Chiu yg gantengnya luar biasaaaaaa ^_^,film ni makin kusuka deh!!

      achyar89 responded:
      February 3, 2012 at 2:59 pm

      iya, sy juga suka film ini.. hehe.. :)

        pucux said:
        November 19, 2012 at 2:24 pm

        Go fight win,.,
        Seperti halnya ulat yang susah payah untuk mendapatkan pucuk daun.,.
        Hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s