Folklor dan Kearifan Bangsa


LATAR BELAKANG

Folklor adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri khas yang unik sehingga dapat dibedakan dengan kelompok lainnya. Folklor diwariskan secara turun-temurun secara lisan dengan isyarat. Setidaknya, demikianlah pengertian sempit mengenai folklor.

Indonesia adalah negara kepulauan yang tersebar dari sabang sampai meureuke. Pantaslah bahwa Indonesia merasa begitu bangga dengan kekayaan yang ia miliki. Indonesia memiliki banyak suku, bahasa dan budaya. Kebanggan itu terangkai dalam lirik-lirik lagu yang sering dikumandangkan dibangku sekolah. Indonesia memiliki lambang negara burung garuda. Garuda merupakan kegagahan dan kewibawaan bangsa Indonesia dimata dunia. Semboyan yang berbunyi “Bhineka Tunggal Ika”, merupakan pemersatu dari keberagaman yang dimiliki Indonesia.

“Kebudayaan Indonesia adalah satu kondisi mejemuk karena ia bermodalkan berbagai kebudayaan lingkungan wilayah yang berkembang menurut tuntutan sejarahnya sendiri-sendiri. Pengalaman serta kemampuan wilayah-wilayah itu memberikan bentuk, shape, dari kebudayaan itu. Juga proses sosialisasi yang kemudian dikembangkan dalam kerangka masing-masing kultur itu memberi warna kepada kepribadian yang muncul dari lingkungan budaya itu.” (Umar Kayam: “Seni, Tradisi, Masyarakat”; 16)

Kekayaan budaya membuat Indonesia memiliki begitu banyak daya tarik. Daya tarik tersebut harus diperkenalkan sehingga tiap daerah bisa saling berinteraksi dan sama-sama merasa bangga. Kebanggaan tersebut tertuang pada peringatan hari-hari kebesaran seperti Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Kemerdekaan. sehingga kita bisa mengenal tari Saman dari Aceh, dari Kecak dari Bali, budaya Tana Toraja, Upacara Ngaben di Bali, Angklung di Jabar, peninggalan candi Borobudur dan peninggalan budaya lainnya.

Indonesia memang dikenal sebagai negara yang kaya akan kebudayaan. Sepertinya, kebudayaan adalah sesuatu yang tak bisa dipisahkan lagi dari bangsa ini. Kebudayaan hadir sebagai salah satu identitas bangsa. Bangsa yang memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri.

Jika kita bicara masalah folklor, maka tidak akan pernah habisnya. Indonesia memiliki banyak sekali folklor yang telah berkembang dari dulu hingga sekarang. Mulai dari upacara adat, perkawinan, legenda, cerita adat, hantu, dan makanan khas di masing-masing daerah. Tentunya, semua folklor yang berkembang membuat Indonesia menjadi bangsa yang arif dan berbeda dengan bangsa lainnya. Sekarang yang jadi pertanyaan adalah masihkah Indonesia bangga dengan kebudayaan dan adat istiadatnya? Jika masih, lalu upaya apa yang telah dilakukan untuk membuktikannya? Mungkinkah, warisan masa lampau hanya menjadi kenangan? Mungkinkah kita akan melihat kehancuran kebudayaan bangsa kita sendiri?

BAB II

ISI

Folklor merupakan kebudayaan turun temurun yang membedakan suatu kelompok dengan kelompok lainnya. Itu artinya, setiap daerah di Indonesia memiliki folklor yang berbeda. Mulai dari Aceh hingga Papua. Lalu, folklor seperti apa yang membedakan di masing-masing daerah? Folklor yang membedakan, misalnya ritual keagamaan, makanan, pakaian adat, legenda, mitos/mistis, dan seni musik. Sebagai contoh, di Sumatera Barat, tentunya upacara adat seperti perkawinan berbeda dengan daerah Papua. Jika di Minang, kedua pengantin mengenakan pakaian adat yang tertutup, sedangkan di Papua mengenakan pakaian yang sedikit terbuka. Itulah salah satu perbedaanya.

Pada kesempatan kali ini, saya akan mengupas mengenai folklor di daerah Minang Kabau yang bisa dijadikan khazanah nusantara yang akan menambah kearifan bangsa Indonesia. Minang Kabau, merupakan salah satu suku di Indonesia yang memiliki jumlah yang banyak. Bahkan, orang Minang Kabau tersebar di penjuru negeri ini. Pun begitu, folklor Sumatera Barat terus berkembang. Misalnya Legenda Malin Kundang, tari-tarian, makanan, dan upacara adat lainnya. Saya tidak akan membahas semua jenis folklor yang ada di Minang Kabau. Cukup satu folklor saja yang dibahas, yaitu tentang makanan di Minang Kabau. Siapapun pasti sudah mengenal makanan Padang. Bila kebetulan Anda berada ke Kota Pariaman, Sumatera Barat, pada bulan puasa ini, mampirlah ke Pantai Gandoriah di pinggir kota. Di sana saban sore sudah berjejer penjual sala lauak atau sala ikan khas masakan Pariaman.

Sala lauak Pariaman sudah lama terkenal. Tidak lengkap rasanya jika Anda berkunjung ke kawasan ini tidak mencicipi sala lauak dan membawanya untuk penganan dibawa pulang. Sementara pada hari biasa, sala lauak dimakan di tepi pantai di bawah rindangnya pohon pinus, pada bulan ini banyak yang membelinya untuk teman makan nasi saat berbuka.

Sala lauak berbahan ikan atau cumi-cumi tangkapan nelayan setempat yang masih segar. Kemudian dibalut adonan tepung beras yang diberi bumbu dan akhirnya digoreng.

Rasanya? Gurih dan ditambah dengan lembutnya daging ikan atau cumi di dalamnya pastinya menambah selera berbuka. Bumbu sala adalah tepung beras, asam, kunyit, garam, dan jeruk nipis, yang dijadikan adonan yang dibalurkan ke ikan dan cumi-cumi lalu langsung digoreng.

Pemilik Nasi Sek Pondok Salero di pantai Pariaman, Hasnierti Jamal, 45 tahun, memiliki kiat tersendiri dalam membuat sala. Setelah subuh ia membeli ikan dan cumi-cumi hingga satu baskom kepada nelayan di sekitar pantai. Ikan dan cumi yang segar akan membuat sala lebih gurih.

Sala ini biasanya dimakan dengan nasi hangat, anyang sayuran (sayuran yang direbus dan diberi parutan kelapa), dan sambal lado tomat. Sala lebih enak jika dimakan agak panas. Harga sepiring sala lauak nan gurih yang berisi lima potong ternyata hanya Rp 5.000.

Tak cuma sebagai teman menu berat, ada juga sala yang untuk kudapan. Namanya sala bulek atau sala bulat. Sala yang satu ini terbuat dari tepung beras yang dibaluri bumbu sala dan ditambah ikan teri yang dipotong kecil-kecil, lalu disiram air menggelegak sehingga adonan seperti bubur nasi yang kental. Lalu ia dibulatkan dan digoreng. Ini juga penganan populer di Pariaman.

Sumatera Barat dikenal sebagai daerah memiliki ragam makanan tradisional. Sebut saja, rendang, katupek gulai paku, sate padang, dendeng, gulai cubadak dan masih banyak yang lainnya. Makanan tradisional di Padang terkenal sudah sejak dulu. Makanan Padang memiliki racikan bumbu yang khas. Biasanya sarat akan lemak, berminyak dan bersantan. Racikan bumbu makanan padang saat ini, tentunya merupakan warisan leluhur yang harus dijaga, dilestarikan dan dikembangkan. Ternyata, makanan padang tak hanya dikenal sebagai salah satu makanan lokal. Makanan padang telah merambah di seluruh penjuru tanah air. Banyak orang telah mengenal makanan padang dan suka dengan masakan padang. Sebagai bukti, di setiap daerah, kita bisa melihat rumah makan padang berjejer. Selang beberapa meter saja, pasti kita akan menemukan rumah makan padang. Pesatnya perkembangan rumah makan padang mungkin juga dilatar belakangi oleh karakter orang padang yang suka merantau. Menurut falsafahnya, orang minang, sangat gemar merantau. Apalagi yang telah menginjak usia belasan tahun. Alasannya untuk mencari kehidupan yang lebih baik dibandingkan di kampung. Sepertinya fenomena ini cukup menarik untuk diteliti. Mungkinkah kebiasaan merantau orang Padang termasuk folklor di Minang?

Saat ini, sekitar tahun 2007, masakan padang diklaim oleh Malaysia sebagai makanan asli negaranya. Sebut saja rendang. Tentunya, kita sebagai bangsa Indonesia geram dengan pernyataan orang Malaysia tersebut. Bagaimana tidak, sudah jelas bahwa rendang adalah makanan asli padang. Menurut sejarahpun, orang Minang dikenal sebagai orang yang mahir dalam urusan masakan. Tidak hanya itu, menurut yang saya baca di buku Kebudayaan Alam Minang Kabau, orang Minang tersebar sampai ke negeri Jiran Malaysia. Seperti Selat Malaka, Johor dan Kuala Lumpur. Menurut saya, mungkin saja orang Malaysia mengklaim karena rendang telah ada sejak lama.

Fenomena pengklaiman rendang sebagai makanan Malaysia sungguh membuat kita geram. Mungkinkah karena kita, bangsa Indonesia memang bodoh karena tidak menjaga aset budaya lokal? Padahal, makanan termasuk folklor yang merupakan penentu kearifan suatu bangsa. Makananpun bisa membuat bangsa Indonesia bermartabat di mata dunia internasional. Di daratan Eropa, Asia, Afrika dan Amerika, makanan kita (khususnya padang) telah menjadi santapan yang berkelas. Disamping harga yang murah, rasanya juga tidak kalah enak dibandingkan dengan makanan oriental dan kontinental.

Tak heran jika saat ini, banyak bangsa-bangsa rebutan mengklaim makanan tradisinal kita. Lalu, benarkah folklor membuat Indonesia arif di mata dunia? Jawaban tentu saja ia. Budaya lahir dari cipta, karya, karsa manusia. Apalagi Indonesia yang memang dikenal sebagai negara yang memiliki ragam budaya. Budaya lokal yang tersebar akan menjadi identitas bangsa. Budaya seperti folklor membuat bangsa lain akan iri kepada kita, Indonesia. Sekarang yang jadi pertanyaan adalah apakah kita bangga dengan folklor yang kita miliki? Jika bangga, sejauh mana kita mengekspresikan kebanggan itu? Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah ada upaya kita untuk memlestarikan, mempublikasikan folklor?

Menurut hemat saya, Indonesia belum sepenuhnya mencintai budayanya sendiri. Terbukti, tak banyak orang concern terhadap bidang budaya. Ditambah lagi dengan sikap pemerintah yang tak terlalu memikirkan masalah folklor. Padahal budaya kita banyak dan unik, tapi dibiarkan begitu saja. Mungkinkan kedepannya, kita tidak memiliki itu semua lagi? Mungkin saja semua kebudayaan kita diklaim bangsa lain. Lalu, siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab? Kita semua, bangsa Indonesia harus bertanggung jawab akan hal pelestarian dan pengembangan kebudayaan kita. Jika bukan kita, siapa lagi? Sudah jelas, kalau folklor sangat bermanfaat untuk umat manusia dan membuat suatu bangsa arif di mata dunia. Sekarang, lakukanlah apa yang kita bisa. Jangan menunggu waktu.

BAB III

PENUTUP

Dulu, sebelum teknologi berkembang seperti sekarang, kita mengenal budaya daerah melalui mata pelajaran sejarah yang diajarkan di SD melalui ilustrasi foto. Sekarang, kita bisa menyaksikan seni budaya melalui film, bioskop dan alat teknologi lainnya.

Kebudayaan daerah, merupakan inspirasi seniman yang diekspresiakan melalui beragam media sebagai wujud sebuah karya kreatif. Pada zaman orde baru, kita sering melihat film yang mengangkat kultur daerah masing-masing provinsi. Diantaranya: film “Musang Berjanggut (Sumatera Utara), “Nuansa Birunya Rinjani” (Lombok), “Si Kabayan” (Jabar), “Jeram Cinta” (Kalimantan Timur), dan lainnya. Film-film tersebut sangat menonjolkan ciri khas dari masing daerah melalui kostum, bentuk rumah, dialek dan kesenian. Karya-karya tersebut lahir karena kecintaan seniman kepada budaya daerah yang ada di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Hood Jr., et. al. 1996. The Culture Region: An Empirical Approach, Second Edition. New York: The Guilford Press.

www.google.com (online). 2008 “Kebudayaan Indonesia”. Jakarta

3 thoughts on “Folklor dan Kearifan Bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s